Imaji Atau Realitas

Satu hari sebelum Miu ulang tahun...
Aku terpaku pada sebuah cerita yang terpampang jelas di masa lalu. 

Beberapa waktu lalu, kakakku bertaruh aku akan mengubah keputusanku. Tentang jarak yang terbentang, tentang kisah yang tak tuntas, tentang sekilas percikapan api yang akan padam seiring waktu. Aku menyangkalnya habis-habisan. Aku bisa melakukan hal yang lebih baik dari teori konyol tersebut. Dunia sudah berubah kan?


Namun pada satu hari sebelum Miu ulang tahun, kali ini aku diam, merenungkan kembali apa yang sudah saya tekadi sejak semula. Sejak cerita itu dimulai ditulis. Aku bisa menyelesaikannya dengan baik. Aku pasti bisa. tetapi jarak mengubah segalanya.

Bukan tentang jarak yang di depan mata saja, tetapi jarak antara kisah masa lalu dan sekarang. Aku masih bertanya-tanya sedalam itukah?

Dan aku masih terpana, bahwa asumsi tentang peri itu terbang ke negara tetangga benar adanya. Tentang karakter peri yang menempel di pundakku. Itukah yang dilihat? Aku bergeming merenung segalanya.

Imaji tentang pindah ke wilayah baru itu membuatku bersemangat untuk menulis cerita ini dimulai dan dakhiri. Dengan pindah, maka segala karakter yang aku buat akan sempurna. Sebab cerita tentang keanekaragaman manusia akan berada di bawah genggamanku. Keindahan pemandangan alam juga akan mengisi kantong otakku yang kosong. Menggantikan cerita fiktif drama korea. Begitulah pendapatku.

Hidup itu pasti tidak akan mudah. Aku dengan segala keterbatasan pemikiran, pasti tidak akan sanggup menyamai kecerdasan dan kesungguhannya. Tetapi aku bisa melewatinya. Tapi lagi-lagi aku berharap pada harapan palsu. Fyuh, sudah bosan aku.

Maka, keputusanku adalah bergantung pada realitas saja. Aku sudah lelah bermain dengan imaji yang menjanjikan. Hidupku seharusnya lebih baik tanpa imaji. Nyatanya hampir seluruh hidupku adalah tentang ceirta fiktif di dalam kepala. Cerita mimpi yang entah kapan terwujudnya. Tetapi perlahan-lahan terwujud. Aku terhenyak. Siapa aku?

Dunia ini memang tentang mimpi kan?
Barangkali orang-orang hanya sibuk dengan dirinya sendiri dan melupakan bagian luar dirinya. Barangkali aku sedang meracau lantaran tak menemukan kisah yang indah. Barangkali aku berharap bahwa cerita yang ke 23 itu akan segera terbentuk. Dengan kekurangan plot di sana sini, sebab semuanya serba cepat tak terbayangkan.

Maka melalui tulisan ini, aku ingin cerita ke 23 ku selesai sempurna. Tidak ada penundaan lagi. Mungkin butuh berhari-hari menyusunnya, dan menyiapkan pernak-pernik penguat ceritanya. Biarlah tubuh ini lelah karena bekerja, bukan karena bermain dengan imaji yang hanya bualan saja.

Aku ingin bertemu dengan perempuan tanpa jeda itu lagi. Setidaknya dia pasti bisa meramalkan hujan atau tidak.

Dan pada ulang tahun Miu, perempuan itu datang dan menjawab keresahanku ini. Dia datang tiba-tiba ketika hujan menerjang tubuhku.  Di tengah guyuran hujan, dia menenangkanku. "Adalah tetap imaji, bila hanya di dalam kepala. Adalah realitas yang diperjuangkan. Dan keduanya terhubung dengan Takdir Tuhan," ujarnya kalem.

Dan aku langsung berusaha menahan sesak di dada. Dan bergegas mengambil air wudhu. 

Comments

  1. Kita yang masih harus berjuang untuk membuat endingnya... hanya berjuang dan berdoa... selpasnya, sekali lagi, kita bisamenentukan rencana, tapi rencanaNya pasti yang sempurna. Begitupun, kita boleh merapal segala ingin kita, tapi Ingin-Nyalah yang pada akhirnya lebih baik...


