Belum Pernah Naik Pesawat

Tuhan Tau Tetapi Menunggu
Kata Arai 

Ini tentang impian dan khayalan yang mirip, dan terwujudnya entah kapan. Tetapi Tuhan selalu punya rencana yang indah. Jauh lebih indah daripada khayalan sendiri.

Di sela-sela nonton televisi, Ibu menceritakan bahwa ada saudara yang akan menikah awal Desember nanti. Sayangnya pernikahan tersebut dilakukan di Makasar nan jauh di sana. Ongkos pesawat PP nya lumayan lah.. UMK nya Bojonegoro. Kemudian obrolan berlanjut tentang naik pesawat. Hanya saya yang belum mencicipi rasanya terbang menerabas awan-awan itu. Iyah.. hanya saya yang belum.



Ibu nyindir-nyindir gitu. Dengan mantab saya bilang, "Tenang, nanti saya naik pesawat ke Australia."

Adik saya ketawa jahat menyangsikan kata-kata Australia.

Saya dengan pedenya menyakinkan. "Nanti kalau saya ke Australia, bisa saja. Siapa yang tau coba."

Ibu saya diam. Tau kalau anaknya itu keras kepala kalau sudah memutuskan sesuatu dan dibengkokkan susyah.

Akhirnya adik saya menjawab dengan enteng. "Yang penting oleh-olehnya."

Nih bocah, otaknya isinya oleh-oleh mulu. "Iya kalau aku pulang."

Ibu saya langsung memotong," Emang gak pulang? Mau ngapain di sana?"

Saya langsung menjabarkan isi khayalan saya dari zaman bahala. "Ya siapa yang tau. Mungkin bisa lama. Ikut program apah gitu." Rencana detailnya enggak saya sebutin, karena semangat itu naik turun. Sekarang naik, besok bisa turun drastis. Hihihi.

Ibu saya cuma geleng-geleng. Hidup tidak yang tau kan? Sampai saat ini saya belum berhasil mewjudkan rencana 2013 dan 23 saya. Belum ada yang terwujud. Tetapi keinginan saya saat SMP dulu terwujud dengan tidak terduga sepuluh tahun kemudian. Tuhan selalu punya cara untuk membuat hambanya terkejut.

Siapa tahu saya akhirnya bisa mewujudkan ocehan saya yang 'salkir' ke temen kampus. Dan setiap ketemu dia selalu ungkit-ungkit sms nyasar saya. Aihh. "Nanti kalau sampai Australia, jangan lupa sama saya ya," pesannya sambil ketawa. -____-

Saya pernah cerita di postingan lama sekali perihal kegilaan saya terhadap buku. Namun karena keterbatasan, ibu melarang saya membeli majalah. Dan karena saya ini orangnya ngeyel, kalau nggak bisa ya diusahakan sendiri. Saya mulai membeli majalah Mentari bekas seharga 500. Hampir tiap minggu saya mengoleksinya. Sekarang majalahnya udah saya hibahkan ke taman baca. Dan juga di lemari saya sudah penuh dengan buku koleksi nguter dan beli sendiri dan masih akan bertambah lagi. Alhamdulillah.

Sama seperti hal yang lainnya, buat saya selalu ada kesempatan kedua. Kalau bukan orang lain yang memberikan maka saya sendiri yang berusaha mewujudkannya. Seperti hari ini, ada yang janjiin beli es krim karena beberapa alasan akhirnya saya harus beli sendiri. Eh bukan ding, ngerayu Mam untuk beli... Hahaha




Comments

  1. aku dulu juga gitu,, kapan ya bis anaik pesawat??
    alhamdulillah tanpa disangka bisa juga hehe.. semangat yaaaa.... ^^

    ReplyDelete
  2. jangan takut bermimpi, karena alam akan mewujudkannya, kalo ga salah aku pernah baca kata2 itu di buku the secret deh.. :)

    ReplyDelete
  3. jangan takut bermimpi, karena alam akan mewujudkannya, kalo ga salah aku pernah baca kata2 itu di buku the secret deh.. :)

    ReplyDelete
  4. tuhan tahu tapi menunggu....versi leo tolstoy

    ReplyDelete

Post a Comment

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.

Popular posts from this blog

Ini Soal Resepsi Pernikahan

Lima Wishlist Di Tahun Dua Nol Satu Tujuh