Moment Awkward Saat Liputan (2)

Hei, ternyata cerita pas liputan itu menarik untuk dijadikan bahan ya. Walaupun harus menggali ingatan, dan sedikit pasang tampang badak. Karena blog ini biasanya dibaca tim redaksi. Mending kalau dibaca aja. Temenku yang rada usil, copas satu paragraf memalukan di blog ini dan ditaruh di grup kantor. Halo pemirsah, bagaimana perasaan anda jadi saya??

Senam merah putih saat Apel Bela Negara di stadion Letjen Soedirman (17/05)






Saya ini masih belajar jadi jurnalis. Jadi di postingan ini hal-hal konyol dan absurd yang saya alami selama menjalankan tugas di lapangan. Siapa tau ada yang berminat terjun di dunia jurnalistik. Jurnalis itu jam kerjanya nggak menentu, apalagi yang tv nasional itu. Beuh.. kalau ada kerusuhan atau lagi mengikuti kasus yang rawan, nyawa juga bisa jadi taruhannya.

Senior saya selalu menekankan bahwa tidak ada berita seharga nyawa. Jadi kalian bisa pahamilah maksudnya apa? Kalian kan smart! :D



Yang belum baca postingan pertama soal kebodohan saya di lapangan, monggo mampir.

Moment awkward ketiga

Ini adalah cerita pertama kali saya masuk di Pengadilan Negri Bojonegoro, untuk mengikuti sidang kasus pembunuhan Alvian. Pelakunya tunggal. Tetapi sadis banget lho. Kalian bisa searching di google kok. Alvian ini bocah 17 tahun yang jenazahnya ditemukan separuh sudah jadi tungkorak, yang separuh lagi mulai pembusukan. 

Jadwal sidang ternyata mundur, didahului sidang pencemaran nama baik di facebook. Nah saat itu ada pengunjung yang ngambil foto. Jeprat jepret. Tau apa yang terjadi. Hakim mengetuk palu dan menghardik orang tersebut!

"Kalau mau ambil foto, ijin dulu. Sekarang silahkan ambil foto, saya persilahkan!!!"

Sumpah rasanya gitu. Baru kali ini saya lihat hakim tersebut kehilangan kesabaran. Duh, suasana hening seketika. Hal ini juga pernah terjadi kepada saya dan teman. Tetapi ditegurnya tidak di dalam ruang sidang, dan langsung tembak di tempat begitu, tetapi di humas saat wawancara.

Saat itu saya bersama teman, sebut saja Pink. Kami berdua baru pertama kali menjejakkan kaki di meja hijau ini. Dan saat masuk sidang, sidang kasus ini sedang berlangsung. Hmm, saat itu jadwalnya pemanggilan saksi. Dan seperti biasa, harus ada foto. Maka Pink dengan pedenya main jeprat jepret dalam persidangan.

Saat berada di humas, karena dalam instasi tertentu harus humas yang berbicara di media. Majelis hakim tidak diperkenankan untuk mengeluarkan statemen.

"Mas, nanti lain kali kalau mau ambil gambar harus minta izin terlebih dahulu. Soalnya demi keselamatan mas sendiri!" ujar Humas.

Deg!

Karena untuk pengambilan gambar, harus ijin majelis hakim. Hakim pun meminta izin terlebih dahulu ke terdakwa atau saksi berkenan atau tidak diambil fotonya. Karena selama proses sidang merupakan tanggung jawab hakim.

Dikhawatirkan  saksi atau terdakwa yang tidak terima dengan fotonya diunggah ke media, lantas membuat peritungan. Kan serem!

Himahnya : kamu harus pinter diam-diam ambil foto! :D

Moment awkward keempat!

Lokasinya masih di Pengadilan, tetapi kali ini saya sendirian!
Masih mengikuti kasus yang sama. Saat itu sekitar pukul 13.30 saya datang ke pengadilan dan langsung masuk di salah satu ruang sidang yang minggu lalu digunakan sidang kasus Alvian. Saya duduk manis, mengikuti dan apa yang terjadi?

Di dalam ruang, hakimnya berbeda. Ditambah lagi keterangan yang dibaca sangat berbeda. Tidak ada hubungannya sama sekali. Dan terdakwa ada tiga orang. Oke fix, saya salah ruang! -_-

Saya pun mondar mandir di luar sidang, what should i do?

Akhinya saya tanya ke salah satu petugas, dan benar sidang rupanya berada di ruangan lain. Dan petugas itu mengatakan bahwa sidang Alvian belum dimulai. Saya pun menunggu di luar, sesekali memastikan hakimnya sama. Masa iya mau salah berulang kali? Malu sama kaktus! Apa hubungannya? Entah.

Sidang pun dimulai, saya dengan entengnya masuk ke dalam ruang sidang. Dan mendengarkan seksama proses sidang berlanjut. Jadwal masih sama dengan minggu lalu, yaitu pemanggilan saksi. Duduklah dua orang saksi di kursi panas.

"Saya seorang apoteke, dan obat bla bla ini dibeli oleh bapak ini pada bla bla bla,"ujar saksi di hadapan majelis.