    Selepas ini, cerita mungkin akan berjeda atau berakhir dengan ending yang entahlah...kita hanya perlu menyiapkan hati,.. ha ha duuuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa bener itu, kewajiban kita berusaha dan berdoa. untuk hasil akhirnya Dia lah yang menentukan bagaimana ending dari kisah galon kita. Bahahaha.

      antara imaji dan realitas, keduanya terhubung oleh TakdirNya

      Delete
  2. kata terakhirnya benar bnagt dah kak seimbang ya realitas dengan imaji

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, terhubung oleh takdir Tuhan :)

      Delete
  3. semuanya yang ada didunia dan sedang kita jalani hanyalah fatamorgana dan kita hanya dapat merencanakan semuanya kita kembalikan kepada_NYA untuk hasil akhirnya mah

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul sekali Mang Lembu, kita sebagai manusia cuma bisa berusaha yang terbaik. :)

      Delete
    2. Setuju dengan mang Lembu, mau komentar tapi udah ada yang seperti itu, yang udah disini aja.. hehe

      Tapi tulisan ini menemaniku setelah selesai bertugas ria.. hehe

      Delete
  4. ekspentasi alias imajinasi itu memang selalu nggk sesuai dgn realita, hahaha. berusaha dan berdoa itu kunci kesuksesan ^_^

    ReplyDelete
  5. Berimajinasi itu bagus. Membayangkan apa yang ingin kita capai. Tapi jangan hanya berimajinasi saja, perlu usaha dan tekad untuk mewujudkannya.

    ReplyDelete
  6. Apapun cerita hidupnya,
    kita tetap harus menjalani hidup.

    memang terkadang tidak mudah,
    tapi bukankah dibalik kesulitan selalu ada kemudahan ? azik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup itu janji Allah kan? selalu ada kemudahan dibalik kesulitan

      Delete
  7. Apasih ini kak, cerita tentang naskah novel yang diimajinasi kelar tapi realitasnya enggak ya?
    Hehehe, aku nangkepnya gitu.
    Tapi emang iya sih kak aku setuju, hal sehebat apapun kalo cuma diimajinasikan aja tetep cuma jadi ide. Lambat laun tidak akan berubah menjadi apapun. Hanya omong kosong belaka. Selayaknya emang harus diperjuangkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha itu ini tentang cerita di sebuah babak kehidupan. tetapi sayangnya semuanya tidak berjalan lancar.
      Yup harus usaha dan berdoa :)

      Delete
  8. hidup berawal dari mimpi #sing
    eh salah, imajinasi kan ye

    heemmm, imajinasi bisa jadi realita asal kitanya yang mau berusaha buat ngewujudkannya..
    ya tapi imajinasi yang masih batas wajar ya

    ReplyDelete
  9. mimpi akan tetap jadi mimpi jika kita tidak bangkit untuk memperjuangkannya agar menjadi kenyataan :D
    intinya jangan kebanyakan halu mbak hhehe

    ReplyDelete
  10. Imaji terkadang selalu muncul di pemikiran manusia apalagi kita seorang blogger.Tapi ya mau bagaimana lagi ? terkadang realitas terkadang tidak sesuai dengan imahi kita.

    Segala sesuatu harus dicapai jika itu memang yang kita inginkan.Bantuan tuhan itu menjadi lampu dalam kegelapan.

    ReplyDelete
  11. Imajinasi itu kadang emang suka gitu dengan santainya menari-nari lalu menarik kita untuk ikut terbawa arusnya hingga saking terlenanya kadang kita sampai melupakan realita yang kebanyakan gak sesuai dengan apa yang kita imajinasiin.
    Tapi kalau ditelaah lagi, sebenernya bisa juga kok imajinasi itu sejalan sama realita as long as kita harus bisa ngusahain bener-bener supaya semua itu gak cuma ada dalam angan aja tapi juga terjadi di kenyataan :)

    ReplyDelete
  12. Realitas atau Imaji?
    Mungkin aku adalah satu orang yang lebih menyukai Imaji.. entah kenapa.. bermain dengan khayalan atau sesuatu yang tak pasti itu rasanya menyenangkan daripada mendapati realita yang tak sesuai yang diharapkan..

    Entahlah... mana yang lebih baikk... :D

    #SalamKunjunganBalik

    ReplyDelete

Post a Comment

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.

Popular posts from this blog

Ini Soal Resepsi Pernikahan

Lima Wishlist Di Tahun Dua Nol Satu Tujuh