Buku Bercerita : Love Is Blind

Aku berjalan lurus, mengabaikan kelok kelok jalur yang mengganggu. Hingga aku lupa dengan waktu. Sudah tiga tahun lamanya aku menunggu, agar aku bisa hadir di sini lagi. Namun kesempatan itu belum tiba. Sampai akhirnya aku harus melompat pagar hanya untuk menuliskan pesan ini.


Wahai cinta yang berdiri di gerbang rindu. Tidakkah cukup suaraku untuk mengundangmu masuk. Biarkan saja, desau merayu, tetaplah berjalan ke arahku. Kan kusambut dengan pelukan hangat tanpa ragu. Akan ada banyak cangkir-cangkir penuh puisi untukmu. Akan ada banyak puding i love you untukmu. Apalagi yang tersisa selain cerita -cerita di bawah sinar purnama?


Ah, aku lupa. Sudah lama sekali aku tak bermain denganmu. Percayalah, kehadiranku tidak pernah tersapu oleh ombak. Karena aku adalah hamparan pasir yang selalu kembali lagi ke dalam hatimu. Dan suaraku bukanlah kaset yang akan kau buang sekali dengar. Karena suaraku tidak bisa terekam dengan gadget apapun. Suaraku ada di sela-sela detak jantungmu. Apalagi benih-benih penaku, tidak akan lenyap di makan waktu. Walau jiwaku tenggelam, kau tak akan bisa melupakanku. Karena penaku lebih kuat dari mantra pengikat manapun.

Ayunda dan Senoritaku, cukup ingat saja aku pernah ada. Dan aku akan benar-benar selalu ada di hatimu. Karena aku tak kan bisa menyebrang ke duniamu. Karena aku hanyalah kumpulan aksara rindu. 


Salam sayang













Pena Langit

Comments

Popular posts from this blog

Ini Soal Resepsi Pernikahan

Lima Wishlist Di Tahun Dua Nol Satu Tujuh