Apa Arti Pernikahan Buatmu?


credit
Hai blogger, pernikahan... topik yang sensitif untuk sebagian orang, termasuk saya. Haha. Tapi tenang, saya mencoba untuk berpikiran positif pokoknya lah...

Berhubung kemarin saya juga mengadakan giveaway kecil-kecilan seputar pernikahan. Yuk mari kita lihat jawaban dari teman-teman. Yang belum menikah diminta untuk memberikan pendapatnya tentang arti atau definisi pernikahan. Yang sudah menikah diminta untuk menceritkan kejadian yang unik seputar pernikahan.

Intip definisi kamus universal di dunia maya, Wikipedia ^^
Pernikahan atau adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial. Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi menurut tradisi suku bangsa, agama, budaya, maupun kelas sosial. Penggunaan adat atau aturan tertentu kadang-kadang berkaitan dengan aturan atau hukum agama tertentu pula. (Wikipedia)

Definisi pernikahan ala Novita Sari :
hmm, menurut saya pernikahan adalah perjanjian suci atau sesuatu yang sakral antara dua manusia yang didalamnya mencakup tanggung jawab yang besar, komitmen untuk hidup bersama, saling mengasihi dan menyayangi.


tambahan juga dari Dwi Puspita Nurmalinda:
Pernikahan,,,???
Bersatunya dua insan yang memiliki karakter dan sifat yang berbeda, disatukan dengan cinta dan kasih, serta yang paling penting mengharap ridha dari Allah SWT agar pernikahan ini abadi sampai ajal menjemput dan InsyaAllah bertemu di Surganya Allah dengan suami kita (Amiiiennn). Siap merasakan guncangan masalah yang melanda entah itu dari keluarga, teman, tetangga, dan siap berbagi suka dan duka. Pernikahan akan membuat kita saling belajar, berbagi, dan saling melengkapi kekurangan yang ada dari masing-masing pasangan. Itulah pernikahan,,,indah bukan???

Menurut mbak Jiah adalah :
Pernikahan itu untuk menyempurnakan separuh agama. Aku hanya ingin kau menjadi halal bagiku, pernikahan sederhana penuh dengan doa, rahmat dan kebahagiaan. Kita menikah, bukan hanya untuk menyatukan dua hati, melainkan lebih dari itu. Ada keluargamu keluargaku, bahasamu bahasaku, negaramu negaraku. Kita memang berbeda, tapi bukan berarti kita tak bisa bersama. Karena perbedaanlah akhirnya kita bisa mengisi, menyempurnakan kekurangan dan melebihkan apa yang belum pernah kita miliki. Pernikahan bukan akhir dari kisah, melainkan sebuah awal menuju kisah baru menuju rahmat-Nya. Sebuah proses panjang, melewati kerikil-kerikil tajam yang mungkin akan menggoyahkan keteguhan cinta kita. Kita akan menikah, bukan karena nafsu, bukan karena tuntutan usia atau sebagainya. Kita menikah karena rahmat-Nya, cinta-Nyalah yang akhirnya mempertemukan kita.


Kata Leli Erwinda :
Menurutku, menikah adalah bersatunya dua insan manusia yang halal dan sah di mata Tuhan serta agama untuk mengarungi biduk rumah tangga. Ada banyak pertimbangan yang mesti dipikirkan masak-masak sebelum melangkah ke jenjang ini. Menyatukan dua pemikiran, kebiasaan, hobi, juga keluarga dari pihak perempuan dan laki-laki.
Kesiapan mental. Untuk perempuan, suka tidak suka perlu belajar memasak, belajar mengurus rumah, menghadle keuangan, menyenangkan suami dan mengurus anak. Bila sebelum menikah sudah punya karier yang bagus, maka ia harus bisa membiasakan membagi waktunya antara karier dan keluarga. Untuk laki-laki, sebagai kepala keluarga harus punya pekerjaan agar bisa menafkahi istri dan anaknya, mampu menjadi pembimbing bagi istrinya, siap menerima kelebihan serta kekurangan istri, dan tidak bisa keluyuran semau-mau seperti saat masih melajang.
credit

