Buku bercerita : Cerita Sayaka

credit foto : Rachmat Tri Sumitro
 Kali ini Saya berjalan pelan menikmati senja di jemabatan yang melintang di atas sungai sejarah Jawa, Bengawan Solo. Ujung jilbab merahnya menari ditiup angin. Suara bising deru motor pun memecah sunyi kala itu. Saya berhenti sebentar untuk melepas sandal dan menentengnya. 

Saya menggumam sebuah nyanyian yang mungkin kau kenal juga.

Dan mungkin bila nanti kita kan bertemu lagi
Satu pintaku jangan kau coba tanyakan kembali
Rasa yang kutinggal mati
Seperti hari kemarin saat semua disini

Saya berhenti menatap senja yang merona malu. Hendak pamit padanya. "Pergilah pelan-pelan, kawan. Agar rasa kehilangan itu tak kutanggung sekaligus," ucapnya sambil tersenyum. Saya berhenti dan menatap senja itu lama sekali. Kemudian dia duduk di jembatan menghadap senja.

"Sayangnya Mei tak pernah sepertimu, Senja. Tiba-tiba dia menghilang di telan waktu. Aku rindu padanya Tetapi aku tidak mungkin bisa bicara padanya. Dia tak akan mau menyisakan sedikit detik untukku, ah bukan. Apalagi hanya untukku. Proyeknya jauh lebih berharga daripada sekadar mengucapkan 'Ohayo'," Saya melempar sendalnya ke Bengawan Solo,"Brengsek!"

Dari balik mega merahnya, Senja hanya bisa terkikik geli. Bukan pertama kalinya, dia melihat Saya seperti itu. Dari emosi yang berusaha ditahan-tahan kemudian meledak secara tiba-tiba. Seperti anak SMA. 

"Hei! Aku dengar itu Senja!" teriaknya, kemudian Saya malah tersenyum. "Aku bukan remaja sayangnya, Padahal seandainya saja usiaku sama seperti Mei. Mungkin aku tidak akan semarah ini."

Lagi-lagi Saya menggumam,"Meidi...Meidi..."

Comments

  1. Timbul tanya, siapakan meidi? dia saudaranya mekdi kah? .__.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha aku belum tanya apakah dia saudaranya Mekdi atau bukan

      Delete
  2. Jujur, aku bingung..
    Itu cerpen atau apa ya? Kok ceritanya tiba-tiba ya??

    oOkkk... judulnya emang buku bercerita, tapi tentang apa?

    Tapi bolehlah, aku suka lagu Peterpan aka Noah.. mungkin bila nanti.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya memang ini namanya flash fiction. Jadi hanya 300 kata :D

      Delete
  3. Ini 'Saya' itu si Sayaka kan, dan bukan sebagai kata ganti 'aku'? :o
    hehe namanya bikin rancu :D

    suka sama personifikasinya senja, serasa hidup sekali ceritanya. Dan saya msh bingung, siapa itu Mei?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang tujuannya begitu. Hahaha Saya itu nama orang. :D
      Mei kekasih sayaka dulunya

      Delete
  4. Aku nangkepnya ini dia lagi menatap senja sembari mengenang kekasihnya yang pergi, sepertinya lagi mengejar karir atau semacamnya ya kak. Jadi dia kesel, tapi cinta gitu hehe maaf kalo salah. Aku emang lemot memhami flashfiction hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya begitu dia berpisah sama kekasihnya :D

      Delete
  5. Saya ini nama orang? Kok gue agak bingung ya bacanya. :'))

    Kalo yg gue tangkap sih si tokoh ini (saya) kesal karena ditinggal Mei dan melampiaskannya dengan ngedumel pas senja. ._.

    ReplyDelete
  6. Ini cerpen atau sebuah curhatan mbk, isinya aku kurang paham atau emng akunya yang kurang pinter?

    Pakai nyanyi lagunya peterpen segala kayak anak SMA wekekek, btw latarnya ini di dekat sungai Bengawan Solo ya, tetanggaan dong sama aku mbk.

    ReplyDelete
  7. Cerpen ya ? aku suka gaya bahasa kamu menuliskan ini di blog mu.Tapi memang ada beberapa kalimat yang aku belum paham . Tapi tetep bagus kok.

    ReplyDelete
  8. Bener kata bang Cipta, personifikasi senjanya bagus banget, begitu detil di jelaskan.

    Hmm gue juga agak sedikit bingung, mungkin perlu beberapa kalimat penjelas lagi. Hehe :D

    ReplyDelete
  9. awalnya bingung disaya itu...
    kirain saya itu aku

    rupanya itu nama :v hihihi

    bagus mbak

    ReplyDelete

Post a Comment

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.

Popular posts from this blog

Ini Soal Resepsi Pernikahan

Lima Wishlist Di Tahun Dua Nol Satu Tujuh