Ini Soal Resepsi Pernikahan

Akhirnya bisa ngeblog lagi. Kangen! Kali ini mau bahas pernikahan. Bagian resepsinya. Mau pilih di gedung mana? Atau mau yang sederhana saja. Terus make up dan bajunya gimana? Undangannya berapa? Bagaimana dengan konsumsi semuanya? Nggak boleh sembarangan. Tapi bujetnya berapa tuh???

pinjem dari kerangrebus.com

 
 Berawal dari status Tere Liye yang dishared oleh Mia, saya jadi punya inspirasi untuk postingan blog. Hore! :D
Boleh mengadakan acara resepsi saat pernikahan? Jawabannya: boleh. Ada sunnah Nabi atas hal ini. “Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing’’ (HR. Bukhari dan Muslim).
Tapi di tengah jaman hari ini, ada beberapa hal yang mungkin bermanfaat jika kita bersedia memikirkannya.
  1. Resepsi itu adalah pemberitahuan penuh rasa syukur
    Resepsi pernikahan itu poin pentingnya ada dua: pertama, pengumuman bahwa si fulan sudah menikah. Kedua, bentuk rasa syukur. Maka keliru jika resepsi dijadikan ajang pamer. Kusut jadinya, berbelok dari tujuan mendasarnya. Resepsi pernikahan bukan pertunjukan status sosial keluarga, bukan pula pamer gelar-gelar pendidikan, apalagi pamer kekayaan, jabatan, kekuasaan. Soal ini kadang susah sekali diingatkan, orang-orang keras kepala akan bilang: "Toh hanya sekali seumur hidup"; atau "Apa salahnya? Ada uangnya ini, dan itu uang saya." Baiklah. Itu hak semua orang, terserah. Tapi adik-adik sekalian, pikirkanlah poin paling penting ini jika besok lusa kalian akan menikah. Saya tahu, kadang, kalian memang memilih sederhana, tapi orang tua tidak. Ada banyak keluarga yang sampai tega berhutang, juga membebani anak-anaknya, hanya untuk show, bahwa dia bisa membuat resepsi pernikahan yang mewah.
  2. Resepsi itu adalah kepatuhan atas sunnah Nabi, bukan malah membuat maksiat
    Kenapa kita melakukan resepsi? Karena Nabi nyuruh. Kita patuh. Maka, lagi-lagi repot sekali urusannya, jika ternyata, resepsi itu mengundang maksiat. Banyak jenisnya. Mulai dari menentukan tanggal nikah melalui cara-cara mistis. Memanggil pawang hujan. Pakai acara dangdutan, dengan penyanyi berpakaian tidak pantas. Hingga demi bedak dan riasan tidak luntur, kita jadi meninggalkan shalat.
  3. Resepsi itu adalah bersilaturahmi, bukan mengumpulkan amplop
    Sudah jadi tradisi yang membekas sekali di sekitar kita, jika ada resepsi, maka lazimnya ada kotak besar untuk memasukkan amplop. Semakin mewah itu resepsi, kotak amplopnya semakin megah, mewah pula. Juga pernikahan di kampung-kampung, pun ada amplopnya juga. Saya tidak mengerti poin tradisi ini? Apaan sih? Ekses dari tradisi ini tidak sederhana, itu memiliki dampak negatif. Di amplop2 itu ditulis nama, siapa yang ngasih, besok lusa, seolah menjadi 'hutang'. Semakin bagus kartu undangan, semoga semakin banyak amplopnya, dll. Tetangga, kerabat, kolega yang kaya-kaya diundang, yang miskin tidak. Dan lain sebagainya. Aduh, mungkin saatnya kita kembali memikirkannya. Gunakanlah teladan Nabi, wasiat-wasiatnya, itu mungkin bisa membantu melihat situasi ini lebih jernih.
  4. Resepsi itu adalah kebermanfaatan, bukan mubazir dan mengganggu.
    Poin terakhir, resepsi pernikahan itu diadakan, karena ada azas manfaatnya. Maka, ketika dia berlebihan, mubazir, sia-sia, suramlah cahaya baik dalam resepsi tersebut. Belum lagi jika sampai mengganggu, bikin macet, bikin susah, dan menimbulkan kesulitan di sekitarnya. Saya tahu, lagi-lagi itu sekali seumur hidup, tidak setiap hari juga bikin repot, tapi sejatinya, justeru karena acara tersebut sangat spesial, maka berhati-hatilah. Ingatlah selalu, telah menunggu jalan panjang setelah resepsi. Hakikat pernikahan itu sendiri. Ketahuilah, jika kita bisa menempatkan resepsi pernikahan dengan baik, maka biasanya, kita juga bisa menempatkan pemahaman hidup dengan baik pula. Itu memiliki korelasi yang mungkin menarik direnungkan. Ingatkan orang-orang di sekitar kalian, termasuk orang tua, agar bisa menahan diri. Jika susah melakukannya, pastikan, generasi berikutnya, anak-anak kita, tidak mengalami hal yang sama kita alami. sumber
 Masalah resepsi dan pestanya. Eaa. Emang kapan nikah kok shared beginian? Ya nggak apa-apa donk. Justru ini perencanaan dan pengetahuan soal pernikahan. Ehem, lagi musim soalnya. Musim nikah. Eh?

