Surat yang tak kan pernah sampai

Assalamualaikum wr wb.,

Apa kabarnya engkau di sana, Mbok? Aku kangen Mbok. Ini surat kedua ya. Aku pernah nulis surat untuk Mbok bertahun-tahun yang lalu. Sewaktu masih tinggal di Tangerang. Dan saat itu aku masih gagap membaca juga. Tetapi Ayah, memberiku tugas untuk menulis surat kepadamu. Yang isinya kurang lebih, permintaan maaf karena Vey sekeluarga tidak bisa mudik.

Selanjutnya yang kuingat adalah kami migrasi ke Trenggalek. Aku sekolah di sana selama dua cawu. Banyak kenangan di sana yang tak bisa kulupa.


Pernah suatu pagi kau mengajakku ke pasar. Kau menggendong tolok yang isinya kacang hijau. Kita pergi menyebrangi sungai. Kemudian kau duduk di pinggir jalan dan menawarkan kacang hijau yang kau bawa itu. Setelah terjual, uang yang kau dapat kau gunakan untuk membeli telur lauk makanku. 

Mbok, perempuan yang paling sabar. Di saat mama mengomel karena ulahku. Kau pasti melindungiku.
Hihihi.

Ingat nggak Mbok? waktu musim hujan dan air sungai deras, kau menggendongku menyebrang untuk berangkat sekolah. Karena aku malas untuk memutar lewat jembatan. Kau juga pernah mengajakku ke sawah. Kemudian aku mulai membantu di sawah. Tetapi ternyata jari-jari kakiku tumbuh ruam-ruam. Sejak saat itu kau melarangku terjun ke sawah. Iya, jadi aku hanya mencari belalang atau jalan-jalan di sawah. Bahkan sampai saat inipun. Setiap liburan, aku selalu menyusuri jalanan sawah. 

Mbok, aku kangen. Setiap melihat nenek-nenek yang masih denga tangkasnya ke sana-kemari. Aku ingat dirimu. Yang di rumah sendirian. Masak sendiri. Tidur sendiri. Ah, kenapa kau keras kepala? Tak mau tinggal di rumah Budhe?

Mbok, aku tahu aku ini cucu kesayanganmu dulu. Satu-satunya cucu perempuan yang pernah tinggal lama bersamamu.

Namun saat kau sakit, aku tak pernah ada di sisimu. Bahkan saat kau pergi untuk selamanya aku juga tak ada di sana.
Mbok, sebelum kau pergi, mama sudah siap. Aku juga sering melihatnya menangis di telepon mendengar betapa rewelnya Mbok minum obat.
Suatu sore, waktu Ayah di rumah. Mama langsung mengajak Ayah ke Trenggalek. Padahal saat itu langit menghitam. Tetapi mama tetap bertekad. Akhirnya Ayah mengantar mama ke Trenggalek naik sepeda motor.

Dan kabar dukapun tiba keesokan siangnya.

Malamnya aku membujuk Veri untuk ikut ke Trenggalek. Kami berdua naik bis. 
Mbok, walaupun aku tak bisa melihatmu untuk terakhir kalinya, namun aku berharap aku ada di sana. Karena saat Mbah Ngari tiada aku baru tahu sebulan setelahnya. Itu menyakitkan.

Mbok, aku sayang padamu. 
wassalamualaikum

Comments

  1. Insya Alloh Mbok ada di tempat terbaik, Ver. Sering kirim doa, ya.. :')

    ReplyDelete
  2. @mbak Della iya, Insya allah mbak, selalu vey kirim doa ^^

    @moti iya nih, bagusan ini kan? :D

    ReplyDelete
  3. kangen Mbah Putriku. Terakhir ketemu, pas aku mau masuk SMP :'( Beliau yg suka ngongengin sebelum tidur, akhirnya aku jd suka cerita2 ...
    Terakhir ktemu Mbah Lanang2 pas TK, aku lupa wajahnya. >.<
    Moga keturunanku bisa ketemu Mbahnya smpe mereka dewasa :) Aamiin

    ReplyDelete
  4. wah.. sudah lama ya mbak...
    akhir bulan kemarin itu seratus harinya Mbok, dan empat puluh harinya Nange. :'(

    Amin Ya Rabb :))

    ReplyDelete

Post a Comment

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.

Popular posts from this blog

Ini Soal Resepsi Pernikahan

Lima Wishlist Di Tahun Dua Nol Satu Tujuh