Kedewasaan emosional. Pertanyaannya sudahkah Anda dewasa secara emosional? Masih suka ngambek, cengeng, mengurung diri di kamar saat sedih, maupun marah? Saat sudah memasuki kehidupan rumah tangga, tentu kebiasaan seperti ini perlu ditinggalkan dan diubah menjadi belajar berpikir terbuka dan siap berkompromi.
Usia. Menurut mbah gugel, usia yang dianggap ideal untuk menikah bagi perempuan adalah 25 tahun, dan 27 tahun laki-laki. Dan saya setuju. Kembali ke poin di atas, menikah di usia muda rawan percekcokan/pertengkaran karena sama-sama belum bisa berpikir dewasa.

 
Mbak Yanuarty bilang :
kalo ditanya tentang pernikahan, banyak definisi dari pribadi masing-masing orang. salah satunya yang biasa kita baca di Alquran surah Ar Ruum ayat 21.
nikah itu selain mencegah seseorang dari kemaksiatan, juga dapat menentramkan dan membahagiakan. saat memutuskan untuk menikah, ibaratnya melamar kerja, kita harus siap dengan job desc dan job spec yang akan kita lakukan seumur hidup bersama pasangan. selain itu, memutuskan utk menikah, berarti kita jg harus mempersiapkan diri, kesehatan fisik maupun mental.

pernikahan itu bukan cuma label status di KTP :p, bukan cuma utk melestarikan keturunan, bukan cuma sebuah komitmen, bukan cuma menyatukan dua insan berbeda, tapi pernikahan itu adalah proses/siklus. di dalamnya begitu byk pernak-pernik yang bakal kita jalani bersama pasangan. kalo mengamati hubungan orangtua sendiri saja, bgitu byk proses dari yg termudah smpe tersulit yg sudah terlewati bersama. proses itulah yang mengajarkan kita ttg pendewasaan diri dalam segala aspek dan mengajarkan sepasang suami istri utk bisa mengasah intuisi mereka masing-masing secara lebih mendalam, sehingga bisa lebih mengenal karakter masing-masing dan bisa mempermudah mereka utk menebak trigger event saat menghadapi masalah.

pernikahan itu juga menjadi salah satu terapi yg membahagiakan para jomblo akut :p hehehe, yang sering galau, yg susah move on, yg selama ini cuma jadi secret admirer dan sukanya stress melulu, maka pernikahan menjadi terapi yg efektif utk menambah kadar kebahagiaan mereka. hal ini sudah terbukti. menikah dapat menaikkan berat badan, bikin nafsu makan jadi baik karena ngikutin kebiasaan psangannya (asal ngikutin yg sehat aja ya), di situlah salah satu maksud "ketentraman" yang Allah janjikan dengan menikah. Orang yang tadinya stress akut saat lajang, kemungkinan besar akan berubah bahagia saat dia menemukan jodoh yg tepat lalu menikah.

dan, tambahan lagi dari saya, istri/suami yg baik itu ibarat psikolog/psikiater yg hebat yg mampu mengarahkan, membimbing, menuntun, bertumbuh bersama, repairing bersama, saling memberdayakan satu sama lain dan memberikan efek terapeutik satu sama lain.


Nasihat dari Mbak Noviaerda :
Saya sudah menikah. Menikah itu nano-nano. :) Waktu masih gadis, rasanya ingin menjadi wanita dewasa, menjadi istri, menjadi ibu. Dan setelah mengalami sendiri, rasanya ingin jadi gadis lagi (Huaaa... jangan berpikir daku tak bahagia). Hehe.. Ada beberapa kemerdekaan yang dirampas setelah resmi menjadi istri. Tak bisa lagi seenaknya, ada anak dan suami yang butuh perhatian kita.