Menurut saya, tradisi kita sebagai masyarakat Indonesia yang beragam termasuk di dalamnya adalah upacara adat dalam pernikahan itu tidak perlu dibuang. Hanya karena alasan buang-buang duit. Kalau mampu ya nggak masalah kan? :D

Nah kalau tidak ada dana, ya nggak perlu memaksa. Toh pernikahan adalah sebuah kerelaan kan. Bukan pemaksaan perjodohan. Pernikahan kan dilakukan oleh dua orang. Apa iya nikah cuman satu orang? Jadi ada dua keluarga yang terlibat di dalamnya. Bukan cuman keluarga inti saja, tetapi juga keluarga besar. Segala macam acara hajatan itu didiskusikan oleh dua keluarga. Mau seperti apa, bagaimana dengan dananya, tempat dll.

Kalau hanya memikirkan diri sendiri yang nggak mau pesta besar sih ya bisa. Wong nggak ada yang ngelarang. Tetapi bagaimana dengan pihak keluarga laki-lakinya. Apalagi kalau anak semata wayang dari keluarga terpandang pula. Mana...mana? *mata jelalatan* Mereka pasti menginginkan yang terbaik mewah. Apa kamu akan menentang? Karena tidak sesuai dengan prinsip kesederhanaanmu. Hihi.

Nah di sini pentingnya musyawarah. Antara pihak perempuan dan laki-laki. Boleh saja kok, menikah tanpa resepsi, tanpa pesta. Nggak ada larangan. Yang penting ada ijabnya kan? Tetapi boleh juga menyelenggarakan pesta yang besar. Duit-duit kalian sendiri kok. Tetapi buat saya, daripada duit puluhan juta itu pesta semalam lebih baik duit itu buat modal usaha jalan-jalan ke Eropa. 

Pernikahan memang cuman sekali sih ada lebih dari sekali seumur hidup. Dan moment itu memang harus disiapkan sebaik mungkin. Tetapi jangan sampai moment itu malah meninggalkan hutang setelahnya. Pernikahan kan nggak cuma sehari. Pesta itu kan awal, kehidupan sebenarnya baru dimulai setelah itu. Bukan lagi saya, tetapi kita. Iya aku dan kamu. Eaa. Keberlangsungan hidup yang akan dijalani. Apa mau, setelah itu bukannya mikir jangka panjang, alias masa depan kalian dan anak-anak, kok malah terbebani oleh hutang resepsi pernikahan. Aduh sakitnya di dompet, kakak.

Jadi bagaimana resepsi pernikahan yang akan kamu gelar? Biaya yang dibutuhkan. Siapa saja tamu yang akan diundang. Ups yang lebih penting lagi, nikah sama siapa? Boleh saja merencanakan resepsi versimu, tetapi jangan lupa didiskusikan dengan pasanganmu. Ingat ya, pernikahan itu kesediaan dua belah pihak. Kalau salah satunya nggak bersedia gimana? nggak jadi nikah  Dimusyarakan saja antara dua belah pihak. Baik pasangan dan keluarga besarnya.

