Setiap Kehidupan Sangatlah Berharga

Berita kematian sangat erta dengan dunia saya saat ini. Berbagai macam penyebabnya, mulai dari kecelakaan, tersambar petir, kebakaran, serangan jantung, bunuh diri, atau bahkan pembunuhan. Kematian memang hal yang pasti, tetapi berkali-kali berhubungan dengan peristiwa kematian, menjadikan saya mengerti bahwa setiap kehidupan sangatlah berharga. Bukan hanya pada si pemilik nyawa atau yang ditinggalkannya, tetapi juga seluruh yang hidup. Bahwa setiap kehidupan sangatlah berharga. Setiap nyawa memiliki artinya.

Sarah usia 5 bulan, anteng dalam dekapan Mas Toh


Pernah membaca Five people you meet in heaven (lima orang yang kau temui di surga) karya Albom Mitch. Kematian yang dialami, bersinggungan dan bersinkronasi dengan setiap kejadian yang ada. Tentu saja tidak lepas dari orang-orang yang ada di dalamnya, Entah mengenal atau tidak. 

Dan dunia saya mengharuskan saya terlibat secara dekat dengan kejadian-kejadian tersebut. Pertama kali saya datang ke kamar jenazah, ketika ada peristiwa kebakaran. Dan korbannya meninggal akibat peristiwa tersebut. Tempat tinggal perempuan itu merupakan lokalisasi yang terkenal di daerah kami. Ada yang mencibir bahwa hal itu merupakan azab. Tetapi tidaklah tepat bukan, kita menghakimi?

Karena tempat itu pun merupakan tempat pemukiman penduduk, tidak lantas kita memvonisnya. Kita tidak tahu seperti apa kejadiannya?

Saya tidak berani masuk kamar jenazah untuk melihatnya. Saya tidak kuat. Saya tidak berani. Pengecut? Barangkali demikian, saya tidak kuat melihat jenazah itu seperti daging panggang. Baunya pun sangat menyengat dari luar. Foto-fotonya sudah cukup untuk dilihat, tidak perlu saya melihat sendiri.

Kejadian lain, saya menjadi pelayat juga harus menunaikan tugas peliputan. Menggali informasi terkait korban, pasti menyulitkan. Apalagi bila pihak keluarga tidak berkenan. Ditambah korban kekerasan atau tawuran pemuda.

Saat itu saya diminta menemani seorang teman untuk mengunjungi keluarga korban kekerasan. Foto korban sudah tersebar di bbm, dan banyak sekali komentar yang tidak mengenakkan. Ah bagaimana bila pihak keluarga melihatnya?

Ketika kami datang dan menyampaikan maksud kami untuk menggali cerita tentang korban. Pihak keluarga menolak dengan keras, dan meminta kami memahami bahwa mereka sedang berduka.

Kami memahami, tetapi kami pun harus melaksanakan tugas. Lantas harus bagaimana?

Teman saya sudah tidak enak hati, dan bingung mau melakukan hal apa. Kami disambut memang, tetapi sejatinya tidak diinginkan. Sang ibu menjerit bahwa anaknya tidak pernah melukai orang lain, kenapa diperlakukan seperti itu?? Pulang kerja dari Surabaya, kemudian singgah sebentar di rumah dan pamit ngopi bersama kawannya. Pulangnya hanya tinggal kenangan.

Apalah daya kami yang hanya bisa mendengarkan? Menyimpan rasa kesedihan dalam-dalam. Menahan sesak dan air mata agar segalanya tetap pada tempatnya. 

Kejadian lain yang harus saya alami adalah menenami teman lain untuk datang ke rumah duka, jenazah bocah usia 15 tahun yang meninggal di hutan. Dan ditemukan dalam keadaan setengah tubuhnya telah menjadi kerangka. Dalam perjalanan menuju rumah duka, kami harus menyisakan ruang kerja, dan mengesampingkan air mata.

Di rumah itu, sang ibu terlihat nampak lebih tegar. walaupun sembab matanya belum hilang. Pertanyaan lebih banyak menggali ingatan mengenai bocah itu, kesehariannya, hobinya, kehidupannya. Dan tentu saja membuat sang ibu harus menggali kenangan  demi kenangan pada putra pertamanya.

Dan saya pun harus berjumpa dengan ibu ini hampir setiap minggu di persidangan.

Saya harus menahan gejolak emosi, ketika ibu ini duduk di belakang saya di dalam ruang sidang sedang menangis tergugu mendengar setiap ucapan yang keluar dari terdakwa. Pemuda yang dengan sengaja dan berencana merenggut kehidupan putranya, padahal tak memiliki dendam.

Dan kedua orangtua terdakwa menunduk dalam -dalam. Saya hanya bisa melihat kedua orangtua tersebut merasakan kesedihan yang sama dengan alasan yang berbeda.  


Ada pertemuan, ada pula perpisahan.
Ada kehidupan, ada juga kematian.
Ada keinginan, ada pula pencapaian.
Ada cinta, ada pula kebencian.
Ada kemanusian, ada pula ketidakmanusiaan.

Setiap kehidupan sangatlah berharga. Entah apapun rasa kehidupan itu sendiri. Baik, buruk, manis, asam, pahit, asin, dan semuanya, perjalanan masing-masing orang tidaklah sama. Kita harus tetap mensyukurinya dan mengusakan yang terbaik. Tanpa perlu merampas kehidupan milik orang lain dengan sengaja.

Setiap nyawa yang hadir, saya percaya mereka memiliki takdir yang berbeda. Entah sebagai apa dan bagaimana. Yang pasti setiap kehidupan yang hadir, memiliki arti yang penting bagi orang di sekelilingnya.