Pernikahan itu indah, selama kita saling menguatkan. Kata om Mario Teguh, jatuh cinta itu cuma 6 bulan di awal pernikahan, selebihnya persahabatan. Jadi jangan dikira orang yang sudah menikah akan melulu jatuh cinta dan merasa penduduk bumi cuma ngontrak. Hanya sesaat, setelah itu mereka akan menjalani kembali hidup normal, bedanya, kali ini bersama dengan pasangan.

Menikah itu ibadah, inilah yang sering ditargetkan gadis2 muda. Padahal menolong ortu juga ibadah, membantu siapapun juga ibadah. Jadi, jalani peranmu saat ini. Manfaatkan waktu untuk hal positif sambil menunggu dilamar. Ingat, masa gadis tak akan terulang.
Jangan terlalu memandang berat pernikahan. Jalani setiap statusmu dengan ikhlas. Menjadi anak, menjadi kakak, menjadi tante, Insya Allah menjadi istri, menjadi Ibu, menjadi nenek.. Semua indah kok. Tidak hanya pernikahan. 

Pendapat Mbak Sari :
pernikahan itu idaman setiap wanita yang beranjak dewasa. memimpikan menikah dengan pangerannya, menikah itu untuk bahagia, terkadang banyak sekali persiapan yang dijalani sebelum menikah, tetapi rasanya sudah menikah dengan sang pangeran impian itu rasanya, apapun rintangan, semua bisa dilalui. Menikah untuk menciptakan dunia baru dengan sang pangeran, menciptakan kebahagiaan satu sama lain, menyebarkan kebahagiaan dengan keluarga, teman ataupun sahabat. Menikah untuk berjalan beriringan dengan sang pangeran pujaan. Eh klise nggak ya, hihihi.. namnaya juga menikah itu untuk bahagia :D

Ranger Pink alias Yayas pun pun ikutan :
oke, pernikahan bagiku yang masih awam ini, tak hanya tentang menyatukan dua hati yg sedang dimabuk asmara, tapi juga menyatukan dua keluarga, dengan berbagai adat istiadat yang berbeda. Selain itu juga pernikahan adalah tentang penyatuan 2 manusia dengan karakter, prinsip, watak dan tentu saja jenis kelamin yang berbeda. Jadi intinya pernikahan itu tentang penyatuan.

Untuk itu harus ada penyesuaian dari masing-masing pihak untuk saling memahami satu sama lain. Nah, jika sudah begitu perbedaan2 itu tak akan menghalangi mereka menuju ke keluarga yang sakinah mawadah warahmah.

Jadi kalo ada sepasang suami-istri yg bercerai hanya karena perbedaan prinsip saja itu adalah alasan yang konyol. Thoh dri awal mereka memang sudah berbeda, disitulah fungsi pernikahan, yaitu untuk menyatukan bukan menyamakan.

Si tomboy, Ranii Saputra tak mau ketinggalan :)
Pastinya hal yang indaaaaah bangeeeet soalnya ada tempat berbagi, berbagi sukadukanya kehidupan, berbagi waktu yang dilewatin dan berbagi tempat tidur pastinya :D
Dan pastinya membawa kehidupan kearah yang lebih baik, karena menikah berarti memulai kehidupan baru bersama orang yang akan menjadi bagian dari diri kita dan akan menemani seumur hidup, untuk itu kita pasti berusaha jadi pribadi yang baik buat pasangan kita begitupun sebaliknya..
Diluar hal itu, aku sadar banyak fakta menyeramkan ttg pernikahan, makanya memilih pendamping hidup harus yang bener-bener, bener-bener bakal siap kita(khususnya cewe) ikutin apa maunya(yg baik2 pastinya)..
Pokoknya buat aku, pernikahan itu kereeeen bangeeet :D hahaha


credit

Hipotesis dari Mia (miu) Chandra Sasmita :
Pernikahan buatku adalah usaha kedua belah pihak yang berkomitmen dalam ikatan suci yang diberkahi Tuhan untuk memperjuangkan kebahagiaan mereka dan orang lain dengan dasar membangun cinta bersama tak peduli didasari perasaan jatuh cinta satu sama lain ataupun tidak, karna dengan membangun cinta, tidak akan ada kata kejenuhan didalamnya melainkan perasaan yang kian bertambah dan mungkin akan sulit dikendalikan untuk tersampaikan sehingga adanya pahit yang mengusik nantinya akan bisa terlewati meskipun di dalamnya pasti diwarnai dengan kata...”ternyata dia...” karna komitmen bukan sesuatu yang membebani, melainkan sebuah sumber kekuatan.

