Friday, June 14, 2013

Aku Adalah Aku

Tulisan ini sudah aku posting di grup Panggung Aksara Tarian Pena. Jadi di sini cuma mau mendokumentasikan lagi. Hahaha. :D



sumber di sini






"Puitis tetapi tidak pernah jatuh cinta sama dengan makan nasi tanpa minum."
Sebuah komentar yang mampir di wall facebookku. Harusnya aku mendebat, aku menyerang dia dengan seluruh jawaban yang ada di dalam kepalaku. Namun, lagi-lagi aku malas.

Benar, aku orangnya pemalas. Malas untuk memberikan argumentasi apabila pandangan seseorang terhadapku tidak berubah. Malas untuk meluruskan hal-hal tentang diriku kepada seseorang yang meremehkan diriku. Tepatnya aku malas memberikan informasi yang benar tentang diriku.

Aku adalah aku. Seperti apapun yang hendak orang lain katakan, mereka tidak benar-benar tahu siapa diriku. Sedekat apapun hubungannya dengan diriku.

Tidak, aku tidak berusaha menjelek-jelekan seseorang. Aku hanya menegaskan, bahwa aku tidak perlu repot-repot untuk membangun sebuah image agar sesuai dengan penilaian orang lain.

Mungkin saja, aku bisa berperan manis, berperan sebagai seorang teman yang baik. Namun dalam hati siapa tahu?

Dari dulu aku tak pernah peduli apa yang banyak orang katakan. Bagiku, cukuplah orangtua dan sahabatku di sisiku, itu sudah membahagiakan.

Aku tak memerlukan orang yang terus saja berusaha mengubahku sesuai dengan keinginannya. Ha? Siapa dia?

Aku terbentuk dari emosi bertahun-tahun. Memilki pandangan yang berbeda. Memilki kehidupan dan pemikiran yang berbeda.

Pernah ada seorang teman mengatakan seperti ini,
"Kenapa kamu tak pernah menunjukkan ekspresimu? Kalau sedih ya ditunjukkan lah."

Sumpah ini ngena banget. Dia tidak tahu, bahwa aku mengubur segala luka jauh dalam lubuk hati. Supaya dia bisa tenang menjalani hidup, tak perlu terganggu dengan rengekan tangisku. Biarlah segala air mata itu tertumpah dalam kesunyian. Memang begitulah diriku.

Pun aku tak pernah mau dibanding-bandingkan dengan orang lain!
Sinis? Mungkin. Aku cukup menjadi diriku sendiri. Aku bahagia menjadi diriku sendiri.
Aku menuliskan ini, karena aku ingin kalian mengerti, bahwa jangan pernah memvonis sesuatu yang tidak kalian pahami. Apalagi hal itu mengenai kehidupan pribadi.

Aku berusaha bersikap baik, karena aku memang mencari teman. Bukan permusuhan. Namun seringkali ada yang mengusik. Yah, aku tak perlu menjelaskan lagi. Aku akan membiarkan dia dengan penilaiannya terhadapku. Aku akan lebih memilih memfokuskan energi untuk kebaikan diriku. Dan tak mengganggu hidupnya.

Dan beruntunglah orang-orang yang selalu aku recokin hidupnya. Berarti dia berharga untukku. Justru aku lebih baik mengomel daripada diam. Karena itu bentuk kepedulianku. Justru yang berbahaya itu bila aku diam, bisa saja itu amarah yang terpendam. ;)

10 comments:

  1. bahwa jangan pernah memvonis sesuatu yang tidak kalian pahami. Apalagi hal itu mengenai kehidupan pribadi. >> sangat setuju sekali

    ReplyDelete
  2. Aku juga suka malas dan ya, diam atau membuat sesuatu yang baru, seolah lupa walau terkadang dongkol masih ada... tapi aku ngak mau kalaf dalam emosiku... takut malu atau menyesal dikemudian.

    Aku juga begitu, kenapa harus membagi susah jika bisa membagi kesenangan, curhat cukup pada satu orang dan tentunya pada Tuhan... terkadang kalau terlalu menunjukan... entahlah... aku ngak suka... aku paling ngak suka terlihat menyedihkan...

    ReplyDelete
  3. @Mia
    kenapa harus membagi susah jika bisa membagi kesenangan, curhat cukup pada satu orang dan tentunya pada Tuhan. >>> keren...

    Mari menjadi manusia-manusia yang kuat :D

    ReplyDelete
  4. malasnya sama, aku juga paling malas kalau diajakin berdebat tentang kehidupan pribadiku>.< dan entah aku paling nggak bisa marah sama orang lain, jadi kalau marahnya sudah di ubun-ubun, aku justru bakalan nangis sendiri, habis itu lupa kalau lagi marah dan balik ceria lagi,haha:D

    ReplyDelete
  5. @Titik
    yuhu mbak
    segala hal dibawa santai aja. Gak usah berlebihan. Hidup santai itu emang paling enak. :D

    ReplyDelete
  6. ya lebih baek mencari teman dari pada musuh. dan itu lebih sulit. sama sulitnya seperti mencari sahabat

    ReplyDelete
  7. @Rusydi
    yang penting bersikap baik untuk semuanya :)

    ReplyDelete
  8. kalo menurutku sih, vey. kalo memang lagis edih kadang kita juga butuh buat cerita sama seorang temen. mungkin buat mereka, cerita itu konyol atau gimana gitu ya, tapi sebenarnya itu melegakan. keingetan juga pas waktu itu bikin kamu nangis. kerasa lho sebenernya ada yang kamu pendam. kalo nulis pun sebenernya kita bisa mulai belajar untuk jujur dengan kondisi diri sendiri. aku kadang nulis juga soal yang menye-menye, di blog diprivat, dan itu cukup melegakan. kadang juga cerita sama temen, telpon. dengan begitu mereka juga tau kalo kita tidak sedang baik-baik saja, karena kemarahan atau kekesalan yang dipendam justru bikin kita makin menahan diri, dan waktu kemarahan itu meluap, sudah deh, langsung bener-bener gasss puolll. jadi, ya, mari seimbangkan rasa. walo mungkin ga sefrontal nulis di blog sih. bisa lewat jalur pribadi. :)

    ReplyDelete
  9. @Ila
    waaahhhhhhh
    malu >.<
    Aku ish jarang mbak nulis sesuatu yang wah di blog.wkwkwk Malu soalnya.
    Jujur pada diri sendiri ya? Ah~ ntar aku bikin postingannta sendiri. Wkwkwkw :D
    Makasih banyak ya mbaak

    ReplyDelete

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.