Comments

  1. Mohon maaf. Aku nggak bisa ngasih komen banyak banyak. Sebab urusan kesedihan, apalagi kematian itu, sangatlah sensitif.

    Tapi begitulah kehidupan ya. Nggak ada yang tahu, bagaimana cara kita berpulang kelak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul itu, nggak ada yang tau bagaimana kita berpulang. Tetapi kita bisa memilih jalan hidup yang seperti apa.

      Delete
  2. dilema juga ya kalo tugas ngeliput masalah kematian begini. Karena harus hargai perasaan keluarga korban juga :(

    hhhh.. merinding euy kalo topiknya begini :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa,begitulah. memang merinding, tapi lama-lama biasa sih, biasa untuk memahami.

      Delete
  3. Namanya hidup pastilah berharga, karena kita di beri kesempatan sama tuhan untuk mencicipi rasa dunia ini. kadang ada juga orang yang menghilangkan nyawanya sendiri, cuma karna suatu masalah. Why ? emang setiap masalah nggak bisa di selesaikan ? Karna emosi sesaat semua menjadi kesedihan.

    Btw, turuk berduka cita atas beberapa korban yang mbak ceritakan, semoga keluarga tabah dan juga mbak diberi kemudahan dan kekuatan setiap meliput hal yang semacam ini. semangat mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. setiap masalah memang tidak bisa diselesaikan. Hanya saja menyelesaikan dengan menghilangkan nyawa orang lain sepertinya tidak menyelesaikan sama sekali. Menambah iyaa.

      Siap. Aku berusaha semangat.

      Delete
  4. apakah initulisan yang menghantarkanmu ke tmpat kmarin?

    Aku ngeri Mbak, pernah denger dari tmn yang kakaknya itu meninggal karena dianiyaya gembong maling

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa yang kita obrolin panjang lebar itu

      Delete
  5. Membaca ini saya jadi berfikir... terutama bagaimana akan mempersiapkan kehidupan untuk yg di sana....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuul kak, dekat dengan kematian akan membuat kita menjadi manusia yang bijak

      Delete
  6. Baru pertama kali mampir, and gosh ... di jumat yang mendung-kelabu ini saya pun baca post yang temanya sendu ... kematian.

    Oh ya mbak pekerjaannya dibidang jurnalistikkah? Dulu saya sempet pengen ambil jurusan jurnalistik, soalnya pengen jadi jurnalis. Tapi karena beberapa pertimbangan akhirnya tak jadi.

    Jika dihadapkan pada situasi seperti mbak saya kurang nyaman, berhadapan dengan banyak peristiwa yang 'bloody' untuk liputan, sampai menyaksikan banyak kematian.

    God , I just cant handle it. Segala yang berhubungan dengan kekerasan , darah ... ngga sanggup saya mbak. :'|

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, kebetulan saat ini aku bermain di bidang ini. Awalnya nggak kuat Mbak, tetapi lama-lama terbiasa :)

      Delete
  7. langsung sedih ngebaca ini, perasaanku bercampur aduk, aku juga ngeri klo udah ngebahas tentang diatas.

    tapi yang namanya kematian itu sudah takdir.

    ReplyDelete
  8. Hidup ya gini mbk, ada kehidupan pasti ada kematian, ya semua orang pasti takut dengan kematian, masih ingin hidup kekal abadi di dunia, tapi semua harus menerima kenyataan bahwa nantinya akan mengalami kematoan.

    Mumpung masih hidup di dunia, carilah bekal untuk di hati akhir nanti.

    Membaca kisah sudara-saudara kita yang mengalami kematian dengan jalan yang berbeda-beda jadi sedih juga, apalagi dengan hal yang tidak wajar, semoga keluarga selalu tabah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak Santo. Kematian memang bagian dari kehidupan. Dan berkecimpung di bidang ini sangatlah banyak sendu, terutama terkait peristiwa mengenaskan. Manusia macam yang tega merampas kehidupan lainnya.

      Delete
  9. seandainya saya yang berada diposisi mbak, besar kemungkinan saya tidak kuat. mungkin saya hanya terdiam...

    Nikmati kehidupan yang sangat berharga, karna kematian selalu menunggu dan suatu saat nanti pasti bertemu...

    kerja meliput hal seperti itu, susah, salah salah kita bisa terkena emosi dari pihak keluarga...

    turut berduka cita untuk orang orang yang mbak cerittakan....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mas, sering kok saya kena 'emosi' pihak keluarga. Yup, smeoga mereka ditabahkan.

      Delete
  10. Ah, jaman sekarang dunia emang makin kerja saja ya Ver. Pembunuhan bisa terjadu dimana saja, bisa juga kita yang jadi korbannya. Dan sebagai seorang saksi di tiap duka begitu emang sangat tidak mengenakkan ya, kayak kalo kita ngalamaninnya sendiri gitu. Kerja peliputan nggak gue sangka bisa jadi se-pedih itu ya..

    Tapi, tetep semangat ya Ver! Dari situ kita bisa menarik pelajaran bahwa hidup sangatlah berharga, bahwa kapan pun juga maut bisa menguntit, bahwa kita memang benar benar harus hati hati dan waspada, bahwa juga kita harus mendekatkan diri dengan sang Pemilik. Dan dari tupisan kamu juga banyak orang yang bisa mengambil pelajaran, tak terkecuali aku. :)

    ReplyDelete
  11. Ada kehidupan, ada juga kematian.
    Kalimat tersebut memang benar adanya, untuk itu sebelum tiba waktunya, marilah banyak beramal agar tabungan pahala kita banyak dan hidup dengan tentram di akhirat nanti

    ReplyDelete

Post a Comment

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.

Popular posts from this blog

Ini Soal Resepsi Pernikahan

Lomba Deadline Juni - Juli 2016

Jari, Onyx Asli Bojonegoro