Sunday, April 5, 2015

Mlipir Madiun-Magetan

Sudah bosan di rumah. Butuh refresing. Sebelum memulai dunia baru di Bojonegoro lagi. Ditambah lagi Caboru sudah lama gak eksis. Sebagai pembolang baru. :D

Ada tawaran ke Magetan. Mikir... akhirnya kuiyakan saja. Yesh! Mbolang luar kota. Udah kebelet ngirup udara luar kota Bojonegoro nih. Kangen suhu yang menggigit kaki dan jiwa. Kangen sama langit yang berbeda,tata kota, bahasa, dan orang-orang yang berbeda pula. Hiburan apa yang paling menyenangkan selain Jalan-jalan? ;)

banyak ya tiketnya? ada parkir, asuransi, tiket masuk, pmi juga


Sayangnya rencana yang dijadwalkan Jumat, untuk melihat festifal di Magetan harus batal. Akhirnya Sabtu baru berangkat, tetapi berbeda tujuan. Melipir ke rumah Shinta Ar. Shinta adalah kawan perjuangan di rumah baca. Tetapi lebih dari itu, kami sudah seperti saudara. Ketika tak ada teman main. Saya merasa aneh. gila! Baru terasa sepinya nggak ada dia. :P


Sekitar jam delapan kami berangkat. Saya bersama seorang kawan tukang ngulutus, Cumcum. Nama Aslinya? Ah sudahlah, abaikan saja nama asli. :D Kami lewat Nganjuk, baru masuk ke kota Madiun.Di pom Nganjuk, saya baru telpon Shinta kalau saya mau ke rumah barunya. Iya, dia jadi ibu rumah tangga. Eh nganten anyar. :D


Dan kata-kata yang meluncur dari bibirnya adalah. "Stres!"

Yak. Saya dikatain stres. Gara-gara nggak bilang jauh-jauh hari. Sebenarnya kalau sudah tau alamatnya, saya maunya bikin surprise. Tapi karena saya buta arah, jadi saya urungkan saja. Iya kalau ketemu. Kalo enggak? Wong paketan buku yang saya kirim beberapa hari lalu saja nyasar kok. Hihihi


Ketika sudah sampai di Jiwan, kami melipir ke pinggir jalan. Gps nya Cum, di setting Terminal Maospati. Hanya saja alamatnya Shinta itu di Jiwan. Takut karena kebablasan, saya menelpon Shinta. Sialnya shinta juga gak tau daerah situ. Jadi harus telpon suaminya dulu. Hahaha. Nah lo, untung kan, gak ada rencana bikin kejutan. :D


Setelah mendapat arahan dari Mas Ar, suaminya Shinta. Kami mencoba bertanya sari satu orang ke orang. Maklum, belum terpantau via GPS. Hihi.


Finally, sampailah kami di depan rumah. Karena takut salah rumah, saya kembali menelpon Shinta memintanya agar keluar rumah. Emang dasarnya Shinta, jadi dia masih rempong sendiri di dalam rumah. Histeris? Enggak. Belum ada satu bulan kok kami berpisah, jadi masih biasa aja. Sambil nunggu Mas ar pulang, Shinta ngajak masak-masak. Inilah rutinitas yang berbeda. Bayangin aja, dulu ketika ada tamu datang, paling banter saya cuma nyedian minum sama cemilan. Nah lo, kalo sekarang? Sebagai perempuan dewasa, kami sendiri yang menyiapkan jamuan makan siang. :D


Singkat cerita setelah makan, kami langsung meluncur Sarangan Magetan. Shinta berkoar kalau cuma menempuh 30 menit naik motor. Tapi rupanya jauh dari 30 menit. Sekitar satu jam lebih. Saya dan Cumcum sepakat bahwa estimasi waktu yang disebutkan Shinta adalah estimasi waktu Mas Ar nyetir sendirian. Dan bukan bawa penumpang. Hiaaa...


