Buku Bercerita : Ramadhan ini sangat berbeda

Marhaban Ya Ramadhan,
Selamat datang Bulan Ramadhan.

Setiap Ramadhan memiliki aroma yang berbeda. Bila tahun-tahun sebelumnya penuh dengan cuaca panas menyengat. Yang membuatku hampir melenakan diri dengan dinginnya kulkas, atau bergelung di lantai rumah yang menyejukkan setiap pori-pori kulitku. Namun Ramadhan ini pun berbeda. Beberapa hari diguyur hujan dari pagi sampai siang. Rasa lapar dan haus seperti hilang.

Ramadhan ini indah. Seindah janji Allah yang tak pernah salah. 


Tetapi keindahan itupun sedikit memberikan rasa sakit. Sakit karena kehilangan sesuatu yang disayang.
Ah~ betapa rindu ini baru terasa setelah ketiadaan.

 Ramadhan ini sangat berbeda.

Bulan suci ini memberikan sentuhan suasana yang pilu. Di mana ibuku telah menjadi seorang yatim piatu. Di mana ayahku telah menjadi yatim. Dan kami pun kehilangan ponakan yang baru berumur sekitar 7 bulan beberapa hari yang lalu. 
Innalillahi wainna ilaihi roji’un.. Semua milik Alloh SWT dan akan kembali pada-Nya.

Aku merasa sangat berbeda. Dengan ingus yang sering kali naik turun di jalur hidung. Pula rasa lelah yang sering kali menyapa.

Ramadhan ini pun menjadi awal untuk kami semua dengan suasana yang berbeda. Tidak ada lagi yang akan bertanya padaku, "Nggak sekolah?"
Padahal aku jelas-jelas sudah lulus dari tiga tahun yang lalu. Tetapi Nange (sebutan untuk bapaknya Ayahku) aku tetaplah anak sekolah berseragam. 

Kemudian saat sholat idul fitri pun aku tak berada si sana. Di sebuah kampung yang persaudaraanya begitu kental. Ke manapun aku pergi, selalu disapa. Yah, belum lagi kegiatan takbiran yang diisi dengan pembuatan ncon-ncon. Salah satu makanan favorit Mbok (Panggilanku terhadap ibunya Ibuku). Setiap lebaran makanan ini akan selalu tersaji di meja. Dan hanya ada di rumah Mbok. Makanan yang terbuat dari tepung dan kelapa parut, dibungkus di daun pisang. 

sumber gambar blognya dihapus

Yang terakhir adalah ponakanku. Anak dari saudara sepupuku. Sepupuku ini usianya setahun lebih tua dariku. Dia menikah dua tahun lalu. Dan cobaan sudah berada di pundaknya sebesar itu.

Namanya Rere ah bukan Raisya. Aku tidak tahu nama lengkapnya. Bayi mungil yang cantik. Dia meninggal karena radang paru-paru. Terakhir aku melihatnya di rumah sakit. Kuciumi kedua kakinya. Betapa rasa saki jarum infus itu juga menekanku. Dan aku berdoa agar dia segera sembuh dan tak perlu berurusan dengan rumah sakit. Aku tidak suka rumah sakit. Aku tidak suka jarum suntik. Aku tidak suka bau obat. 

Dari balik kaca ku menahan tangis. Sekecil itu sudah harus menerima cobaan seperti ini. Harus ditusuk sampai empat kali,dari kedua tangan dan kedua kaki. Arggggghhhh! Pasti sakit sekali rasanya. Dia terus menendang-nendang, tangannya mencoba menyingkirkan infus dari tangan satunyanya. Hingga harus dipegangi tangannya. Agar cairan infus tidak kembali ke botol.

Dan hari ini adalah tujuh harinya.

Sekali lagi Ramadhan ini sangat berbeda. 




Comments

  1. yang sabar ya mbak vey..
    aku turut berduka :(

    ReplyDelete
  2. kalo di daerah saya namanya doko-doko utti :D

    ReplyDelete
  3. @rahmah
    ahaha, ya namanya macam-macam yak :D
    kalau di bojonegoro namanya mendut :D

    ReplyDelete
  4. Selamat menunaikan ibadah puasa ya kak..

    Turut berduka ya atas kehilangannya.. namun percaya akan ada Ramadhan yang indah bagi Kak Vera yang berhati tulus dan ikhlas :)

    ReplyDelete
  5. Kita hanya bisa bersabar dan menyerahkan diri kepada sang Ilahi..
    kita bisa belajar bahwa hidup ini singkat dan mencoba meraih banyak pahala..
    saya ikut berbela sungkawa Ukhti..

    ReplyDelete

Post a Comment

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.

Popular posts from this blog

Ini Soal Resepsi Pernikahan

Lima Wishlist Di Tahun Dua Nol Satu Tujuh