Monday, September 30, 2013

Sehatkah Mentalmu?

 Mens sana in corpore sano
"Jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat." 

Masih ingat dengan ungkapan di atas? Bahwa di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Namun pada saat ini, relevankah kalimat tersebut?

Saya rasa tidak. Banyak dari kita, manusia-manusia bertubuh sehat, tanpa mengalami kekurangan fisik tetapi memiliki mental yang tidak sehat. Menurut Zakiah Daradjat, menyatakan kesehatan mental adalah terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya dan lingkungannya, berlandaskan keimanan dan ketakwaan dan bertujuan untuk mencapai hidup yang bermakna dan bahagia dunia dan akhirat.

Untuk mengetahui ciri-ciri orang yang mempunyai mental yang sehat, Hanna Djumhanna Bastaman mengungkapkan, yaitu:
  1. Bebas dari gangguan dan penyakit kejiwaan.
  2. Mampu secara luwes menyiapkan diri dan menciptakan antar pribadi yang bermanfaat dan menyenangkan.
  3. Mengembangakan potensi-potensi pribadi (bakat, kemampua, sikap, sifat dan sebagainya) yang baik dan bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan.
  4. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan dan berupaya menerapkan tuntunan agama dalam kehidupan sehari-hari.
 Nah sekarang lihat saja kehidupan sekarang ini. Di acara berita, begitu banyaknya tindakan kriminal. Yang bahkan pelaku tindakan kejahatan adalah keluarga sendiri. Entah itu anak, ayah, ibu atau saudara. Miris kan?

Kalau sudah begini, seberapa pentingkah kesehatan mental bagi anda?
Tentu saja sangat penting. Kalau tubuh yang menggerakan badan. Maka mental pengaruhnya adalah pikiran. Ke otak. Mental yang sehat akan selalu berpikir optimis, berpikir jauh ke depan. Mampu memaksimalkan potensi diri dan melakukan apapun bebas, tanpa melwati batas normal. Karena kebebasan yang kebablasan itu pun tidak sehat. Bahwa sebenarnya kebebesan kita telah terbatasi oleh kebebasan orang lain. Benar bukan?

Pernah mencoba tindakan bunuh diri?
Ishh.. jangan sampai ya. Nasi masih enak lho. Ngapain bunuh diri? Udah pasti sakit dan tidak menyelesaikan masalah. 

Tetapi entah kenapa saya selalu berjumpa dengan orang-orang yang mudah sekali mengatakan 'Aku ingin mati.' -_-
Bahkan mereka pernah menghubungiku hanya untuk menanyakan 'obat apa yang paling cepat bikin mati?'

Bagaimana bila kalian berada di posisi ini?
Beruntungnya saya sedikit mengerti tentang hypnoterapi. Bila menemui kasus seperti ini, sebaiknya tidak usah dilarang. Eh? 
Saya awalnya juga heran. Nanti kalau mereka beneran mati bagaimana? Namun saat saya yang mengalami sendiri. Saya mengerti, bahwa teman itu tidak berniat beneran mati. Kalau dia memang ingin mati, maka dia tidak perlu bertanya padaku bukan? Dia hanya ingin merebut perhatian. Dia butuh teman untuk mendengarkan keluh kesahnya.

Dan tidak hanya itu saja. Sebagai seorang yang hobi melamun, saya takut mengalami gangguan mental. Yaitu di mana tidak bisa membedakan antara kehidupan nyata dan fantasi. Beberapa kasus yang saya baca, banyak penulis yang bunuh diri. Ishhh Sereeem >.<

Kadang-kadang memang saya sering tersedot ke dalam dunia fantasi saya. Tanpa memedulikan kehidupan sekitar. Ya, menjadi manusia yang autis. Asyik dengan dunianya sendiri. Pernah juga saya memainkan dua kepribadian. Bukan... saya bukan gila. Saya hanya bermain peran di dunia maya. Karena di dunia nyata saya tak bisa menjadi orang lain.

Akhirnya saya memilih untuk lebih dekat kepada Tuhan YME, sering curhat kepada sahabat, mencari kegiatan yang positif.  Karena saya ingin hidup sehat. Bukan hanya tubuh tetapi juga mental. Keduanya akan membuat hidup saya bahagia. 

Apa harapan saya untuk dunis Psikologi?

Saya pernah punya suatu harapan di masa remaja dulu. Ini bermula ketika saya membaca novel terjemahan remaja, di sana disebutkan bahwa ada lembaga khusus konsultasi remaja. Yang di sini saya tidak tahu ada atau tidak.

Saya ingin, ada lembaga masyarakat khusus remaja yang bisa menampun cerita dan membantu mereka dalam mengatasi problem-problem mereka. Sebagai seorang kakak, saya tidak terlalu dekat dengan adik saya. Karena semakin dia dewasa, semakin menyebalkan dia. Eh? Maksud saya dia jauh lebih memilih teman-temannya daripada keluarga. Hal inilah yang perlu diantisipasi.

Saya berharap para remaja-remaja ini bisa terbuka dan berkonsultasi dengan Lembaga ini. Bahwa seburuk apapun masalah mereka, mereka masih bisa memperbaikinya, karena jalan mereka masih panjang.

refrensi :
http://www.anneahira.com/kesehatan-mental.htm
http://www.referensimakalah.com/2012/12/pengertian-kesehatan-mental.html



"Tulisan ini diikutsertakan dalam event 'Psychology Giveaway' yang diselenggarakan oleh d'Paresma"


4 comments:

  1. haha seru keren artikelnya

    oh ya ada yg lupa nih.. tolong kasih masukan buat blog d'PARESMA ke kolom komentar postingan GAnya aja ya oh trus sama tolong share link artikelmu ini ke twitter sambil mention saya ya (sekali aja mentionnya) :) thanks before ^^

    ReplyDelete
  2. @Yanuarty
    ihihi
    masih amburadul mbak.. :D
    ok siap

    ReplyDelete
  3. InsyaAllah..saya masih sehat mental mbak ^^

    Ya, semoga lembaga psikologi ini bisa membantu para remaja yang sedang mengalami permasalahan.

    ReplyDelete
  4. @Titis
    Alhamdulillah ya, msih sehat ;)

    Sipp. amiiin

    ReplyDelete

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.