Friday, May 2, 2014

Buka Puasa Di Hutan Jati Bojonegoro

Acara masak-masak itu sudah biasa. Yang nggak biasa itu tempatnya. Mungkin para pecinta gunung juga sudah biasa makan di gunung ala kadarnya. Tetapi kalau anak rumahan yang berangkat? Makanannya pun istimewa, seistimewa orang-orang yang melakukannya. *senyuum lebar*

Acara buka puasa di hutan jati Bojonegoro ini adalah usulannya entah siapa. Saya tidak tahu. Saya cuma ikutan ajah. Hihihi. Kepala suku adalah Tulus. Koki utama yang sudah pasti Mas Tohir. Serta bagian kultumnya Mas Bambang.



Persiapan yang disms Mas Tohir adalah :
  • Jas hujan
  • air minum @orang 5 liter
  • makanan ringan
  • sejadah
Acaranya adalah :
  • Masak-masak
  • Makan-makan
  • Foto-foto
  • Jalan-jalan

Dibaca dengan teliti nggak, bahwa dibagian persiapan ada yang janggal. Itu tuh masing-masing orang bawa 5 liter air. Haha, saya sih sudah tahu kalau ini cuma keisengan Mas Tohir. Tetapi Olip?
Hihihi, katanya setelah di sms Mas Tohir, dia langsung ke warung beli persiapan. Dan dia tanya air yang lima liter, bahkan sampai penjualnya heran, buat apa air sebanyak itu, disuruh bawa galon sekalian. Wekekeke.

Sayangnya pas malem, banyak bejibun sms yang masuk. Mas Tohir sms untuk bawa jas hujan, makanan ringan, air minum 5 liter per orang. Saya ketawa. 5 Liter satu orang, nih Mas Tohir pasti kumat. Malamnya antara Olip dan Mas Tohir sepertinya tidak sepakat, aku malah jadi bingung. Ini acara jadi apa enggak. Rupanya mereka pada kumpul dan saya tidak diajak? *pundung* Dan itu ambigu antara berangkat atau tidak. Haduh, saya sudah males deh... Kalau enggak berangkat ya sudah. dan bener, saya baru bangun jam 6. Hihihi. Rupaya jadwal acaranya dimundurkan jam 11.

Jam 11 saya berangkat ke Rumah Baca. Yang ada hanya  krucil-krucil penunggu rumah baca. Nah yang lain mana? Uh~ molor kumat. Iseng-iseng ngelihat isi kardus di belakang. Isinya panci, tomat, wajan, layung. Heiyaaa kami bakal masak-masak di sana. Saya cuma bawa air minum 1 liter, kipas. Udah itu ajah. Soal makanan biar urusan teman-teman.

Menunggu
Menanti kepala suku
Yang ternyata butuh ngecharge kamera, nunggu mas Faisol yang tahu tempatnya, nunggu Wulan yang dalam perjalanan. Euuuu~ kami baru berangkat sekitar jam 1. Baguuus!

Saya sudah protes, nggak mau nyetir. Tetapi Mas Toh bilang karena yang lain puasa, jadi yang nggak puasa harus nyetir. Asem! Shinta mbonceng Mas faisol. Wulan dengan Mas Bambang. Tulus mbonceng Mas Tohir.
Kepala suku alias Tulus sudah kayak orang mau pingsan. Iyah pucet banget. Nggak tega jadinya nyuruh dia nyetir. Alhasil saya diboncengkan Olip. Kami berhenti di warung. Beli telur, bumbu instan, tempe, dan lain-lain. Karena saya diprotes lagi, jadilah saya menyetir... Kasian Olip yang puasa.

Agak sempat nyasar juga sih. Tetapi melewati hutan itu adem bangeeeet. Aku baru ke sana. Nyrai tempat yang cocok untuk main camping-campingan. Heuheu. Kami berhenti di jembatan. Niatnya sih mau camping di pinggir sendang. Tetapi lokasinya belom ketemu. Sedangkan jumlah air minumnya kurang. 

Kepala suku dan Mas Faisol pergi membeli air air sekalian cari tempat yang nyaman. Sedangkan kami menunggu di sini. Tentu saja nggak ketinggalan foto-foto.

