Phoenix

Selamat siang Mbak...

Adalah rindu tak bertemu denganmu. Sudah lebih dari dua tahun ya, kau meninggalkan kami. Benar menuju kedamaian yang abadi. Melepaskan segala kehidupanmu di sini. Semua cita-citamu, semua ambisi dan impianmu.

Aku menulis surat ini di tengah aku bekerja. Ya, seperti yang kau tahu. Aku belum bisa fokus terhadap ajaranmu. Selalu meloncat ke sana-kemari. Tidak seperti kau yang bergerak lurus. Menabrak dinding keterbatasanmu. Dan bergelora di dunia maya. Aku? Masih menjadi diriku yang suka berlarian tak tentu arah.



Aku ingat pada semua pertemuan-pertemuan kita. Dari awal sampai akhirnya kau tak bersama kami lagi. Namun aku tak bisa ah bukan tak bisa tetapi tak berani menatap wajahmu untuk terakhir kalinya. Kau begitu damai di sana. Begitu tenang. Aku tak berani. Tidak berani.

Aku sudah memiliki sekitar lima antologi. Memang tergolong lambat. Tidak seperti kau, yang baru nyemplung beberapa bulan sudah mampu menjadi salah satu guru besar di WR. Aku tetap menjadi anak bawang.

Mbak, banyak hal yang berubah. Mbak Yasmin sudah memiliki seorang anak. Tidakkah kau melihat senyum bahagianya dari sana. Juga WR. Yah. Perubahan memang perlu bukan? Untuk mencapai hal yang lebih baik. Kuharap memang baik-baik saja.

WR Bojonegoro, aku tidak bisa menghandlenya. Jadi segalanya terbengkalai begitu saja. Tanpamu, kami semua seperti anak ayam yang kehilangan induknya. :(

Mbak,
rasa terima kasihku tak cukup. Mbak, telah menyeretku dengan paksa masuk di lingkaran penulis-penulis maya. Mengajarkanku banyak hal tentang dunia kepenulisan. Tentang eyd. Dan juga rasa kekeluargaan yang kental.

Aku pernah menuliskannya di sini. Tapi aku menghapusnya karena menurutku kau masih ada bersama kami. Bersama semangat yang terus kau tularkan dalam mencapai sebuah kesuksesan.

Kau tetap berjuang menulis dan melakukan hal yang bisa kau lakukan. Tanpa meminta belas kasihan orang lain. 

Phoenix tak segan membentangkan sayapnya
dengan kekuatan penuh
walaupun segala peluru telah menancap di dadanya

Tak ada air mata
Tak ada cacat pada semangatnya
Tak ada keluhan di mulutnya

Berpusat pada kebaikan hidup
sekalipun hanya berupa butiran debu


Mbak, semoga kau bahagia di sana. Aku cuma bisa mendoakanmu dari sini. Memang tak ada lagi semangka di Bojonegoro. Namun geliat menulis dan membaca semakin gencar.

Mungkin kau akan bangga dengan majalah yang kini digarap anak-anak Bojonegoro sendiri.Aku pun, masih menyimpan beberapa petuah darimu. Yang sangat bermanfaat, mengingat kesalahan yang sering kulakukan.

Mbak, You are first short story teacher for me. ^^





Comments

  1. baru tahu kalau sebelumnya kamu yg handle WR :) Kerennn >.<
    ayooo nulis lagi ^^ mulai dr curhat kayak gini, gpp kok

    ReplyDelete
  2. cuma beranggotakan lima orang mbak. Tapi nggak jalan lagi. -_-
    Aku nyemplung di komunitas lain.

    iya, curhat melulu ya.. hihihi

    ReplyDelete

Post a Comment

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.

Popular posts from this blog

Ini Soal Resepsi Pernikahan

Jari, Onyx Asli Bojonegoro