Buku Bercerita : Boleh Memilih

Foto diambil dari facebook Rachmad Tri Sumitro
Ada dalam sebuah kitab kebijakan yang sering kudengar. Hidup adalah sebuah pilihan. Bahkan tidak memilih pun jua merupakan pilihan.

Sama seperti kita. Di antara ribuan macam cerita, kau boleh memilih Senja atau Fajar hari ini. Juga aku yang jadi pasanganmu atau bukan.



Tetapi sebentar saja, palingkan matamu kemari! Lihatlah sebuah panorama ini. Ditangkap halus oleh seorang kawan Bojonegoro, Rachmad Tri Sumitro. Awalnya aku menyangka ini adalah sebuah senja, Senja yang begitu kuagungkan namanya, warnanya, kecantikannya.

Namun ternyata aku salah. Ialah Fajar, yang mampu membiusku dengan keindahannya. Di mana aku bisa merasakan kabut membungkus tubuhku. Mendengar suara ayam bersahutan menyambut kedatangan Sang Surya.

Aku terusik, tentu saja. Karena beberapa waktu ini aku berusaha mengejarnya. Mencari sebuah aroma manis yang setiap hari ku seduh di cawan rindu dahulu. Sebuah aroma yang selalu kusingkirkan hanya untuk bisa bermimpi lebih lama lagi.

Tak bisa berpaling lagi. Yah. Aroma itu kian pekat. Kian kuat. Menyerang seluruh tubuh dan jiwaku. Menggiring kesadaranku untuknya. Untuk ikut menyapanya seperti para pejuang pangan. Gigilku pun tak jadi alasan untuk meringkuk dalam selimut. Karena aroma itu menyejukkan segalanya.

Boleh memilih. Memilih untuk menikmati aroma itu sekarang atau besok. Sayangnya, sedikit demi sedikit aroma itu telah mampu menyeretku menatap langit. Menatap cahaya jingga di pucuk timur sana.

Tidakkah kau lihat? Segalanya menjadi indah?
Ah aku yakin kau belum mau ikut menikmatinya bersamaku.

Senja masih menjadi favorit seduhan setiap harimu. Pilihan yan tak salah. Karena kita memang berbeda. Kuharap kita masih bisa bertemu dalam jejak-jejak samar warna yang sama. Coretan mega merah di tepi langit..



Comments

  1. wah, syahdu bgt kie bacanya

    terima kasih mbak untuk inspirasinya

    ReplyDelete
  2. @grey
    hihi..
    makasih-makasih juga buat fotonya :)

    ReplyDelete
  3. eheemmm.. romantis sekali ini, Vey.
    Kata orang, senja itu memang memabukkan karena keindahannya, tapi sayangnya aku selalu melewatkan senja. Dan bagiku, tengah malam dengan air mata langit itu lebih membuatku kepayang. Sayang, momen itu susah di dapat :))))

    ReplyDelete
  4. @Shinta
    hahaha... ngawur aja :D

    @Ayu
    hehe, makasih mbak..
    langit malam juga cantik kok. nanti kapan-kapan aku post tentang langit malam yang berpercikan bintang :)

    ReplyDelete
  5. bagus euy tapi jangan liat fajar ah ntar aku dibius, heheheh

    ReplyDelete
  6. fajar tetap saja indah ya, vey. jadi kangen ke pantai. padahal deket dari rumah

    ReplyDelete
  7. Kamu puitiss bangettt ^^

    Aku suka banget penggunaan bahasa kamu, suka banget tulisan ini ^^

    Cawan rindu ahayy :p

    ReplyDelete
  8. @Megi
    ahahaha, bagus loh suasana pas fajar itu Megi, coba deh :)

    @Ardy
    Hallo juga bro ^^

    @Afternoon
    Makasih yaa :)

    @Ila
    iya, cantik banget mbak... duh setiap pagi aku selalu memburu moment ini.. :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.

Popular posts from this blog

Ini Soal Resepsi Pernikahan

Lima Wishlist Di Tahun Dua Nol Satu Tujuh