Sunday, January 24, 2016

Ajari Aku Bernafas Hidup


Hidup ini tidak pernah sempurna. Hanya pemikirannya untuk jadi sempurna itulah yang berlaku. Tolak ukurnya untuk kesempurnaan itupun berbeda. Berbeda bagiku, juga bagimu.


Sempurna itu absurd. Beberapa kali kubuka dan kututup cerita namun segalanya menuju akhir yang sama. Abu-abu. Tidak jelas apakah dia dia masuk ke dalam kejahatan atau kebaikan. Hitam atau putih. Tetapi cerita ini hanya ada pada akhir yang tidak jelas. Bahagia atau sengsara?


Dinding kamar ini rasanya mulai menyempit. Lagi-lagi aku terhimpit di rasa yang tidak jelas ini. Kehabisan nafas. Seolah-olah udara mulai meninggalkanku pada ruang hampa. Lagu-lagu yang mengalun mengisi di ruang ini seperti tidak terdengar lagi.


Inikah mati rasa?



Jemariku seolah tak henti-henti menulis. BERNAFAS.

Aku menjadi lupa bagaimana caranya. Apakah aku harus membuka mulut atau mengembangkan dada. Atau aku harus menangkap dengan kedua tangan ini udara itu.


BERNAFAS.

Tolong ajari aku bernafas! Biarkan aku mampu menyesapnya! Biarkan aku mengecapnya! Tolong! Tolong! Ruang mulai berguncang. Lampu meja terguling, pena inipun mulai terlepas dari tangan. Teriak! Aku harus teriak meminta pertolongan. Barangkali dari kamar sebelah akan mampu mengajariku keluar dari kegilaan ini!


Tapi...

Tapi...

Aaaa...

Suara ini juga tidak keluar. Tubuh ini juga terasa kaku. Akankah aku mati di sini?



Tolong!

Tolong!

Tolong!



************



"Bernafas saja kau tidak bisa, lantas bagaimana kau hidup, Nuna?" tanyanya dengan ketus.



Aku mendengar suaranya dengan jelas. Namun aku tidak bisa melihat siapa yang berbicara. Rasanya tanganku kram, seperti ada jarum yang menetap di sana. Kenapa dia memanggilku Nuna?



"Kau ini bodoh sekali! Masa mati gara-gara hal konyol. Dengan senang hati aku akan mengambil tubuhmu. Sayangnya tidak bisa. Karena aku tidak nyata. Aku hanya ada di dalam pikiranmu Nuna!" bisiknya di dekat telingaku.



"A..pa maksudmu?" ujarku terbata.



"Kau hanya hidup satu kali. Kadang tidak semuanya bisa berhasil. Tidak semuanya akan bahagia. Melepaskan ekpetasi tertinggi, untuk menang."



"Aku tidak mengerti maksudmu!"



Kriet! Suara kursi digeret.



Tanganku di genggamnya. "Lakukan saja apa yang harus kau lakukan. Jangan selalu berpikir. Lakukan saja!"



Aku tersenyum, "Kalau aku ingin melakukan kejahatan bagaimana?"



Dia tertawa. "Boleh saja, tetapi kau harus tau nurani tidak mati. Mungkin hanya kau yang tidak mau mendengar."



Aku menggeleng. "Aku mencoba diam dan tenang, tetapi aku tidak bisa bernafas. Kenapa?"



Dia bertepuk tangan tiga kali. Plok...plok...plok! "Bernafas ya... pikiranmu mungkin lupa, tetapi tubuhmu tidak. Sesuatu yang dimulai sangat sederhana saja kau tidak mau melakukannya, bagaimana dengan yang besar? Mengubah dunia? Wanna a power ranger eh?"



Aku diam, mulai mencerna, walaupun aku masih tidak memahaminya.



"Kau hanya perlu rileks, dan melakukannya sedikit demi sedikit. Bernafas mulai dengan menyingkirkan pemikiran negatif yang tidak perlu! Melepaskan kejadian yang buruk dan menerimanya. Memaafkan orang lain yang berbuat salah padamu. Dengan begitu kau bisa bernafas lagi," ucapnya dengan sinis.


"Dan," dia berhenti sejenak, "berani hidup dengan segala rasanya. Hitam, putih, abu-abu, merah, jingga, biru atau warna apapun. Cukup berpikir kau hidup, dan kau bahagia!"


Dia mulai menggengam tanganku, diletakkan tangaku pada sebuah benda tajam. Uh! aku merasa sesuatu menusuk jemariku. Perih!


"Ini hanya jarum, tidak akan membuatmu mati," ucapnya meremehkan.


Aku menyentakkan tangannya. Berusaha menyingkirkan apapun itu yang hendak melukai tubuhku.


"Wuaa... kau masih bisa menolak rupanya. Lihat! Kau masih bisa berjuang untuk hidup, Nuna. Bukalah matamu dan lihatlah sendiri bagaimana harusnya bernafas itu!"


Aku diam. Aku tidak berani membuka mata. Di sini terasa nyaman, aku tidak merasa untuk bernafas. Aku takut bila membuka mata aku akan melihat dinding runtuh dan segalanya berusaha menggencetku lagi. Tidak... aku akan tetap seperti ini.


"Buka matamu, Nuna!"


Aku menggeleng... Dadaku mulai sakit lagi. Tidak! Apakah aku akan susah bernafas lagi di sini? Tidak aku tidak mau. Ah.. rasa sakit itu kembali menyerang. Aku ingin hidup... aku ingin bernafas lagi. Aku sontak membuka mataku!






#24-01-2016

di ruang sunyi lagi terkunci

*********












4 comments:

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.