Sunday, May 25, 2014

Cerita Mini : Move On

Mei menyampirkan selendang ke bahunya. Matanya menatap wajah yang ada di cermin. Wajahnya memang cantik, tetapi ditambah dengan riasan yang sempurna, penampilannya lebih seronok. Senyum tipis tersungging di wajahnya. Akhirnya, semua akan selesai di sini, pikirnya.


Mei melangkahkan kaki di gedung yang penuh manusia-manusia baru. Di mana setiap wajah tersenyum atau tertawa bahagia. Ada  beberapa pasangan yang saling mengenggam tangan, dan Mei menundukkan kepala. Tuhan, semoga dia baik-baik saja.

Acara tersebut ditutup dengan semua orang melemparkan topi ke angkasa. Menandakan bahwa mereka adalah
manusia-manusia baru. Yaitu bersiap mengadu nasib menjadi pekerja.


"Selamat ya Mei, kamu lulus dengan nilai terbaik di kelas ini," Rara memeluknya.

Mei tersenyum, "Terima kasih Ra, selamat juga akan menemph hidup baru. Jadi bagaimana rencanamu selanjutnya?"

Rara menarik tangannya menuju bangku di sudut taman. "Iya, aku akan ikut suamiku ke Jakarta. Kamu bagaimana? Jangan kelamaan jomblo loh."

Mei tertawa renyah. "Doakan saja. Semoga aku ketemu dengan pria yang tepat."

Rara menggenggam tangan Mei, "kau tahu Mei," ucapnya menerawang, "dulu aku iri sekali padamu. Kau memiliki segalanya. Kau memiliki wajah yang cantik, otak yang cerdas, mudah bergaul dengan siapa saja. Berbeda denganku, yang selalu kikuk menghadapi oranglain."

Mei terperangah,"Ha? Itu kebalik, aku yang harusnya iri padamu."

Rara menggeleng,"Tidak. Pernah, aku ingin mencekikmu, karena kau lulus ujian Mata Kuliah Pak Rudi dengan nilai memuaskan. Sedangkan aku? Gagal."

Mei menarik nafas dalam-dalam. "Kalau kau tahu apa yang telah kulakukan untuk mendapatkan nilai itu. Kau mungkin akan berpikir sebaliknya.

"Maksudmu?" tanya Rara penasaran.

"Sudahlah lupakan saja. Lantas apakah kau masih iri padaku?"

"Ah, yang benar saja, Tentu saja masih. Lihat, kau lulus dengan predikat cumloude. Siapa yang tidak iri coba?"   Rara berdiri, meliriknya. "Bohong kok. Aku tidak iri padamu lagi. Aku memiliki suami yang cinta padaku. Dengan semua yang telah terjadi, kau bersyukur aku tidak sendiri lagi. Kau mengerti maksudku?"


Mei mengangguk. "Yah, aku iri padamu soal itu. Haha. Kau menikah lebih dulu, dengan Pak Lulus apalagi. Siapa yang menyangka tempat magang kita menjadi awal perubahan untuk kita semua?"

Rara kembali memeluknya. "Aku akan merindukanmu. Jangan menghilang, kau tidak pernah sendirian, percayalah. Aku akan membantumu sebisaku."

Mei melepas pelukan Rara, "Terima kasih Ra, tetapi aku sudah mantab akan meninggalkan Indonesia. Semoga lain kali kita bisa bertemu lagi."

Rara menggigit bibirnya. "Tetapi kau akan kembali kan?

Mei menggeleng, "aku tidak yakin."

***

Mei mengepaki ranselnya. Aku memang tidak mungkin tinggal di sini lagi. Saatnya untuk menempuh hidup baru yang bebas dari kutukan konyol ini. Mei berdiri di depan pintu, kakinya gemetar. Bagaimana bila semua rencana yang telah disusunya sedemikian rupa gagal? Apakah dia akan kembali terseret ke dalam kegelapan?

Samar-samar dia mendengar suara mobil berhenti. Mei mengintip, ada sebuah taksi yang menunggunya di luar. Baiklah, aku harus pergi sekarang. Dengan sigap Mei menggendong Ransel dan  berjalan cepat menuju pintu luar. Ketika mencapai gerbang, beberapa orang menyadari kepergiannya. Mereka berteriak menyuruh Mei berhenti.