Banyak orang yang ketakutan menjalin hubungan pernikahan dan membuat komitmen, padahal tanpa disadari komitmen adalah keutamaan yang harus ada dalam kehidupan, contohnya untuk pekerjaan dan lainnya. Banyak pula orang yang terlalu mencari ke-perfect-an seseorang sebagai pasangan. Tetapi, apakan jika telah salah satu dari kesempurnaan pasangan kita terenggut setelah menikah apakah pernikahan pula akan berakhir? Itulah yang aku tekankan tentang pentingnya membangun cinta dan berkomitmen. Cinta yang indah adalah cinta yang berporos pada keimanan. Karna setiap agama mengajarkan kebaikan.


Dibalik pernikahan nih, oleh mbak Esti
Sebelum menikah saya bisa dengan bangga mengatakan kalau saya wanita yang mandiri. Apa-apa dilakukan sendiri, dipikirkan sendiri. Apalagi waktu menikah usia saya sudah sangat matang *gak sampai bosok lo ya :P Sudah dibiasakan tidur sendiri sejak TK sama orang tua, mungkin awal mendidik kemandirian sejak kecil ya. Saya pikir sih setelah menikah gak mungkin lah ya ada perubahan drastis dalam diri saya yang mandiri itu. Apalagi saya bukan cewek manja bin lebay.

Eh, baru juga nikah dua minggu, setelah cuti berakhir, kami kembali ke kota masing2 (LDR ceritanya), lah saya kok merasa blingsatan ketika harus tidur sendirian wkwkwk. (Ini diluar bahasan tentang sex lo ya). Sampai-sampai ketika saya cerita ke adik yang nemenin di rumah, dia langsung komentar, "Halah, Mbak Esti gaya, biasanya juga tidur sendiri, ini baru nikah aja udah bingung." Dan adik yang komentar ini ternyata lebih lebay daripada saya setelah menikah *syukurin lo (eh ...hehe).

Menikah bukan berarti mengubah hidup kita, tetapi ada hal-hal yang kita dapat dan kita lepaskan. Dulu, kapan saja mau hang iut sama teman gak masalah, setelah punya suami tetap dong, suami jadi prioritas.

Ada satu kisah lagi nih di awal nikah. Kami berdua kan LDR ya. Si Mas kalau mau pulang Semarang, suka gak bilang dulu, tiba2 aja njedul di rumah. Berkali-kali dikasi tahu kalau pulang paling nggak ngabari. Eh, dia alasan, kalau dia merasa mau pulang ya pulang aja. Gak perlu sms, toh ntar juga tahu kalau dia sampai rumah. Setelah berlangsung beberapa saat, baru deh aku bilang alasan kenapa aku ingin mas ngabari dulu kalau pulang Semarang. "Supaya aku bisa jeng-jeng sama teman-teman kalau dia pas gak pulang" wkwkwk

 
Si manis Intan yang ceriwis pun bercerita tentang asamaranya :)
Nikah ya mbak Vey?

