Buku Bercerita : Gagal Move On



Baru saja saya hendak membuka catatan yang berisi link-link tentang papercraft, dan kemudian saya membaca catatan seorang old friend. Bagi yang mengenalnya, pasti akan memberikan empat jempol atas usahanya, atas semua karya-karyanya yang dimuat di media massa, atas kedudukannya sekarang. Tidak tanggung-tanggung, ada lima catatan berurutan tentang karyanya yang di muat di media massa tahun ini.

Dan semua itu membuat saya membatu.


Saya ingat jelas ketika saya suka sekali mengganggunya melalui komentar facebook. Dan dengan cerdasnya dia berkelit atau membalas ejekan saya. Pernah juga Ayunda mengolok-olokku dengannya. Ah~ masa lalu itu.

"Ketika kamu mulai memegang pena, saya sudah menulis seratus halaman."
Sial, kata-katanya sangat melekat di otak saya. Sindiran yang tajam bukan? Bayangkan saja, ketika saya baru memegang pena, dan dia sudah menulis seratus halaman. Ah, menyebalkan, tetapi mungkin itulah kenyataannya.

Sekarang dilihat apa kegiatan saya?
Kalaupun saya mengaku seorang blogger. Lihat saja, daftar arsip blog ini. Tahun 2014 ini, saya baru menulis 7 postingan. Blogger macam apa yang menelantarkan blognya sekian lama?

Kalaupun saya mengaku penulis. Saya bahkan tidak lagi menulis fiksi. Tidak ada puisi, tidak ada cerpen yang berhasil saya lahirkan tahun ini. Penulis macam apa yang tidak pernah menulis?

Dan bila saya mencintai buku, entah sudah berapa lama saya meninggalkan buku-buku. Mungkin sebulan, atau dua bulan? Peter Pancali yang saya pinjam dari bulan lalu, belum kunjung tamat saya baca. Lantas di manakah cintanya kepada buku?

Apakah saya gagal move on? Move on dari apa? 
Galau? Sepertinya kata-kata itu sudah basi. Dan tidak mungkin kata itu cocok untuk usia saya saat ini.

Manakala saya bercerita kepada seorang sahabat yang mengunjungi saya beberapa waktu lalu, dia tertawa. Dan menyarankan saya untuk tidak terlalu stres. Rileks saja. Semua akan indah pada waktunya. Dan saya mangkir, bahwa saya tidak stres. Bahwa saya baik-baik saja. Pun dia juga keukeh dengan pendapatnya.

Dan sekarang sudah bulan Maret rupanya. Maafkan saya yang tidak pernah lagi eksis di dunia maya. Mungkin saya masih terjebak di masa lalu. Mungkin saya ingin sesuatu yang baru. Mungkin saya gagal move on.

Beberapa hari yang lalu, sahabat saya telepon. Dia bercerita panjang lebar. Dan menyebutkan satu nama. Dan saya memutar waktu di memori. Saya tahu dia. Dia adalah orang yang suka sekali memanggil saya dengan nama tengah saya. Dia pula sering meminta air minum, sedangkan mungkin teman-teman yang lain tidak akan berani. Hihihi.Saat ini dia sudah mendapatkan impiannya. 

Dan kemudian saya ingin menangis. Saat saya terus saja mengabaikan berjalannya waktu, teman-teman saya telah berlari lebih kencang melewati arena kehidupan ini. Sedangkan saya masih terjebak di masa lalu. 

Saya tidak akan menetapkan tonggak revolusi. Sebuah awal untuk perubahan besar dalam hidup saya. Karena percuma saja! Manakala saya menuliskannya di sini, sedangkan di dalam pikiran dan hati saya tidak ada tekadnya. Diibaratkan seperti melukis di atas air.

Dan saya gagal move on dari masa lalu. Namun jangan biarkan saya terkubur di sana selamanya. Sudahlah cukup beberapa bulan ini. Dengan tanpa hasil apa-apa. Dengan nol karya. Dan hanya stuck malas-malasan saja. Ah saya merindu menulis, saya merindu membaca, dan saya merindu hari esok yang lebih baik.



Comments

Post a Comment

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.

Popular posts from this blog

Ini Soal Resepsi Pernikahan

Lima Wishlist Di Tahun Dua Nol Satu Tujuh