Setelah menemukan tempat yang nyaman. Berbeda dengan tujuan semula, yaitu dekat sendang. kami memilih di hutan pinggir jalan. Karena sendangnya kotor.  Langsung gelar tikar. Bongkar bawaaan, untuk persiapan masak makanan berbuka puasa. (walaupun saya nggak puasa)

Sambil masak, ada yang gantian Sholat. Wudhunya pakai air aqua botol. Hihihi. 
Wulan dan Olip
Kepala Suku dan adiknya, wulan :P

Dari kiri saya, Shinta, Olip, Mas Tohir (pakai keresek hitam), Mas Bambang,, Wulan


Yey, makanan sudah jadi. Nasi, tempe goreng, dadar telur, sayur lodeh, orak-arik telur plus layung, sambel



Sambalnya ulekane Mas Tohir, pasti makyus~

Mari berbuka puasaaa~


 Ala kadarnya, tapi istimewa. Sempet sangsi juga, karena cuma bawa satu kompor, ngatasi nggak yak. Semua kekhawatiran itu hilang, setelah tahu bahwa walaupun kompornya kecil, apinya besar dan makananya cepet mateng. 

Nasinya dimasak nasi tim, tepung tempe menggunakan racikan siap jadi, begitu juga lodehnya. Sambelnya tetep pakai bumbu alami, yaitu terasi, bawang merah, bawang putih, cabai, tomat. Dan saya kemarin cuma sarapan aja. Jadi saat menyantapnya emang enaaak... ditambah dengan suasana yang dingin, sejuk.

Berkali-kali ada mobil yang lewat dan menyoraki, atau sepeda motor yang jalan perlahan melihat tingkah laku kami. "Sedang apa mereka?" tanya mereka. Hehehe. Yah beginilah kami... Selalu mencari yang aneh-aneh...

"Terima kasih karena telah hadir di acara yang begitu sederhana. Terima kasih telah mentertawakan saya. Saya senang kalian juga ikut berbagi tawa." Khotbah Mas Tohir sebagai pembuka.

Disusul sepatah kata dari Olivia dan Shinta yang menahan isakan. Mungkin saja, acara ini begitu sederhana. Hanya masak dan berbagi tawa. Tetapi buat kami semua, momen-momen ini sangat berharga. Mungkin beberapa tahun lagi kami tak bisa seperti ini. Mungkin sudah beda kota, sudah menikah dan lain-lain.

Karena itu setiap acara diusahakan selalu diisi dengan ceria, cinta dan tawa.

"Acaranya ekstrim banget yo Mbak Ve," kata Kepala suku saat pulang. Iyah saya mbonceng dia. Nggak mungkin malem-malem saya nyetir kan? :D
"Nggak nyangka aja, anak rumahan seperti Olip, Shinta, Mbak Ve mau ajak diajak main di hutan," ucapnya heran sambil ketawa.

"Justru itu, karena ada yang tahu medannya, kami percaya aja. Ada kamu yang udah biasa keluar masuk gunung, ada Mas faisol, Mas Tohir, Mas Bambang yang pasti mengutamakan keselamatan para cewek-cewek. Kami percaya saja. Kapan lagi coba? Main kayak begini?"

Pulangnya kami muter temayang. Hahaha. Tetapi tetep saja seruuuu loh. Pengalaman pertama surup-surup berada di tengah hutan. Alhamdulillah nggak ada yang horor. Buat saya, pengalaman kemarin masih seperti mimpi. Cepet banget kejadiannya. Tetapi yah itu saya sendiri jarang loh main kepelosok hutan jati. Walaupun letaknya juga nggak jauh-jauh amat dari pusat kota. 

Sekali lagi, acaranya memang sangat sederhana. Cuma masak, makan, dan jalan-jalan. Kenapa nggak memilih cafe? ah udah keseringan dan nggak seseru ketika memasak sendiri. Entah itu higenis atau enggak, entah itu enak atau enggak, tetep seneng ajah. Tetapi selama ini, makananya enak-enak aja kok. :D

Kalau kamu gimana? Kemana mainnya sama teman-temanmu? :D






23 comments:

  1. waaaaaa, seruuuu bangeeet kaa..
    tapi aku belom pernah lho masih ada di utan maghrib-maghrib >.<
    tapi kalau sama temen-temen yg kita percaya, yg tadinya takut juga jadi berani ya ka :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya itu juga pertama kalinyaa Ranii...
      Iya kalau udah percaya ya berani ajah. hehehe

      Delete
  2. Kenapa ya bayanganku kalo ke hutan itu suka serem. Ya entah serem horor atau serem jahat. Tapi ceritamu berhasil bikin aku yakin kalo hutan nggak seserem itu haha.