Umm, waktu aku masih punya pacar waktu itu dan yakin banget kalo ‘he is really the one’, rasanya pengen banget cepet-cepet disatuin dalam satu ikatan bernama ‘pernikahan’ sama dia. Kayaknya bakal indah banget, ngejalanin hari-hari berdua secara halal, saling melengkapi, saling berbagi, dan nggak akan pernah ngerasain galau lagi, karena si doi udah utuh jadi milik aku. Saking indahnya imajinasi soal pernikahan yang melintas di kepala, aku beneran udah pelan-pelan belajar buat jadi calon istri yang baik sekitar 1,5 tahun lagi. 1,5 tahun lagi? Gila ya.. Umur aku sekarang aja belum genap 20 tahun, jadi di umur 21,5 tahun, aku udah siap banget buat dilamar. Aku jadi mati-matian belajar masak, dari mulai semur ayam, bening jamur sampe ke kue-kue, semacam brownies panggang. Juga, belajar nyari duit dengan cara kerja jadi penyiar di salah satu stasiun radio, ngajar bimbel, ikutan lomba sana sini. Just for him and my stupid imagination about our marriage.. 

Aku udah ngusir jauh-jauh impian aku buat kuliah S2 di Jogja, jadi master sebelum umur 24 tahun, lalu jadi dosen muda. Aku udah nggak begitu pengen ngeraih mimpi-mimpi aku lainnya, buat aku, mimpi terbesar aku adalah dia. Yang bisa bikin aku bahagia dan bisa tetap hidup adalah dengan terus berada disamping dia. Tapi untunglah, perasaan tolol itu nggak bertahan lama bercokol di kepala aku, hanya sekitar 1 tahun *1 tahun itu lama Intaaaaaan*, setelah itu hubungan aku dan dia mulai bermasalah. Satu per satu masalah yang hadir, pelan-pelan menciptakan celah di antara kami. Hingga akhirnya, kami pun memutuskan untuk jalan masing-masing, dia ke kiri, aku ke kanan. Rasanya memang perih.. Tapi aku tau, ada banyak orang yang ngalamin kisah pahit kayak gini, bahkan lebih parah. Ketika ngelihat orang-orang itu masih mampu survive, saat itulah aku yakin kalo aku juga bakal baik-baik aja. Hatiku nggak patah, mungkin retak, tapi di seberang sana, seorang pangeran yang jauh lebih baik sedang menungguku untuk mengobatinya. I’m sure about that ..

Keadaan berubah, perasaan berubah, pemikiran pun turut berubah. Sejak hubungan aku dan mantan pacar benar-benar kandas, aku jadi berubah pikiran tentang pernikahan. Nikah nggak sesimple yang aku bayangin, bukan hanya sekedar pintar masak, pintar nyari uang, tapi juga mesti pintar nata hati. Coba bayangkan, hidup berdua dalam waktu yang sangat amat lama bersama sosok yang boleh jadi sangat berbeda karakter dengan kita, seperti apa rasanya? Paling-paling rasa manisnya hanya terasa di bulan-bulan awal pernikahan, lalu setelahnya? Apakah kita akan mengucapkan kata ‘cerai’ segampang mengucapkan ‘putus’ ketika sedang jenuh dalam hubungan berlabel pacaran? Tidak bukan?

Pernikahan itu ritual sakral yang hanya boleh dinikmati oleh mereka yang memang sudah siap. Pernikahan sama sekali bukan akhir dari cerita cinta, namun disanalah letak permulaannya. Akan banyak sekali kerikil, duri, onak atau bahkan badai yang akan kita temui di sana. Pertanyaannya, sudah siapkah? Jika belum, bersiaplah dari sekarang. Pernikahan sama sekali bukan ajang uji coba, juga bukan egoisme sesaat untuk memiliki seseorang. 

Aku pernah nggak sengaja baca tulisan salah seorang kakak blogger cantik, dia bilang “Tuhan bakal ngasih sesuatu yang kita pengen banget, ketika kita emang udah siap buat nerima. Tapi siapnya kapan? Di sanalah letak kekuasaan Tuhan. Hanya Dia lah yang benar-benar tau kapan waktu yang tepat untuk kita menerima keinginan kita menjadi nyata.” Aku setuju banget sama kata-kata kakak ini, statement ini berlaku dalam semua urusan, termasuk dalam urusan pernikahan. Ada hal yang baru aku sadari, aku masih kecil, masih labil, belum melihat dunia luar. Dan yang ingin aku lakuin sekarang adalah membuka mataku lebar-lebar, menggali potensi yang aku miliki sebanyak-banyaknya. Aku yakin, Tuhan akan menghadiahkan pernikahan istimewa untukku di masa depan, saat aku benar-benar udah layak untuk menerimanya. Jadi sekarang, mari nikmati dulu masa-masa sebagai gadis single yang bisa bebas kesana kemari meraih mimpi.

