Buku Bercerita : Hanya Berbeda

Mungkin saja saat ini aku sudah tenggelam si sebuah rawa-rawa. Yang bahkan tidak kuketahui di mana letaknya. Kakiku sakit. Tulangku seperti lepas satu persatu. Dadaku tertindih bongkahan batu. Dan mungkin ada pendarahan dalam tubuhku. Tetapi aku yakin, aku masih hidup.

Aku tak berani membuka mata, aku takut kalau ini adalah kenyataan. Dan aku akan mati. Di mana mereka saat ini? Apakah mereka hanya menenggak minuman dan berpesta pora, sedang aku terjebak di sini.

Senyap, nafasku juga sesak...
Tolong... tolong aku...
siapapun... tolong aku....

***

Sora menggebrak meja. "Di mana Tsubaki? Jangan main-main lagi. Apa yang kalian laukan padanya?"
Sora menatap satu per satu dari mereka. Amarahnya sudah tak terbendung. Dia ingin segera membakar tempat ini. Menyusuri dengan satu peleton penuh tim sar tetapi tidak menemukan Tsubaki di hutan.

Sora mengambil pistolnya dan menembakkan ke tangan Kazuki.
Dor!
Jeritan menggema, mereka berusaha berlariaan.

Sora menembakkan pistolnya kembali ke atas.
Dor!
"Diam! Kalian semua tetap di tempat. Atau aku tembak tepat ke jantung kalian."

Mereka semua terduduk di tempat. Ketakutan terpancar dari mata mereka. Sora tak gentar. Dia akan menemukan Tsubaki, apapun caranya.

"So...ra... kalaupun kau menemukannya, dia sudah mati. Dia pantas untuk itu. Dia monster. Kau tak perlu melindunginya lagi." Seseorang wanita berbaju merah itu berusaha mendekati Sora dan merebut pistol di tangannya.

Sora mendorong wanita itu keras hingga jatuh. "Monster katamu? Bahkan kau tak tahu arti kata itu sebenarnya. Kalianlah yang monster. Menghabisi sebuah nyawa hanya karena dia berbeda dengan kalian. Cih..."

Sora memanggil anak buahnya untuk membawa semua orang yang ada di sini ke penjara bawah tanah.
Setelah semuanya dibereskan. Sora menggigil. Gemetar dasyat. Dia tak bisa melindungi Tsubaki. Padahal dia punya kekuasaan sebesar ini. Kenapa orang lain tak bisa memahami bahwa Tsubaku hanya berbeda. Bukan musuh mereka apalagi monster yang mereka pikir.

Kenapa kekuatannya tidak bisa menggapai cara berpikir mereka. Kenapa?

Soraa...
Soraa...

Sora mendengar suara seorang kecilnya. Suara anak kecil dengan banyak luka di tubuhnya tersenyum kepadanya. Tsubaki.

***

"Sora, apa kaut tidak takut padaku?"
"Kenapa harus takut?"
"Tetapi semua orang takut padaku." Tsubaki menunduk. Menyembunyikan pecahan air matanya.
Sora mengangkat tubuh Sora ke pangkuannya. "Apa sih yang harus ditakutkan dari anak kecil sepertimu. Nih..."

Sora menggelitiki pinggang Tsubaki. Hingga Tsubaki tertawa-tawa.
"Sora... sudah... gelii..."
"Tuh kan, kenapa harus takut sama anak kecil yang gampang geli."
Tsubaki kembali menundukkan kepalanya."Tetapi aku bisa mempelajari bayak hal dengan cepat. Dan memperkirakannya."
"Itu karena kau cerdas." Sora menjawab.
"Bukan itu saja. Aku bahkan bisa membaca kematian."
"Benarkah?" tanya Sora pura-pura terkejut. "Apakah kau bisa membaca kematianku?"
Tsubaki menggeleng. "Aku tidak bisa."
Sora menaikkan alis."kenapa, katanya kau bisa membaca kematian?"
Tsubaki kembali menggeleng," aku tidak tahu kapan penglihatan itu akan datang."
Sora memeluk Tsubaki.
"Dengar Tsubaki. Aku tidak takut padamu. Kau bukan monster seperti yang orang lain bilang. Kau adalah kau. Kau sendiri yang menentukan ingin menjadi manusia seperti apa. Bukan orang lain."

***

Only fiksi di tengah kerempongan kuis dan kejenuhan berbicara sendiri. Jaid lebih baik ditulis saja. :D


Comments

  1. keren kali ceritanya
    oya blognya juga sangat cantik, sudah saya follow ya

    ReplyDelete
  2. @Lisa
    haha, makasih mbak e
    iya aku folback yaaa :)

    ReplyDelete
  3. As always ceritanya selalu menarik dan dituangkan dalam pemilihan kata yang baik ^^ suka bacanya :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.

Popular posts from this blog

Ini Soal Resepsi Pernikahan

Lima Wishlist Di Tahun Dua Nol Satu Tujuh