    Aduh seru banget ya ke hutan bareng-bareng, (semacam) konvoi pake motor terus foto-foto. Akhirnya masak lalu makan. Meskipun masakannya sederhana banget, tapi momen kebersamaannya itu yang bikin istimewa. Iya, aku juga ngerasain banget kok kayak gitu. Nggak peduli masakannya sesederhana apa, tapi kalo dinikmati bareng-bareng istimewa banget. *udah kayak chibi aja deh ya*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe ini di Hutan Jati nggak begitu serem kok. Deket jalan raya~ jadi insya allah amaan.

      masakannya enak kok... beneran deh..
      Iya moment kebersamaannya itu yang berharga :)

      Delete
  3. Ah, keren kak ini anti mainstream banget gitu. Daripada main ke mall mending masak-masak di hutan gitu :D

    Wih, berani juga ya nyali kalian gitu sampai maghrib kayagitu kak. Kalo aku sih masak-masakannya paling di rumah teman belum pernah nyoba masak-masak dihutan kayagini :D
    Nanti deh aku cobain :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di sini nggak ada Mall. wekeke
      Iya hutannya nggak jauh-jauh amat dari kota kok. Lagipula dekat dengan jalan raya. Hehehe. :D

      Delete
  4. seru banget kak, gak pernah ada yang kepikiran buka buasa dan masak di hutan sampe di ketawain orang-orang yang lewat hihihi
    Sederhana tapi seru banget keliatannya kak :D
    Aku juga suka ngebolang, naik motor juga, walaupun gak sering tapi kebersamaanya gak bisa di lupain hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ngebloang emang seru. Bikin stres ilaaaang. Hohoho :)

      Delete
  5. seru banget makan makan di hutan.. foto proses makanannya mana -___-
    loh, ini kapan kejadiannya kok puasa sih? puasa sunah berjamaah?
    yang amna mana mas tohir? sekalinya ada fotonya ternyata ditutup pakai kresek

    ReplyDelete
    Replies
    1. Puasa bulan rajab Kukuh...
      Iya fotonya nggak diupload, kemarin belom diupload di grup. Ntar deh yak di upload. Mukanya Mas Tohir emang sengaja ditutupi kresek. Dia nggak mau terkenal soalnya. :D

      Delete
  6. seru banget petualangannya, vey.
    wow, 5 liter air? :D aku pernah denger juga, ada temen mau naik gunung disuruh bawa air sebanyak itu. berat euy :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, 5 liter itu untuk semua orang kok. Bukan per orang bawa 5 liter. Hahaha.
      Iya kalau naik gunung lebih ektrim mbak, kan buat keperluan makan dan mck juga. :D

      Delete
  7. asyik, bubar di hutan. rame rame . makanan nya itu bikin kk ngiler, apa lagi lihat sambat ditombok2 . emmm sedap

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe
      Iya sambelnya emang makyusss banget~

      Delete
  8. enak banget Ve,,seru tuh,,,pengen banget kaya itu pas zaman kuliah dulu tapi nggak keturutan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau sekrang sama suaminya donk mbak, nggak perlu buka puasa, tetapi menikmati suasana hutaan.

      Delete
  9. ini acara dari komunitas apa temen kuliah kak ve? rumah baca itu apa heheh...

    tapi keren banget, justru dari acara yang sederhana, terdapat sebuah keindahan kebersamaan di baliknya. Jujur, acara makan-makan kayak gini jauh lebih menyenangkan dari pada makan di resto atau semacamnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Komunitas Huda...
      Rumah baca itu semacam perpustakaan gitu, tetapi yang ini milik Komunitas Sindikat Baca.

      Iyah, makan di resto udah bosen. :D

      Delete
  10. Wah, keren. Walaupun acaranya sederhana tapi kebersamaannya luar biasa.

    Rumah baca kyk perpustakaan ya?

    ReplyDelete
  11. Makan ala kadarnya gak masalah yang penting kebersamaannya. Tapi kalo diliat dari gambar makannya enak lo, sempet ngiler juga liatnya.

    Meskipun gak tahu itu usalah siapa, yang pasti itu keren banget. Belum pernah nerasain buka puasa di hutan. Seru juga kayaknya

    ReplyDelete
  12. asikkasiikkk ini baru seru, membolang kalau kata org banjarmasin artinya berpetualang haha

    terasa banget kebersamaannya yaa :D

    ReplyDelete
  13. cc vera bikin iriiiiiii...aku juga pingin dong buka puasa di hutan kayak gitu,, walopun bisa dikata sederhana tapiii feelingnya itu pasti dapet banget, kebrsamaannya juga pasti dapet bangettt.

    tapi tapi ini bukannya belum bulan Ramadhan?? ato lagi buka puasa senin kamis? atau puasa Rajab ato apaan?? aduh ilmu agama aku cetek bangett @.@ ..

    ReplyDelete

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.