Soal perasaan aku sama mantan tersayang itu gimana dong? Katanya ngebet banget pengen nikahnya sama dia? :p Kata sahabat aku, ‘seiring berjalannya waktu, seiring memudarnya dia di hatiku’. Aku akan jatuh cinta lagi, someday.. In the right time, with a right charming prince. Jodoh itu udah disiapin Tuhan, dan nggak akan pernah ketuker. Kita hanya wajib berusaha menghidupkan radar, agar si jodoh nggak kesasar waktu nyariin kita :D   

Pernah merasa takut seperti Emilia Fitriyani? :)
Pernikahan
Tentang kesiapan saya sekarang, bisa jadi saat ini saya siap untuk menikah , saya bisa dan saya yakin akan baik – baik saja . namun di balik semua itu saya masih belum dapat membaca apa yang terjadi ketika saya bosan nanti.
Masih seperti kejadian lama, bisa sayang-sayang suka suka banget sama orang dan 3 detik kemudian aku bisa bilang jijik. Iya itulah aku yang entah apa sebenarnya yang aku rasain.. aku juga tidak mengerti.
Mungkin ijab Kabul itu akan terjadi , hari pertama penuh kebahagiaan, hari kedua ,lebih bahagia . tapi sampai hari ketiga? Perkiraan sementara sampai saat ini dihari ketiga saya akan benar-benar bosan karena kenapa yang saya lihat sepanjang waktu itu kamu? Kenapa selalu kamu? Saya bosan ayolah pegi dari hadapan saya. Kenapa saya harus sibuk melayani orang seperti kamu? Saya bosan dan saya muak. Saya ingin pergi. Dan mungkin hari itu saya akan lebih menahan rasa bosan saya. Demi menghargai suami saya tadi. Hari ke empat. Moode saya akan benar-benar turun dan semua yang terjadi tidak akan pernah saya sukai, saat itu jalan satun-satunya adalah saya pergi dari rumah dan untuk beberapa waktu tidak untuk melihat atau bertemu kamu.
Inilah cerita kecil gambaran tentang pernikahan yang apabila terjadi dengan saya dalam waktu dekat ini.. labil. . . terasa sangat labil tidak ada setitikpun kedewasaan.
Pernikahan itu adalah harus menghilangkan rasa bosan , menghilangkan rasa lelah dan menghilangkan kebebasan . sedangkan selama ini aku berdansa bahagia dengan mereka semua.
Mungkin bosan akan marah padaku ketika aku ingin pergimeninggalkanya..
Waktu yang akan membawa aku mau tidak mau pernikahan akan tetap terlaksana. Tapi mungkin suatu hari bosanpun telah bosan berdansa dengan ku dan diapun pergi mencari gadis labil lainnya.
Dan aku akan dewasa pada saat-saat aku berfikir bahwa pernikahan itu adalah kenyamanan, adalah ketulusan dan adalah selamanya.  



