Wednesday, July 3, 2013

Buku Bercerita : Hanya Mimpi


Sedikit lagi...
Kumohon, berikan waktu sedikit lagi
Kalaupun ini hanya mimpi
biarkanlah aku bermimpi



"Mau kemana?" tanyanya menyeledik.
Aku menangkup wajahnya, kukecup pipinya."Aku hanya akan menyusul Yuri, memastikan dia tidak bermain di jalan raya."

Aku meninggalkan wajahnya yang berkerut khawatir. Aku melihat Yuri berusaha naik ke jalan raya. Aku segera berlari menyusul  Yuri dan menggendongnya. Dia meronta-ronta. Aku segera kembali ke dalam rumah.

Setelah sampai dalam rumah, Yuri langsung kuturnkan pelan. Kaki mungilnya itu segera menjejak lantai dan berlari untuk duduk bersamanya di sofa biru. 


Aku tersenyum. Kuikuti dia. Namun perhatianku bukan pada Yuri lagi tetapi pada sosok lelaki berkaos kuning yang duduk membelakangiku. 

Kepeluk kepalanya, dan ia menyandarkan di bahuku. "Nonton konser yuk."
Alisnya teragkat, menandakan tak suka dengan ideku. "Ehem, bukan cuma aku sih, tetapi Yuri juga boleh ikut. Daripada sumpek di rumah terus. Mumpung liburan. Ya, kan?"

Evan duduk tegak."Konsernya siapa?"
"Itu lho, undangan yang kita terima kemarin. Kita datang Yuk."

Sebenarnya aku tak tahu isi undangannya tentang apa, hanya saja aku ingin pergi bersamanya.

"Ah.. undangan reuni itu. Aku malas datang."

Undangan reuni? Astaga, betapa bodohnya aku mengira itu tiket konser Super Junior. Maklum saja, Evan adalah promotor beberapa acara konser-konser Artis Korea. 

Love is a verb
It ain't a thing
It's not something you hold
It's not something you scream

Telepon Evan berbunyi. Huh, mengganggu saja! Evan berbicara di telepon dan aku beranjak untuk menggoda Yuri yang asyik bermain dengan bonek barbienya. Aku suka sekali mencubiti pipinya yang tembem. Kulitnya putih seperti Evan. Beda dengan kulitku yang sawo matang. 

Tiba-tiba pipiku serasa dicubit."Aduuuh..."
Evan tertawa, sambil mengacak rambutku dia  berkata,"sepertinya kita akan datang ke reuni sekolah."

"Pipiku sakit nih, nanti bengkak gimana?" balasku sambil merengut. Mengacuhkan kata-katanya.

"Undangannya malam ini. Siapkan bajuku juga ya. I love you," ujarnya sambil meniupkan ciuman jauh dan meninggalkanku yang masih sebal padanya.

Yuri memeluk diriku dan juga berkata hal yang sama seperti Evan." I love you too."
Mendapat kata-kata cinta dari dua orang yang paling penting dari hidupku serasa berada di surga. Hilang sudah amarahku. Huh, aku yakin, Evan dan Yuri punya sihir tertentu yang selalu membuatku meleleh.

Aku memeluk Yuri dan mencium kedua pipinya. 

***

Akhirnya hari itu tiba. Evan memakai jaket hitam dengan resleting yang dibiarkan terbuka. Menampakkan kaos putih polos yang dikenakannya. Rambutnya sudah mulai panjang. Poninya hampi rmenutupi mata sipitnya. Sedangkan Yuri kupilihkan dengan dress panjang warna oranye, ditambah topi bundar yang senada. Rambutnya yang bergelombang aku biarkan terurai.

Yuri ku gendong saja. Karena sudah banyak orang mulai datang ke sini. Aku tak ingin Yuri menghilang dari kami, ataupun terinjak orang lain.

Yuri memeluk leherku, tanda dia mulai tak nyaman dengan keadaan yang riuh di sini. Aku memengusap -usap punggungnya, berusaha menenangkannya. Lengan kiri Evan kupeluk. Aku juga tidak mau berpencar darinya. Kini giliran Evan yang mengusap - usap tanganku.