Mei tidak akan berhenti di sini. Dia segera melompat ke dalam taksi." Bandara Juanda Pak, tolong yang cepet ya Pak" ucapnya santun. Mei mengeluarkan sebuah handphone dari sakunya. Dia memencet suatu tombol.
"Maafkan aku, aku hanya ingin hidup bebas. Bukan Merpati di dalam sangkar. Maafkan aku."

Di belakang Taksi Mei. Sebuah bom meledak dari dalam rumah paling mewah yang ada di kawasan situ. Sebuah rumah yang diduga sebagai tempat prostitusi ilegal.

*diposting di Grup Panggung Aksara tarian Pena dalam acara Tiga Kata

10 comments:

  1. Kirain gue ini kayak move on move on pada umumnya; ga jauh dari pacar blablabla. Tapi ini beda, ya. Latarnya lebih ke kehidupan sosial dan kehidupan orang dewasa, bagus deeh beda dari yang lain. Yang bisa gue tangkep makna move on disini adalah bergerak, mencari sesuatu yang baru buat hidup yang lebih baik, bener gak? Maap kalo soktau wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, aku sudah bosan dengan segala move on pacar. Buat yang beda.
      Iyaa, dia ingin kehidupannya jauh lebih baik. Bukan tenggelam dalam lumpur hitam. :D

      Delete
  2. Kak Vera saran dong.. itu yang paragraf ke-4 dari bawah, kan tokohnya Mei. Kenapa tiba-tiba jadi aku? kalo emang si Mei berbicara pada dirinya sendiri, ada baiknya dicetak miring gitu. Jadi kurang lebih kayak gini, biar pembaca enggak bingung..

    Mei mengepaki ranselnya. Aku memang tidak mungkin tinggal di sini lagi. Saatnya untuk menempuh hidup baru yang bebas dari kutukan konyol ini. Mei berdiri di depan pintu, kakinya gemetar.

    Soal cerita.. ini si Mei kupu-kupu malam ya, kak? Aku nangkepnya gitu, hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah kau menemukan sesuatu yang luput dariku yah, Haha. Harusnya, ada penegegasa yah. Seperti 'pikirnya, batinnya'. Makasiih sudah mengingatkan Huda.

      Iya dia memang Kupu-kupu malam yang ingin bebas dan memulai hidup baru.

      Delete
  3. agak ekstrim juga sih kalo si mei pake acara ngebom segala .___.)/
    wkwk. nanti bukannya bebas malah jadi inceran polisi :O
    kalo untuk penulisannya sih gue gak bisa komentar banyak, karna juga gak jago nulis kayak begini hehe
    mgkn karna ceritanya pendek jadi gak bisa terlalu ngejelasin banyak, terkesan banyak fakta yang tertutupi jadi pembaca mesti mikir keras dan nerawang jalan ceritanya. Semoga next bisa buat fiksi yang lebih komplit :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, percaya nggak sih. Jauh lebih mudah lolos dari polisi daripada gembong mafia? :)

      Iya, ini memang cerita mini. Jadi semini mungkin informasinya. Haha. Makasiih yaaa

      Delete
  4. setelah baca ini, emang bener banget dan terbukti banget kalo gak move on-move on itu emang menyakitkan, makanya harus move on dengan cara yang terbilang brutal.

    move on di sini juga gak kayak orang kebanyakan, punya prespektif yang baru, bukan cuma move on dari pacar tapi bisa juga dengan kehidupan dan rutinitas sehari-hari, Keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener. Move on itu bukan beraryi cuma pacar. Tetapi segalanya juga bisa. Move on dari kebiasaan buruk misalnya. Makasih. :)

      Delete
  5. gue lihat judulnya, gue kirain ini semacam move on yang kayak anak muda jaman sekarang, move on dari orang yang dicintai. tapi makin ke bawah gue tahu kalo ini bukan move on tentang cinta. tetapi move on untuk kehidupan yang lebih baik.

    si tokoh Mei agak frontal juga sih pake ngebom segala. tapi kalo itu demi kebaikan ya gapapa sih. jadi itu juga kenapa alasannya kenapa Mei belum nemu cowok yang tepat soalnya dia dijadiin 'kupu-kupu malam'

    keren ini fiksinya Kak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Judul yang menjebak ya.. hehe

      Makasiiih :)

      Delete

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.