Menjadi Biasa Itu Gampang, Menjadi Berbeda Itu Menyenangkan

Tulisan ini adalah penyempurnaan status saya tempo hari ketika menanggapi sebuah curhatan seorang kawan tentang Guru yang juga pendongeng.

Sekilas informasi saja, kawanku ini memang seorang guru honorer di SD di Bojonegoro. Dan dia memiliki hobi mendongeng, bahkan dia memiliki boneka pribadi, namanya Dido. yang diperlakukannya dengan penuh kasih sayang.
 
Kemudian di statusnya itu dia menjelaskan bahwa dia memang guru, dan mendongeng adalah pasionnya. Sebab banyak pertanyaan yang ditujukan padanya, apakah dia mau jadi Guru atau menjadi pendongeng?






Mau jadi guru atau pendongeng? Lah kenapa gak bisa berjalan keduanya. Bukannya guru itu kerjaannya ngedongengi muridnya? Memang keduanya tidak boleh dilakoni bersamaan? 

Kenapa harus mempersempit arti guru sih. Apa iya guru itu hanya pengajar yang berada di dalam kelas dan mengurus administrasi yang buanyaaak itu. Apakah guru tidak boleh menjadi pendongeng, Petani, penulis, atau bahkan pemilik Corporate?

Aku kok jadi inget sebuah cerpen karya Putu Wijaya berjudul GURU tentang seorang anak yang cita -citanya menjadi guru. Tetapi ditentang oleh orang tuanya. Karena orang tuanya pemilik sebuah perusahaan besar. Dan kenapa anaknya hanya ingin jadi guru? Menurut orang tuanya, hal itu menyia nyiakan bakat sang anak. Sang anak akan lebih besar dan sukses ketika menjadi pengacara atau profesi lain yang prestisius. Dan itu bukanlah seorang 'GURU '.
Dan akhirnya sang anak tetap mewujudkan cita-cita nya menjadi seorang guru. Seorang guru yang besar, dan tidak hanya di dalam kelas. Dia memiliki perusahaan besar, dan dia merupakan guru bagi 10ribu pegawainya.

Atau inget film 3 idiot?
Rancho yang dibintangi oleh Amir Khan itu menjadi seorang guru. Bukan mengajar a itu apel atau b itu bola. Tetapi ilmu yang jauh lebih luas dari itu. Sebab rancho adalah seorang ilmuwan yang memiliki banyak hak paten. Tetapi kesehariannya bermain dengan anak anak.
Nah, kenapa kita harus selalu mempersempit makna profesi sih? Oh ayolah kita hidup dengan riang gembira dengan melakukan apapun yang kita suka.
Tidak harus menjadi mahir, tetapi paling nggak, kamu tau bagaimana melakukannya. Dan itu bisa menjadi cerita untuk anak anak kita. Bahwa kita melakukan hal yang lebih baik. tidak dibandingkan dengan orang lain, tetapi dengan diri kita sendiri di masa lalu.

Mungkin saja kau sendiri yang membatasi kemampuanmu sendiri!
Aku bukan orang yang suka menjadi pusat perhatian. Aku lebih baik diam melihat dari kejauhan. Aku lebih suka mendengar daripada bicara di depan umum. Aku demam panggung. Aku tidak bisa traveling jauh karena aku nggak punya uang banyak dan waktu. Aku ini cuma anak rumahan. Aku cuma dan cuma.... 

Dan well, semua memang selalu ada alasan untuk menolak perubahan kan? Dan alasan itu banyak macamnya. 

Sebenarnya kamu bisa. Hanya enggan atau malas untuk melakukannya. Dan itulah yang membatasi kemampuanmu berkembang. Hanya bisa iri dengan orang lain. Duh Gusti, gak capek?

Sekali-kali jadilah penggiring bola, dan bukan hanya penonton saja. Hidup itu yang jalani kamu sendiri. Maka lakukan sebaik dan semaksimal mungkin. Aku pun masih belajar untuk itu. 

Dan stop iri dengan keberhasilan orang lain!
Kenapa harus membandingkan dengan orang lain sih? Sibuk nyinyir? Ah kamu hanya tidak tau bagaimana mereka berjuang. Tetapi kamu tau perjuangan dirimu sendiri. Karena itu belajar mengembangkan diri lagi. Eksplore yang kita bisa. Syukur syukur bisa menginspirasi orang lain. Kalau tidak, minimal kamu senanglah melakukannya.

Menjadi orang biasa itu gampang. Tetapi menjadi berbeda itu menyenangkan.

Comments

  1. We are growing up to be different person each time, Ver. Berbahagialah telah bertumbuh menjadi seseorang yang "limited edition" hahaaa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mbak, tiap hari kita tumbuh dengan berbeda. Bangga jadi orang limited edition? wkwkwkw.. ada -ada aja mbak

      Delete
  2. Suka dengan kata-kata jadilah penggiring bola dan jangan jadi penonton, karena hidup harus berani action ya mbk.