Bila belum siap menikah, tentu saja pasti ada impian untuk menikah bukan? Simak pernikahan impian dari seorang blogger cowok, Aditiya Zamrud Anggar Kasih berikut ini :P
proposal nikahnya adalah :
  1. Gak ada amplop di gerbang masuk.
    Coba cermati percakapan diatas. Terkadang ada saja orang yang enggan datang ke acara nikahan bukan karena dia gak ada waktu, tapi karena malu gak bawa amplop saat acara pernikahan itu. Berangkat dari itu, keinginanku adalah gak ada tempat amplop di depan pintu gerbang. Datang ya datang saja bebas tanpa bawa apa-apa cukup membawa senyum dan do'a. Hal ini terinspirasi dari nasehat seorang guruku waktu SMA (melalui adikku), "Kalau memang niat buat sebuah acara, buat apa minta sumbangan?". Hal senada juga diucapkan Ivan Gunawan saat diwawancarai perihal sponsor pembuatan baju pernikahan Ayu Ting-Ting. Dia mengatakan, "Ayu gak pakai sponsor-sponsoran. Ini acara pernikahan, buat apa pakai sponsor? Kalau gak mampu nikah ya jangan nikah gak usah pakai nyari sponsor. Nikah kan lambang kehidupan masa depan.".
  2. Ada banyak kursi diacara resepsi pernikahan.
    Pengalamanku menghadiri beberapa acara resepsi pernikahan adalah kurang kursi! Jadi para tamu makan dan minum sambil berdiri. Ini bukan salah tamu, tapi salah tuan rumah sebenarnya, karena tidak menyediakan kursi. Ada banyak juga jauh dari tempat makan, jadi tamunya males, abis ambil makan langsung makan aja sambil beridiri. Jadi selain ada banyak kursi, letaknya juga diperhatikan, tapi jika udah mentok karena keterbatasan tempat, sebaiknya ditambahi petugas untuk mengarahkan tamu untuk duduk dikursi yang sudah disediakan saat makan.
  3. Gak ada janur dalam dekorasi.
    Janur kuning yang selama ini menjadi tradisi pernikahan, ternyata itu merupakan adat dan tradisi upacara keagamaan dari agama lain (non Islam).
  4. Bebas tapi beradat.
    Kedua mempelai dan keluarga tetap didandanin secara adat, tapi bebas. Biasanya mempelai cuma duduk-duduk saja dipelaminan, jika ada tamu baru berdiri (cuma beridiri gak kemana-mana). Impianku adalah mempelai bisa berjalan kemana-mana. Bisa ikut nimbrung sama tamu-tamu yang ada. Berbagi senyum dan tawa, ramah dan menyapa.
  5. Jadwal yang dipadatkan.
    Sedikit mencontoh Royal Wedding Keraton Jogjakarta kemarin sih. Tapi menurutku acara diadakan hari minggu. Sejak setelah Subuh, mempelai wanita dan semua pihak yang harus dan akan didandani untuk acara pernikahan sudah mulai didandani. Jam 7.30 dilakukan akad nikah. Meskipun mempelai wania masih didandani itu tak apa, toh syarat akad nikah itu kan mempelai pria, ayah dari mempelai wanita, saksi. Akad nikah merupakan pembuka acara dalam rangkaian acara walimatul urus. Biasanya sih acara seperti itu butuh waktu 90 menit jadi jam 9.00 perkiraanku sudah selesai. Jadi jam 11 sudah bisa langsung dimulai acara resepsi pernikahan.
  6. Hiburan sesuai seleraku.
    Kalau ada uang berlebih, pengennya sih ada hiburan waktu acara resepsi pernikahan. Biasanya dan kebanyakan hiburan yang diadakan adalah dangdut. Tapi pada acaraku nanti, aku pengen menyewa band bergenre jazz dengan menyanyikan lagu campur sari (namanya campur berarti menu lagunya adalah campuran dari lagu jawa atau indonesia atau inggris).
  7. Waktu yang tepat mengadakan acara pernikahan adalah hari libur nasional atau musim liburan.
    Bukan hasil perhitungan ini itu. Kalau waktu liburan kan enak, pasti banyak keluarga dan kerabat yang bisa hadir.
  8. Kalo semua itu gak bisa aku lakuin, ya udah nikah cuma akad nikah dan walimahan saja tanpa ada resepsi pernikahan. Toh gak ada tuntunan buat ngadain resepsi pernikahan bukan?
  

credit
Tetapi bila Anda adalah lelaki sebaiknya pikirkan dahulu sebelum memutuskan. Seperti yang disarankan oleh Ahmad Purwanto.
 Masih bocah ko sudah berani nikah ?
Gak perlu jauh jauh mah sekarang. Karena sudah banyak bocah bocah sekarang yang sudah berani menikah dimasa bocahnya.