Tetapi perjalanannya sangat tidak membosankan, Mengagumkan rek! Serius. Cumcum udah ngiler aja liat Lawu. Mau muncak gitu, sindrom maniak hiking ya begitu. Tetapi sumprit Puncak lawu di atas permen kapas eh awan itu ... *diam sejenak memutar ulang ingatan* cantiiiiiiiiiiik banget. Seolah-olah Lawu melayang ada di atas awan, dan bukan menancap di bumi. 

Perjalanan yang meliuk-liuk di temani pemadangan kota terasering hijau membuat saya terharu. Lebih lagi jalannya muluuuus. Tanpa tuing-tuing yang menganggu (jalan jelek, red).


 

Sampailah di Sarangan. Yosh! Akhirnya saya memenuhi janji. Ketika ibu saya pergi dengan rombongan rt, saya nggak ikut. Iyalah badan capek masa mau diajak rekreasi sedang besok balik kerja. Namun akhirnya saya sendiri menjejak Sarangan. Udara dingin mulai menggigit kaki dan tangan. Jangan sungkan-sungkan untuk membersihkan paru-paru dengan bernafas panjang sering-sering di sini yak. Sangat dianjurkan!


Satu fakta yang baru saya tahu dari Cumcum. Kalau merebus air di sini tidak bisa 100 derajat celcius. Di daerah tinggi, suhu akan semakin dingin. Jadi hanya sekitar 70-80 derajat saja. Entar di googling deh, bener gak. :D

 

diambil dan dipublish tanpa ijin :v

 

Shinta Ar, my little angle with her favourit action :)

 


"Tuh kan, seharusnya duduk di sini tadi."

"Siapa yang minta berhenti di sana tadi."

Saya diam. Sial!


"Satu hal yang saya sadari ketika berada di tempat baru adalah orang-orang sering mengatakan 'loh ini ada tempat yang bagus dari yang tadi'," ujarnya.


"Karena itu gunanya traveling,"timpal saya."Selalu ada kejutan di akhir."

 

Shinta dengan beribu upaya meminta saya untuk menginap. Kemudian besok diajak ke Pacitan. Ah Shinta, kamu tidak tau saya. Ketika sudah memutuskan sesuatu, sampai kamu nangis juga, saya nggak mengubah keputusan saya.

 

Jam lima saya dan Cumcum pulang kembali ke Bojonegoro lewat Ngawi. Lupa pada gerhana jam 7 karena pada saat itu berada di Watu Jago, turun hujan pula.  Jam sembilan lebih sedikit saya sampai rumah. Absen dari Purnama Sastra lagi. Uuh! -_-


Terakhir, terima kasih Cumcum sudah mengantar saya. :D Besok-besok lagi yak. Maulah kalau tak culik ke lain tempat. :v

Dan Shinta juga Mas Ar, terima kasih jamuannya. Untuk Shinta, kutunggu kamu hari Kamis depan di Bojonegoro yak. Ayuk melanjutkan kencan kita. Hahaha.


Sumprit, ini foto keren yak! Emang beda yang pegang hp. Cumcum! Ajarin ambil foto keren ^o^

 

Senja di perjalanan pulang menuju Bojonegoro (diambil di Magetan)






Sastra dengan riangnya bercerita dan berpuisi. Sedang aku meniti hujan serta kata. Menjahitnya kemudian melapisi dengan cahaya. Jadilah dongeng gerhana. Gerhana hari ini.
‪#‎feyaa‬


6 comments:

  1. Ih keren banget...kapan aku bisa kesana >.<

    ReplyDelete
  2. Whoooooaaaaa indah banget pemandangannya xD

    ReplyDelete
  3. saya baru tau, lho, kalau di tempat tertentu merebus air gak sampe 100 derajat celcius. Googling, ah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak bener, karena tekanan udara rendah. kalo di 1 atm suhu air mendidih di bawah 100 derajat

      Delete

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.