    Mungkin sebagian orang punya keahlian tapi lebih suka memendamnya, sebenarnya bisa dikembangkan dan jadi hal yang luar biasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget, kalau gak pernah mau mencoba. gimana tau hasilnya? hehehe

      Delete
  3. Intinya nggak boleh iri sama keberhasilan orang lain.
    Aku juga kadang jengkel sama orang yg sempit banget pemikirannya mengenai seorang guru, hadewww
    Tiap orang harus punya keunikan sendiri biar tampil beda, apapun profesinya dan nggak boleh nyinyir, itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mbak... Guru itu maknanya luas banget. Dan beruntung banget ketika guru bisa memiliki keahlian lain selain mengajar di kelas. Itu bisa jadi pengalaman menarik bagi muridnya.

      Delete
  4. Bagi aku, guru itu adalah orang yang memberi inspirasi dan ilmu. Kalo artinya sempit mungkin ada tambahan, 'orang yang memberi inspirasi dan ilmu di dalam kelas'.

    Tanggapan aneh yang datang itu bisa jadi karena mereka kurang piknik. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, mereka hanya melihat dari satu sisi. Yah dan melupakan sisi lainnya.. hehehe...

      Delete
  5. Jadi guru itu bukan cuma yg mengajar di sekolah kan ya? Menurut saya guru juga gak harus mengajar di sekolah, bisa memotivasi orang pun sudah saya sebut guru. Intinya guru itu bisa memberikan pelajaran yang berharga buat orang yg diajarnya. Kehidupan pun bisa jadi guru, kita belajar dari pengalaman hidup, belajar untuk gak mengulangi kesalahan yg sama. Jadi pada dasarnya apapun bisa jadi guru, karena segala yg terjadi pasti ada hikmahnya & bisa dijadikan pelajaran

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget. Guru adalah sesuatu yang mengetahui lebih dari kita, dan tentu saja membagikan ilmunya.
      Kita bisa jadi guru untuk adik-adik kita.. :)

      Delete
  6. membaca judul tulisan ini terigat apa yang diucapkan berulang ulang oleh salah satu penulis kesukaan: Iwan Setiawan "Be average is boring ..."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener banget. Be average is boring. so be diferent :D

      Delete
  7. Yuhuuuuu. Menjadi berbeda itu menyenangkan (dan membanggakan). Terima kasih sudah menulis tentang hal ini. Ada beberapa hal yang kupelajari mengenai 'berbeda'. hhehe

    ReplyDelete
  8. Selain menyenangkan, membuat diri ini juga istimewa. Tak perlu iri gitu harusnya. Berfikir positif, orang lain bisa tentu kita juga bisa. Yang penting berusaha dan berdoa. Soal suksesnya tunggu aja, semua ada prosesnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, kita semua adalah istimewa. Sesuai dengan porsi masing-masing. :)

      Delete
  9. Guru itu sebuah pendongeng? Wah, sebuah filosofi yg menarik.

    Saya juga seorang guru, dan filosofi saya :
    "Mengajar itu adalah sebuah panggung pementasan, di mana kita memerankan versi terbaik diri kita sendiri"

    Maksudnya adalah...murid-murid tidak hanya belajar dari materi yang kita jelaskan, melainkan mereka juga belajar dari setiap sikap dan tutur kata kita. Kalau mau menjadi seorang guru yang baik, selain menguasai materi, kita juga harus mampu memberi teladan melalui tindakan-tindakan nyata di dalam hidup kita sendiri. Karena itu, sebagai seorang guru, kita tidak boleh berhenti belajar dan memperbaiki diri. Karena menjadi guru itu bukan hanya sebuah profesi, itu sebuah jalan hidup. Mengajar itu bukan hanya sebuah tanggung jawab, melainkan sebuah filosofi hidup.

    ReplyDelete
  10. Yosh. Kalimat terakhirnya "minimal kamu senang melakukannya" itulah yang paling penting. Semua akan terasa terbebani kalau kita melakukannya tidak merasa senang sekalipun hasilnya besar. Jadi, tetap konsisten raih apa yang kita mau, walaupun banyak yang bilang ini itu sekalipun itu orang tua kita, jika sudah cocok dan yakin terus maju aja sambil pelan" kita menjelaskan ke pada ortu agar diberi dukungan di bidang yang kita inginkan. Karena dukungan dan do'a restu mereka lah yang sangat membantu keberhasilan kita nanti.

    ReplyDelete

Post a Comment

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.

Popular posts from this blog

Ini Soal Resepsi Pernikahan

Lima Wishlist Di Tahun Dua Nol Satu Tujuh