Tapi apa yang di sebut bocah disini itu bukan mereka yang berumur belasan tahun tapi mereka yang masih labil, berpikir pendek, kurang bertanggungjawab, belum siap menghadapi masalah besar dll dll dll, jadi dampaknya sedikit sedikit bertengkar, dah bertengkar minta cerai lagi.. Hadeh... -_-

Jadi pendapat saya ya sebelum nikah tolong lah anda dewasa dulu..! ^_^
Minimal kita berfikir "apakah saya sudah mampu memimpin keluarga ? Dan apakah saya sudah siap memberikan nafkah kepada keluarga saya ?"
sukur sukur anda berfikir lebih jauh lagi seperti gimana cara mendidik anak agar menjadi anak yang soleh dan lain lain...

Ingat!
Sebagai laki laki, anak dan istri kita adalah tanggung jawab kita.Kalau kamu bagaimana? 


Dan yang terakhir adalah cerita pernikahan muda dari Hanny Wulandary.
"Han, have you came to Dea's party couple weeks ago?" someone ask me, when I picked my little sister up at her school. And I just know that he is my ex teacher.
"Huh, no sir. I'm not invited. What party?" I'm smiling and try to ask him back.
It just wasn't birthday party, a new house or even graduation. But a wedding party.
hah? Can you believe it?
We just sixteen and Dea was done with her marriage.
Can I truly believe it?
I mean, we just teenager who still need to drink some milks from our parents everyday, and now Dea just supposed to be gave milk to her daughter/son, I'm sorry, her breast I mean
Can we truly believe it?
Dea's prawedd       
I asked my mum then, "mum, my elementary's friend have a wedding party two weeks ago. I can't believe it."
My mum laughing and put her hand into my cheeks.
"Mum, did you feel something was wrong?"
She strokes my hair softly, "Did you remember when you just twelve? When you doing your national examination? What have she done, dear? she is smiling
"She was cheating, going back home earlier and a man have waiting her to picked her up" I answered innocently
"Then, did you remember when you just entered your junior high school? What have your wedding friend done, honey?"
"She was absent for a long time, she moved to another city and said that she have living with a man. And it was different man when she just twelve, mum"
"Then, still you shocked, hun?"
I'm smiling, suddenly hug my mum tightly, kissed her forehead and said,
"mum, I promise. I'll make you sure that I will make you just like a queen. I'll never held my wedding till I have graduated from my college. I promise..."


Bagaimana denganmu?  :)


Comments

  1. hehe, bener kata seseorang. perempuan galau jodoh, laki-laki galau rezeki. qiqiqi. :D
    yang penting mendekat padaNya, insya Allah makin didekatkan dengan dia~

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya betul betul :D
      semoga didekatkan oleh Allah swt ya mbak, amiin

      Delete
  2. huaaaaaa... baca definisi pernikahan kok jadi pengen nikah... *ehh
    calon mana calon ??
    :p

    ReplyDelete
  3. eheheheheehe,,pembahasannya keren....
    em yang nikah muda silahkan, yang nikah matang perkenankan.....

    saya milih nikah muda tapi dewasa :P

    ReplyDelete
  4. Menikahlah dengan tenang.. Jangan terburu-buru pun berapi-api. Menikahlah dengan tenang.. dengan anggun dan pikiran mantap nan dewasa. :)

    ReplyDelete
  5. kalau menurut saya menikah adalah menyatukan dua keluarga besar yang diwakilkan oleh kedua mempelai.

    ReplyDelete

Post a Comment

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.

Popular posts from this blog

Ini Soal Resepsi Pernikahan

Jari, Onyx Asli Bojonegoro