Untuk menyiasati agar bujet pernikahan tidak membengkak, beberapa  tips untuk menghemat bujet pernikahan menurut cuteabis.com adalah tidak perlu menyewa gedung yang mahal untuk resepsi pernikahan. Karena rumah sendiri pun bisa menjadi tempat acara resepsi. Selanjutnya adalah membatasi jumlah tamu undangan. Banyaknya tamu undangan juga akan menambah jumlah kursi serta jumlah makanan yang akan disediakan. Jadi untuk mengurangi bujet, sebaiknya undangan untuk keluarga, tetangga dan teman-teman terdekat saja. 



























































Comments

  1. Agak susah untuk kalangan ortunya, vey. Kadang ada yang pengin sederhana tapi tetangga atau kerabat nyecer kalo tidak sesuai harapan.

    ReplyDelete
  2. Iya, betul kata Ila di atas. Agak susah. Emang maunya sederhana, tapi lingkungannya gak bisa diajak sederhana. Entar yang ada munculin cibiran. Jadi sama-sama masalah kan? Intinya semampunya aja dan gak nyusahin orang.

    Amplopan bukan ngajakin ngutang :D Resepsi itu seperti beli makan sendiri. Haha, duitnya buat nomboki makanannya. Toh si undangan yang wanti-wanti, "Undang-undang loh!"

    entar kalo gak diundang mencibir, kalau diundang si pemilih hajatan kudu persiapin stok makanan yang banyak.
    Nah kalau bikin acara besar-besaran ya... gimana? Temennya yang diundang banyak. Wakakak..
    intinya semampunya aja. :)

    ReplyDelete
  3. iya sekarang kebanyakan resepsi gitu cuma buat ajang pamer kekayaan. malah ada kan yang nikahan ampe diliput tv 2 hari 2 malem haha

    ReplyDelete
  4. kadang kia pengennya sederhana, tapi orangtua ingin yang agak ramai. ini yg harus dicari jalan tengahnya ya :)

    ReplyDelete
  5. Hmm.. catatan yg menarik, dek :D

    ReplyDelete
  6. Keren nih. Bisa jadi renungan juga. Mau nikah sama siapa? :D

    ReplyDelete
  7. Masalahnya terkadang saat dibicarakan bersama dari pihak keluarga wanita pasti ingin suatu resepsi yang mewah. Karena berpikir itu sekali seumur hidup jadi banyak ngerasa nggak apa-apa jika mewah, kan cuma sekali buat kenangan.

    Itu yang kadng jadi masalah banget.

    ReplyDelete
  8. Wih, bahasannya pernikahan. Karena saya masih SMA, mungkin 10 tahun lagi baru bisa lebih memahami pembahasan ini.
    Tapi ngebaca poin-poin diatas ada benarnya juga sih. Banyak yang salah mengartikan resepsi pernikahan. Yang harusnya menjadi ajang menaati perintah rasul, eh malah jadi ajang maksiat. Penyanyi dangdut yang buka-bukaan lah, bapak-bapaknya nyawer sampe nggak inget anak istri lah.. hadeuhh..

    ReplyDelete
  9. resepsi pernikahan sekarang memang agak berlebihan dan terkesan sepertinya ingin "wah". Terkadang lupa akan esensi dan makna dari resepsi pernikahan itu sendiri. Kesederhanaan tentunya lebih baik daripada terlalu mewah dan sebagainya. Meskipun resepsi pernikahan ini hanya sekali seumur hidup

    ReplyDelete
  10. yak, tradisi pernikahan di negri ini memang beragam. hal itu cukup indah..
    wih, tere liye. itu orang banyak menginspirasi yak... bukunya juga bagus2

    ReplyDelete
  11. Dulu pas lihat orang nikah dengan beragam acara, ada yang adat jawa dat ini adat itu jadi pengen nanti kalau nikah begini dan begitu.
    Tapi semakin kesini jadi berpikir kalau terkadang resepsi pernikahan dijadikan ajang pamer kekayaan.
    Padahal mungkin niatnya baik, nikah sekali seumur hidup jadi pengen di rayain merriah, tapi disisi lain persiapan uang juga harus banyak :D

    ReplyDelete
  12. kalo q sih pengennya ntar nikah secara sederhana aja...ga pake resepsi
    cm keluarga aja
    paling cm pesen makanan ama bkin baju aja... :)
    duid nya bs buat .jalan2 bareng keluarga besar...
    tapi tipsnya ngebantu :)

    ReplyDelete
  13. klo aku nikah nanti nggk perlu bermegah megah, karena bermegah itu melalaikan......hehe

    ku belum berpikir untuk masalah pernikahanku nanti karena aku sendiri belum ada calon jodoh.........wkwkwkwkw :v

    ReplyDelete
  14. Setuju !!!

