Cerminbung : Di antara Dua Warna

Prang!

Lucy mendongak dari balik pintu kamarnya. Apa lagi ini? Tubuhnya masih berbalut handuk basah. Cepat-cepat dia berganti baju dan merapikan rambutnya. Sebuah karet gelang diikatkan secara asal ke rambut pendeknya. Cukup pendek karena hanya bagian atas yang bisa diikat.

Lucy keluar kamar. Ah, masih belum dibereskan rupanya. Dia segera melipat kasur lantai dan membereskannya. Seorang laki-laki paruh baya hampir menabraknya.  "Ayah mau ke mana?" tanya Lucy.

"Pergi ke dokter," jawab lelaki yang dipanggil ayah tersebut tanpa berbalik menatap Lucy. Lelaki itu memakai tas selempang hijau. Tas yang bisa digunakannya untuk pergi jauh. Lucy terdiam menatap punggung lelaki tersebut.

"Lihat ayahmu. Masih saja dia begitu," teriak ibunya dari dapur. Bersamaan dengan suara isak tangis. Lagi-lagi Lucy terdiam.

***


Di mana ini? Kakinya terasa kram. Tak ada siapapun di sini. Giginya bergemelutuk riang. Kebiasaannya ketika rasa takut mencekam kini datang. Lucy benci sendirian.

Lucy kembali berjalan dan berjalan. Tak ada yang bisa dilakukannya selain berjalan. Tiba-tiba sebuah air menetes di telapak tangannya. Tanpa disadari matanya mulai bercucuran air. Terasa asin di mulutnya.

Lucy mulai berjalan cepat kemudian berlari. Dia ingin segera lari dari lorong ini. Di manakah ujungnya? Kenapa semuanya gelap gulita.

Seseorang berbisik di telinganya. "Lihat, tak ada yang tersisa di sini. Hanya kau sendirian."
Lucy menggeleng kuat. Suara itu semakin jelas. Lucy mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia tak boleh menyerah. Dengan cepat dihasusnya air mata dengan punggung tangan. Dia kembali berjalan.

"Percuma saja, kau tak akan pernah menemukan cahaya. Kau akan terperangkap selamanya di sini. Hahaha" Suara tersebut kini menertawakannya. Lucy bergeming. Dia tetap berjalan. Ayah, ibu, di mana kalian?

"Mereka tak memedulikanmu lagi Lucy. Mereka hanya peduli dengan urusannya sendiri. Mereka akan menemukan orang lain, dan tak bersama lagi. Dan kau pun akan terkucil di sini!"

"Diam kau! Mereka akan tetap bersama. Aku yakin itu." Lucy kembali melanjutkan perjalanan. Dia membayangkan saat bahagia bersama orangtuanya di Kebun binatang, kemudian ke WBL. Saat makan bersama di rumah. Lucy berebut telur dengan ayahnya. Tiba-tiba Lucy juga melihat keduanya beradu mulut. Bahkan ibunya membantin barang-barang di dapur. Hanya air mata dan amarah yang dilihat Lucy. Tak ada senyum di wajah mereka.

Dada Lucy menjadi berat. Dia menjadi sulit bernafas. Badannya terasa tak mampu digerakkan. Yang terjad i setelahnya badan Lucy tersungkur. Lucy hanya bisa menggerakkan jarinya. Kenapa dengan hidupku? Kenapa dengan tubuhku? Ayah, Ibu kenapa hal ini terjadi padaku?

Seorang perempuan datang. Lucy tak dapat melihat wajahnya. Yang bisa dilhatnya gaun putih menjulang sampai menutup kakinya. "Siapa kau? Mau apa kau?" tanya Lucy menarik gaun putih itu.

Perempuan itu berlutut dan kemudian memeluknya. Lucy pun tak bisa melihat wajahnya. Tetapi suara perempuan itu bergetar. "Lu-cy. Hari ini memang berat. Tetapi kau tak sendirian. Kembalilah ke tempatmu. Jangan menyerah. Aku selalu mengawasimu."

Lucy tak mengerti. "Kembali ke mana? Memangnya aku di mana?"

"Selalu ada dua warna yang bisa dilihat, hitam dan putih. Baik dan buruk. Kadang-kadang batas dua warna itu sangat samar."

"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!"

"Pulanglah, kembalilah ke tempatmu seharusnya berada."

***

Lucy membuka matanya. Banyak orang mengerubutinya. Kakinya terasa sakit sekali. Seseorang memberikannya minum air. Lucy menenggaknya dengan susah payah. Kepalanya terasa pusing sekali. Tetapi dia mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi.

Ayahnya tak pernah pulang setelah kejadian itu. Ibunya setiap hari hanya marah dan menangis. Lucy pun terjun dalam arena pertarungan jalan yang menantang. Di dalam kecepatan itulah dia merasakan beban hidupnya hilang. Semuanya menyatu dalam angin yang berhembus di wajahnya.

Dan karena menghindari seorang anak kecil yang berlari di tengah jalan. Motornya menabrak truk dari arah berlawanan. Tubuhnya terlempar ke sisi jalan.


Bersambung....

Comments

  1. hmm, duuh makanya dong bawa motor jangan ngebut2 :D #salah fokus

    karena bersambung.. aku nunggu kelanjutannya ka, jangan lama yah :D hehee

    ReplyDelete
  2. Waah endingnya sedih... mudah2an Lucy tak terpengaruh dengan kejadian2 tak enak itu

    ReplyDelete
  3. Mudah2an lucy nya selamat darikecelakaan itu ... kasihan

    ReplyDelete
  4. WOW Keren nie artikernya
    Sambil baca artikel ini, Aku numpang promosi deh !
    Agen Bola, Bandar Bola Online, Situs Taruhan Bola, 7meter

    ReplyDelete

Post a Comment

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.

Popular posts from this blog

Ini Soal Resepsi Pernikahan

Lima Wishlist Di Tahun Dua Nol Satu Tujuh