Thursday, April 11, 2013

Diam itu Mencerahkan



Bukan maksud saya akan membiarkan teman-teman semua untuk membungkam kesalahan orang lain. Hanya saja pada kasus saya ini. Saya lebih memilih diam. Ya, diam itu mencerahkan. Memberikan kesempatan pada waktu untuk menjelaskan apa yang terjadi selanjutnya. Daripada saya harus koar-koar marah-marah tidak jelas.

Benar, aneh sekali bukan? Membaca tulisan saya di blog. Bisa dibilang saya jarang memanggil diri saya sendiri dengan sebutan "saya". Tetapi pada kali ini justru postingan ini semua menggunakan saya.

Mungkin ada yang menebak bahwa saya ini menulis tergantung jenis tulisan dan mood hati saya. Anda benar. Saya jarang sekali menggunakan kata "saya". Bukan tidak pernah. Dan tulisan ini pun tak ada ajang bercanda seperti biasa. Hari ini bukan hari bercanda. Hari ini hari serius.

Beberapa hari kemarin saya juga terlibat kesalahpahaman dengan ibu saya. Yang jelas saya bungkam. Tetapi beberapa terakhir ini saya menyadari, bahwa sayalah yang salah. ^^

Mungkin kali ini juga kesalahan ada pada saya. Mungkin saya yang terlalu sensitif. Hingga membesar-besarkan masalah kecil. Apalagi kamu adalah orang yang selalu menggampangkan sesuatu. Benar bukan? Tidak apa. Tidak masalah. Itu hidupmu. Yang mungkin hanya berpengaruh sekian persen terhadap hidup saya. Tetapi tidak akan mengubah atau menghancurkan hidup saya.

Saya akan tegar. Bahkan tanpamu sekalian. Saya akan tetap berdiri tegak. Saya berharap ini hanya sementara. Karena perang bisu itu menyakitkan. Terutama untuk saya. Akan tetapi saya harus melakukan ini. Saya tak mau terlalu bergantung pada kamu. Saya tak mau hal itu terjadi. Apapun alasannya. Saya akan memutar jauh. Untuk mencari jawaban. Daripada harus meminta pertolonganmu. Walaupun saya tahu, jauh lebih mudah langsung bertanya padamu.

Hari ini saya sedikit marah. Kepadamu. Bukan berarti saya akan membencimu, walaupun nomermu telah saya hapus dari kontak hp. Namun, mudah untuk mendapatkannya kembali. Bukan karena saya menghapalnya di luar kepala. Tetapi nomermu bertebaran di mana-mana.

Saya menuliskan ini kemudian mempublikasikannya. Bisa saja kamu menganggap saya labil. Silahkan. Saya tak peduli. Saya hanya ingin membulatkan tekad untuk diam. Benar! Hanya untuk diam. Biarkan waktu yang memberikan penjelasannya.



6 comments:

  1. @megi
    karena aku gak dapat duit, tapi dapat pencerahan jadi diam itu mencerahkan. hahaha :D

    ReplyDelete
  2. kalau aku, tulis kata 'saya' kalau lg ngobrol sama yang senior :p

    ada kalanya hal disimpan dalam hati, namun ada kalanya juga dijabarkan

    ReplyDelete
  3. sama senior? tetep pakai "aku" kalau ke dosen biasanya baru "saya" tapi pakai "aku" juga donk.

    dijabarkan? ya, tetapi dengan memkiaskannya dulu baru bisa dikonsumsi orang banyak mbak. hehehe

    ReplyDelete
  4. saya lebih suka pake kata saya di blog. biar agak canggung juga, yaa dienak-enakin aja. biar rada propesional dikit. hehe

    ReplyDelete
  5. @bayu
    hehe.. kalau untuk esai aku pakai 'saya' tapi kalau untuk posting blog aku pakai 'aku/vey' :D

    ReplyDelete

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.