    Kalo aku pribadi, dana yang harusnya bisa dipake untuk resepsi gede-gedean sebaiknya dialokasikan untuk hari-hari setelahnya. Perjuangan masih panjang kan, hihihi...

    Etapi meski sederhana, konsumsi untuk tamu undangan teteup harus high quality karena point ini penting yang paling sering 'dirasani' tamunya. Eh makanannya enak, eh makanannya biasa, hahaaa...

    ReplyDelete
  15. Gue belum ada kepikiran sejauh ini,apalagi gue yang masih SMA , hahaha.

    Kalau nikah nanti sih,gue mau ya digedung gitu sih,pakaiannya ya kemungkinan besar pakaian adat sih ya ?

    ReplyDelete
  16. Motivasi itu datangnya bisa dari mana saja, termasuk dari status tere liye :)

    Wah pernikahan, jadi pengen.. hehe
    Aku sendiri malah pengen nikah itu yang sederhana, toh yang penting sah :)

    Uang lebihnya pengen dipake jalan2 gitu sama pasangan halalnya :)

    ReplyDelete
  17. Sekarang terpikir untuk gak pengen buat pesta yang megah, karena bagi aku sih lebih baik uangnya untuk honeymoon. Tapi entahlah kalo waktunya udah datang, gimana pertimbangan dengan orang tua, pasti bakalan beda pendapat.

    Umur masih 21 udah ngomongin nikah :D.

    Masalah tanggal baik masih ada loh di keluarga ku. Kakek dari ibu masih memegang itu. Kemaren ibu bangun rumah harus nunggu tanggal baik dari kakek baru pembangunan dilakukan. Aku kurang setuju sih sama tanggal baik ini, berasa ada mistisnya gitu.

    Tapi, mereka pasti bilang, "Tau apa? Kakek udah makan asam garam kehidupan." Susah menghubungkan ke realita.

    ReplyDelete
  18. Kebetulan kerjaanku mendekorasi background pengantin. Udah sering dan banyak yang aku kerjakan, tapi akunya malah belum wkwkwk. Belum saatnya kali ya

    ReplyDelete
  19. pas banget nih minggu lalu kakak gue baru aja nikah, ya betul, untuk hemat budget bisa di halaman rumah aja :))

    etapi kalo diliat2 kayaknya acara2 resepsi gini masih kerasa gengsinya, jarang yang sederhana, maunya mewah :')

    ReplyDelete
  20. Nah kembali ke tujuan nikah ya. gue banyak banget dapat pelajaran di sini ttg ilmu resepsi pernikahan. Dari sini juga kayaknya nikah itu harus pikir panjang dulu. dari acaranya sampai yg lain2 nya

    ReplyDelete
  21. Weh, udah baca yang begini aja nih hehehe.. baru aja gue bikin ktp padahal, keknya ketuaan udah mikir kepengen nikah aja yak. Intinya cari jodohnya dulu ya huahaha...

    Tapi karna baca postingan ini, ya jadi tepaksa paham apa itu resepsi.

    ReplyDelete
  22. Pembahasannya daleem banget, hehehe . Oia, soal undangan Kalo menurutku jika sudah buat acara resepsi mengundang orang dengan batasan memang baik mengingat stok budget makanan terbatas, tetapi menikah (resepsi /memberitahukan) adalah juga Sunnah. Percayalah, kadang pas yang seperti itu rejeki tak terduga bisa terjadi dari Allah SWT melalui tamu tamu yang kita tidak tau yang mana #duh,bahasaku

    ReplyDelete

Post a Comment

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.

Popular posts from this blog

Jari, Onyx Asli Bojonegoro