Buku Bercerita : My New World

Jam berapa sekarang?

Mataku masih berat untuk dibuka. Namun rasanya sinar mentari sudah menerobos sangat terang ke ruangan 3 x 5 ini. Sesuatu menindih perutku. Ketika kupegang, benda bulat, yang tak lain kepala manusia. Aku memaksa untuk melek. Ah, rupanya si kecil ikut tidur bersamaku tadi malam.

Rambutnya hitam kemerah-merahan. Seperti rambutku.  Kubelai rambutnya perlahan, menyingkirkan dari wajah polosnya.


Pintu kamarku terbuka.
"Mama, disuruh bangun sama Oma tuh."

Aduh, aku kalah dengan jagoanku. "Iya, coba sini dulu..."
Dia mendekat dan menyibak kelambu dan mendekat ke arahku. Kucium kedua pipinya,"Ah, sudah wangi rupanya mujahidku."
"Sudah donk. Katanya Mama mau ngajak main. Itu si adek, kenapa malah ikut tidur lagi?"

Si kecil rupanya yang sudah bangun dari tadi segera terduduk," abis Mama masih tidur, aku ikutan deh."

Hahaha, baiklah aku jadi tersangka rupanya. Tukang bangun kesiangan. Ckckck.
"Oke, Mama bangun sekarang. Terus mandi dan kita jalan-jalan."

Keduanya bersorak senang.

***

Setelah bersiap diri, aku mematung di depan sebuah foto yang dipajang di ruang tamu. Ukuran foto yang paling besar di rumah ini. Foto pernikahanku beberapa tahun yang lalu. Aku masih belum percaya. Rasa-rasanya aku baru lulus sekolah, sekarang sudah memiliki dua buah hati. Kembar pula. Seperti adikku. Perempuan dan lelaki. Ah, betapa ajaibnya hidup.

"Hari ini, mau jalan-jalan kemana?" tanya ibu berdiri di belakangku.
"Eh, entahlah... mungkin ke alun-alun. Sudah lama tak keliling kota ini."
"Hati-hati, bawa dua bocah. Nanti Midori di belakang sama Tian saja. Biar kamu nggak ewuh bawa motor."

Midori berceletuk,"Nggak bawa mobil Ma?"
"Enggak sayang, nanti repot parkirnya. Enakan naik motor."
Tian sepertinya tak peduli. Dia asyik dengan tali sepatu barunya."Ayo berangkat," ajakynya dengan wajah sumrigah.

***

Aku sampai di alun-alun kota. Banyak yang berubah. Dari designya diperbarui lagi. Masjid Darusalamnya juga semakin megah. Pertokoan semakin beragam. Aku memarkir motor dan menggandeng dua peri kecilku ini.

Midori bernyanyi sepanjang jalan. Dia memang suka sekali berceloteh. Sedangkan Tian lebih banyak diam, dan mengamati apa yang ada di sekitarnya, seperti ayahnya. 

Midori melepas tanganku dan berlari ke arah ayunan. Aduh, itu ayunan kan udah banyak yang rusak. Aku ikut mengejar Midori. Tian tertinggal di belakang. Tetapi sejenak, aku tercengang.
Mainannya semua baru. Ah iya, sudah berapa tahun aku meninggalkan kota dan negeri ini. Haha.

Aku memanggil Tian yang asyik menikmati entah apa itu di tanah. Mungkin semut atau cacing. Dia berlari ke arahku dengan menggenggam sesuatu di tangannya. 

Bekicot?

"Aku nemu keong Ma... lihat deh, imut banget."

"Itu namanya bekicot Sebastian, bukan keong."

Dia sepertinya tidak menyimak, dia sudah berlari ke arah Midori dan menunjukkan hewan itu.

"Mbak Vey kan?" Seseorang memanggilku.
Aku menoleh, salah seorang teman lama. Tapi aduh, aku lupa namanya.
 Aku tersenyum, "Iya benar."
"Wah, katanya tinggal di Jepang yak? Sama suami ke Indonesianya?"
"Enggak di Jepang, tetapi di perth, Ausi," Midori memotong.
"Wah, keren-keren. Mereka anakmu? lancar bahasa Indonesia ya?"
 "Iya, karena lingkungan di sana banyak yang orang Indonesia. Jadi ya lancar. Kamu sendiri bagaimana?"

Dia menjelaskan banyak yang terjadi di hidupnya. Dan dia juga menceritakan tentang Bojonegoro. Kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi banyak memberikan dampak yang besar pada kota sepi ini. Katanya Bojonegoro sudah tidak sepi lagi. Apalagi di daerah kota dan juga kecamatan Gayam. Kecamatan itu menjelma menjadi pusat kota kedua. Karena banyaknya pengeboran minyak di sana, pertumbuhan ekonomi juga meningkat drastis. 

"Kamu liburan atau akan tetap tinggal di sini nih? Nggak kangen pingin ngumpul bareng teman-teman yang lain?" Dia mengedipkan sebelah matanya.
Aku tertawa terbahak. Aku tahu apa yang dimaksudnya. 

"Iya, aku dan suami memutuskan untu menetap di Indonesia. Karena aku nggak yakin dengan lingkungan di Ausi yang terlalu bebas. Aku ingin anak-anakku tetap besar di sini. Aku juga ingin nemenin ibu bapak di rumah. Lagipula adik-adikku sudah merantau semua."

"Terus kerja suamimu bagaimana?"
"Dia ...." 

Ucapanku terhenti mendengar suara handphone berbunyi.

カメレオン

"Maaf, dia telepon."
"Oh iya, salam saja ya untuknya. Aku juga mau pergi dulu. Masih ada urusan."

 Dia mendekati kedua peri kecilku dan mencubit kecil pipi mereka. Kemudian melambaikan tangan beranjak pergi. Aku membalas lambaian tangannya.

"Halo sayang ..."

catatan :
ewuh = repot
カメレオン = dibaca Kamereon


 


Comments

  1. Cetaaar!
    Tadi bilang jangan ketawa, ya? Oke, aku cuma mesam-mesem. Gutlak, Mamih. ^_^

    ReplyDelete
  2. @leli
    hihihi
    makasiiiih :*
    diaminin sekalian donk ;)

    ReplyDelete
  3. Mbaakk.. makasiih yaa sudah ikutan GA saya, tercatat sebagai peserta yaa :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.

Popular posts from this blog

Ini Soal Resepsi Pernikahan

Lima Wishlist Di Tahun Dua Nol Satu Tujuh