Seseorang memanggil nama Evan. Aku tak yakin aku mengenalnya. Saat dia menghampiri kami, kurasakan tatapan matanya memandangiku. Aku merasa tak nyaman. Lengan Evan semakin kucengkram. 
Sepertinya Evan mulai mengerti.

"Di, ada tempat kosong untuk kami?" tanya Evan kepada lelaki bersenyum sinis itu. Perawakannya tak terlalu tinggi. 

"Oh iya, tentu saja ada. Ayo ikut aku. Ah, aku bahkan tidak tahu kau sudah menikah,"  lanjutnya sambil melirik ke arahku.

Ah sial. Memangnya kenapa? kalau Evan sudah menikah, denganku lagi. Masalah buat lo? Tetapi kata - kata itu hanya kuucapkan dalam hati. 

"Yah, begitulah," jawab Evan singkat.

Banyak orang-orang yang berdiri saat kami mulai mendekati tempat mereka. Kupikir saat sekolah dulu, Evan adalah orang yang berpengaruh. Karena para perempua-perempuan itu mulai menatap seolah-olah Evan adalah dewa yang turun dari langit. Satu persatu dari mereka menyalami Evan dan tentu saja diriku dan Yuri juga. Tetapi Yuri tetap memeluk leherku dan menyembunyika wajahnya. 

Basa Basi, tentu saja. Evan harus terus tersenyum kepada mereka. Dan aku segera duduk, tak memedulikan Evan yang masih dikerubiti semut betina itu.

Aku membujuk Yuri untuk duduk dipangkuanku. Dia terus saja menggeleng. Aku menatap Evan dan menunjuk Yuri dengan mataku. Evan yang mengerti segera menghindar dari kerumunan itu dan menuju ke arahku.

Darrr!
Pesta kembang api di langit.

Yuri pun ikut mendongak ke atas. 

"Okasan, sore wa nan desu ka?" tanya Yuri.
"Sore wa hanabi taikaideshita." jawabku.

Dia mulai mau duduk diam di pangkuanku. Dan Evan menarik kursi untuk lebih dekat duduk denganku.
"Sora wa amai desu," kataku.

Gemerlap. Percikan warna terusa saja berubah menjadi bentuk bunga. Dengan suara yang begitu keras pula. Tetapi apakah ini cuma bayanganku saja. Langit sedikit demi sedikit lebih dekat denganku. Sampai aku tak melihat bisa melihat apapun.

Apa yang terjadi?
***

Aku membuka mata. Ku ucek-ucek mataku. Berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya yang terang benderang dari jendela kamar yang terbuka lebar.

"Tidur jam berapa semalem?"
Akumengangkat bahu. Aku masih berusaha mencerna segalanya. Ruangan yang sama seperti yang kuingat. Tak ada yang berubah. Bercat pink. Meja belajar yang berantakan dengan buku-buku. Dan di sampingku laptop masih menyala. 

Di mana Yuri? Evan?

"Mabuk korean drama ya? Nih lihat masih berserakan keping-keping vcdnya! Cepat beresin!"
Aku kembali menyusupkan kepala di bawah bantal. Semoga ketemu lagi! :D :D :D


Tebak siapa mereka??? :P






8 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. hehehe panjang lebar ternyata cuma mimpi to hohoho.. mabok korean beneran nih sepertinya...

    ReplyDelete
  3. hmmmmmmm -_-\norak ah

    selamat yak mbak,,,,
    ditunggu inboxnya.

    ReplyDelete
  4. @Febriansyah
    Salam kenal, terima kasih ya :)

    @Vanisa
    :)

    @Mas Nady
    hahaha, namanya juga 'Hanya Mimpi'

    @Kempor
    Iyaaa makasiiiih yaaaaaa :))

    ReplyDelete
  5. hahaha. korean drama alwayysss... kecanduan kayak mbak akin nih :D

    ReplyDelete
  6. :D True story? Hihihi... (y)
    Mari mabok. :v

    ReplyDelete

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.