Saya masih mendengarkan, walaupun bingung.

Masih mendengarkan keterangan saksi.

Apa? Obat? Resep? Penjualan obat-obatan? Siapa mereka? 

Di sini pun saya mulai paham, bahwa sidang ini bukanlah sidang kasus yang saya cari! 

Hikmah : Harus pinter lihat situasi dan kondisi! Terlebih lagi, harus pinter menyusuaikan mimik wajah. Jangan keliatan gugup padahal salah ruang! :D :D :D


Momet Awkward kelima


Baiklah, ini ceritanya agak mundur ke belakang. Kejadian ini pertama kali saya masuk gedung pemkab. Dan diminta untuk mengambil jadwal Peringatan Hari Jadi Bojonegoro. Saat itu saya sudah diberi arahan untuk ke bagian perlengkapan. Karena tinggal mengambil saja, gampang lah!
Berangkatlah saya ke Pemkab, mana baru pertama kali yak. Sifat udikku kumat. Ku jelajahi lebih dulu tuh ruangan bawah. Sambil membaca tulisan yang berada di palang pintu. Ruangan apa. Singkat cerita, saya pun masuk di ruangan bagian perlengkapan. Dan saya pun bertanya pada orang di sana, untuk mengambil jadwal. Apa yang terjadi pemirsah?

"Untuk jadwal, coba tanya di humas aja mbak!"

Oke, saya ke humas.

"Jadwal di bagian perlengkapan Mbak"

Oh ayolah sodara-sodara kenapa saya dilempar-lempar macam bola pingpong. Saya merasakan ribetnya birokrasi. Dan saya pun mutung, dan kembali ke kantor. Ladalah redaksi ternyata sudah punya jadwal. Di sini saya merasa sedih! Bahkan saya berniat untuk mengadukan hal ini. Kalo diinget -inget, saya jadi ketawa sendiri. 

Sekarang kalo mau main di humas, tinggal duduk di sana dan main internet gratis. Terserah mau youtuban atau apah. Asalkan tuh komputer nggak dipakai ngetik. Maklum fakir wifi! Pret banget lah! 

Di parkiran samping kantor pemkab, ada space tertentu yang dilarang parkir. Karena merupakan jalan keluarnya sepeda motor. Suatu ketika ada mobil yang diparkir di situ. Dan mobilnya dikempesin sama Satpol PP. Ternyata pemilik mobilnya adalah dua ibu-ibu.

Emang dasarnya ibu-ibu ya, udah tau salah, malah ngomel nyalahin satpol pp. Saya pun diam mendengarkan curhatan mereka. (Mereka ngomel panjang kali lebar kali tinggi). Yang intinya mereka tidak tau kalau di situ dilarang parkir. Dan kepentingan mereka cuma sebentar, mengurus kepindahan suami. 

Cuma sebentar katanya.

Padahal di kasih pembatas yang warnya merah merah itu lho, traffic cone namanya.  Dan ada tulisan segede gaban. DILARANG PARKIR. Dan maafkan saya yang menulisnya menjadi berita.






Comments

  1. Hai, kita bekerja di bidang yang sama. Jurnalisme. Bedanya aku di bagian tata letak surat kabar. Untuk moment yang jenazah begitu-begitu, aku juga ngalamin. Hahhaa. tapi cuma sebatas foto.
    Aku kan layout dan desainer, kadang pimred nyuruh aku bikin ilutrasi dan aku kudu cari referensi dong di google. Yaaa.. gitu deh.. kudu tahan lihat gambar yang Hhuwek banget.
    Skarang udah terbiasa lihat mayit busuk.

    Wah, kalau kejadian bingung sendiri pas liputan, aku belum pernah XD tapi aku sering dengar juga kejadian polos dari temenku yang wartawati. Lucu-lucu seru gitu, yaaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, bagian layout ya? keren ituh. aku sih nggak bisa. bisanya cuma jalan-jalan aja. Emang sih kadang gambar gambar di lapangan itu menyeramkan, apalagi yang moto harus tahan.

      tetapi pengalaman seru memang paling banyak di lapangan ketimbang di kantor. Hehehe.

      Delete
  2. Wkwkw paraah :D banyaaak banget moment awkwardnya :'

    ReplyDelete
  3. eh keren nih, jarang2 gue baca blog yang nyeritain pengalaman aneh di dunia jurnalisme. Apalagi yang ambil foto harus ijin, gue baru tau muahahaha. gak bisa foto candid dong xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, nggak semuanya bisa asal jepret jepret. Hehehe. Setiap instansi ada aturannya lah. :D

      Delete
  4. Rata-rata ceritanya selama liputan itu kok jadi geli2 gitu bacanya. :D Ya gue pikir sih, dari semua yang lo alami, ini karena kesalahn sendiri. Kurang teliti dan masih harus banyak belajar. *SokBijak :D

    Ya, kadang gitulah hidup, kita gak pernah tau apa yang terjadi sejdetik kemudian, sama seperti ibu-ibu yang katanya parkir sebentar tapi sudah jelas di tempat tersebut dilarang. Fiuh... Gue pernah hampir begitu, tapi gue mah oranngya nanya dulu. Mending malu nanya, daripada malu karena tak mau bertanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wakakaka, iya emang begitulah. Sifat sotoy lagi kumat.

      iya emang bener nanya dulu, tapi gak semuanya harus ditanyain. termasuk status. Asyik.

