Buku bercerita : Selasar Labirin

Sebuah labirin mengundangku masuk. Aku ragu. Mampukah aku untuk menembus segala tipuan yang berada di dalam sana. Berkali-kali labirin menggoda dan merayuku itu mengenalnya. Untuk menjelajah tiap-tiap lorong di sana.

Diam lama aku menanti di depan gerbang labirin. Kadang dia membuka pintu dengan mudah. Kadang pula tertutup rapat. Segalanya jadi serba tidak pasti. Apakah ada yang salah dengan labirin itu? Atau ada yang salah dengan diriku hingga labirin itu kian mempersulitku untuk masuk.

Terjadilah suatu hari. Pintu itu terbuka lebar. Kulihat aroma manis madu keluar dari tubuhnya. Aku pun masuk tanpa curiga. Tanpa persiapan apapun.



Selasar demi selasar kutelursuri. Hingga aku menemukan sebuah pigura seorang bidadari. Siapakah dia? Siapakah bidadari ini?

Aku menanyakannya pada labirin. Tubuh labirin mulai berguncang. AKu tak tahu apakah ada efek tertenu terhadapnya mengenai bidadari itu.

Suara labirin menjadi serak. Dijawabnya, bahwa dulu bidadari itulah yang pertama berhasil melewati tiap selasar. Rintangan demi rintangan berhasil dia lewati. Aku terkesima dengan ceritanya. Hebat sekali bidadari itu.

"Di mana kah bidadari itu?" tanyaku penasaran.

Diam. Hening sekian menit.
"Dia pergi. Pergi jauh. Kemungkinannya sangat kecil untuk kembali kemari. Silahkan lanjutkan perjalanan."

Akhirnya aku memilih untuk tidak menanyakan pada labirin. AKu akan mencari tahu sendiri. Sudah berapa lama waktu ku ada di sini? Satu bulan dua bulan. Tidak rasanya sudah sekitar enam bulan. Setengah tahun? Lama sekali. Aku masih bertahan di sini. Ini rekor. :)

Bruk.
Aku terjatuh. Menginjak sesuatu. Patok kuburan? Hah?

Kuburan siapa? siapa yang telah mati? apakah labirin telah berbohong.
Ku bersihkan patok itu. Berharap ada sebuah petunjuk.

"Telah mati sebuah rasa yang pernah ada."



 "Apakah kau lelah?" tanya labirin.

Aku mencoba tersenyum. Aku akan menyelesaikannya.

Namun aku juga lelah. Menghadapi tiap selasar demi selasar. Kadang penuh jebakan. AKu lelah. AKu ingin berhenti. Tetapi bagaimana caranya? AKu sudah terlalu jauh melangkah. Aku tak tahu arah kembali. Bagaimana ini?

Aku meringkuk memeluk kedua lututku. Badai tangis muncul.











Comments

  1. gambar bukunya mana ???? kurang gimicknya ah

    ReplyDelete
  2. @megi
    aku nulis ini sambil ngantuk. belum diedit :D

    ReplyDelete
  3. kyknya bagus nih ;3

    I invite you to enter my giveaway to win cute bag and pretty bracelet ^^
    http://luchluchcraft.blogspot.com/2013/05/international-giveaway-dskoncom-x-luch.html

    ReplyDelete
  4. @Inge
    eh bagus darimana? Itu agak melantur.. hihihi
    oke aku meluncur yaaa

    ReplyDelete

Post a Comment

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.

Popular posts from this blog

Ini Soal Resepsi Pernikahan

Jari, Onyx Asli Bojonegoro