      Delete
  5. Wah dulu nih aku sempet mau masuk kuliah jurusan jurnalistik, hanya karena aku suka nulis. Padahal belum tentu juga ya bakalan cocok di sana. Apalagi harus keliling buru berita. Udah gitu belum lagi kena risikonya itu haha. Tapi kayaknya seru juga sih. Kalo jurnalis itu pasti banyak relasinya ya?

    Jadi menurut kamu lebih seru mana liputan sendiri atau ada temennya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masing - masing punya kondisi sendiri, Ada yang lebih enak sama teman. Ada yang lebih enak sendirian. Aku lebih banyak liputan sendiri sih. Hehehe. Lebih fokus.

      Delete
  6. Wah, belajar jadi jurnalis ya. Keren bgt tuh.
    Tapi denger2 katanya berita sekarang bisa dibeli kah? Jujur gue heran kenapa bisa begitu. Ya, mungkin yang masih idealis ada, tapi tentunya banyak yang gak idealis.

    Gue pengen si sering jurnalis itu punya idealisme tinggi. Biar masyrakat bisa bener2 dapet informasi yang seharusnya.

    Tapi.. tetep jadi jurnalis itu keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berita bisa dibeli yak? Ada yang seperti itu. Namanya juga bisnis. Tetapi kalau berita terntu yang baik-baik, ada yang namanya advetorial. Semacam job review untuk blogger lah.

      Yang pasti semuanya berita harus berimbang, karena fungsi jurnalis juga sebagai kontrol sosial.

      Delete
  7. Wowww... Jurnalis .... hhhh... warbiazaa. Pengalaman real ya di lapangan penuh rona-rona kehidupan.. :). Sepupu saya ada juga yang kerja sebagai jurnalis... dia sering kebagian untuk berita politik. Mental jurnalis menurut saya patut diacungi jempol, mulai dari jam kerja yang ga tentu, terus ga mudah menyerah, panjang akal, dan semangat selalu. Sukses terus ya buat veraastanti... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mental, memang selalu diuji. Berita politik ya? wuidih, membosankan itu, tetapi memang harus diikuti. Biar tahu arah gerakan pemerintah. hahaha

      Delete
  8. haha kok bisa selalu salah gitu mbak, mungkin kurang minum aqua. ngeri juga jadi jurnalis kalo mau ambil foto di dalam persidangan. ngebaca 'Mas, nanti lain kali kalau mau ambil gambar harus minta izin terlebih dahulu. Soalnya demi keselamatan mas sendiri!', wih kalo sempet kita foto diem diem, dan tetep yang bersangkutan nggak terima fotonya ada di media gimana ? apalagi kalo si bersangkutan tau siapa yang nge-foto.

    tapikan ada uud perindungan untuk wartawan kan mbak ? gue juga kurang paham

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya memang begitu, bisa ditegur secara baik-baik melalui jurnalisnya atau melalui redaksinya.

      Yang dikhawatirkan, bila terkait kasus yang sensitif dan yang terfoto tidak terima, melakukan tindakan anarki.

      Delete
  9. Ngeliput kaya gitu kayaknya seru juga yaa,hehehe...
    Itu maksudnya hakimnya bilang kalo mau foto izin dulu, supaya hakimnya siap foto, ya siap nggk pake aplikasi edit foto tapi tetep dapet foto yang kece hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha, hakimnya harus tanya ke yang foto dulu. mereka berkenan nggak? aturannya begitu. hehehe.
      karena seringnya yang dijepret adalah terdakwanya bukan hakimnya.

      Delete
  10. waduh, jurnalis itu keren, tapi ternyata tugasnya besar yak. kayaknya seru ya ngeliat sidang, nontonin pengacara debat, sampe2 hakim kehilangan kesabaran. terus harus ngikutin beberapa kasus kayak kasusnya alvian gitu, dimana rasa iba pasti ikut terbawa. huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. nggak seseru yang di drama-drama begitu. Jaksa dan Pembela diberi kesempatan untuk menanggapi secara lisan atau tertulis.

      Delete
  11. tapi awkward moment yag kamu rasain sendiri cuman yag tengah doang ya..hehehe..malah aku belum pernah menghadiri persidangan begitu lo..tapi kayakya emang bakalan tegang banget apalagi kasusnya pembunuhan sadis begitu.

    ReplyDelete
  12. seru juga ya kalau ngeliput berita persidangan, ngikutin satu persatu sampai kasus selesai
    pengalaman berharga bisa ngeliput berita dan ngasih informasi ke orang lain

    btw bener juga loh apa kata hakim, jangan asal main ngambil foto. siapa tahu korban atau tersangka ga mau wajahnya dikenal

    ReplyDelete

Post a Comment

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.

Popular posts from this blog

Ini Soal Resepsi Pernikahan

Lomba Deadline Juni - Juli 2016

Jari, Onyx Asli Bojonegoro