Buku Bercerita




Hari sama sekali tidak gelap. Kau tahu itu. Malah sebaliknya. Panas kiat menyengat. Membuatmu berkeringat. Aku pun juga demikian. Tersimpan rapat di dalam tasmu. Mendengar musik-musik yang berulang kali kau putar. Lagu faforitmu. Begitulah hari-harimu. Tanpa sepi.


Saat senja menyapa, kau mendekapku erat. Ketakutan. Aku tak mengerti. Ada apakah gerangan? Apakah yang salah? Namun aku tetap diam. Berkali-kali kau membolak balik halaman yang sama. AKu tahu kau tak ada di sini bersamaku. pIkiranmu jauh melihat dunia yang di dalamnya aku tak ada, begitu pikirku.

Air? Hujankah? Ah... rupanya itu air matamu. Kenapa? katakanlah kepadaku. Siapa yang menyakitimu? Siapakah yang mengganggumu? Mungkin aku bisa memberinya pelajaran. Namun kau tetap bungkam. Seolah segalanya baik-baik saja, Padahal aku tahu. Segalanya TIDAk baik-baik saja.
Jadi kumohon katakan padaku. Jangan menyiksaku dengan pertanyaan pertanyaan.

"Kau benar, menjadi dewasa tidaklah menyenangkan. Menjadi dewasa membutuhkan pertanggungjawaban yang besar. Yang bukan sekedar jawaban 'Ya. AKu mengerti'. Dewasa bukanlah sekedar kata-kata palsu."

Bait selanjutnya membuatku tercengang

"Aku sudah sangat lelah. Aku ingin pergi. Kabur dari tempat ini. Aku tak pernah mengingkan ini. Aku benci hidupku. Aku ingin menghilang dari tempat ini."

Kau akan kabur kemana?


"Mungkin resign dari sini. Kemudian melancong ke daerah Solo. Klaten lebih tepatnya. Mungkin mencari pekerjaan baru sampai waktu kuliah dimulai lagi. Cukup untuk menyembuhkan luka ini." 

Tidak! Kabur tidak menyelesaikan masalah, sayang. Cobalah berpikir jernih dulu. Ungkapkan segalanya. Semoga dengan begitu luka itu berkurang sakitnya.

"Aku lelah. Mungkin Tuhan memberikan hukuman padaku. Atas semua kecerobohanku. Tuhan hendak mengambil apa yang bukan hakku. Tuhan hendak mengujiku. Tuhan hendak menaikan levelku. Tetapi apakah akus anggup? Apakah aku tidak akan menangis lagi?"

Oh Tihan! Apa yag sudah terjadi? Hingga temanku ini begitu bingung terhadap hidupnya. Apakah yang bisa kulakukan untuk membantunya?

"Esok adalah hari buku. Aku tahu, buku adlaah hartaku. Namun aku merayakannya dengan cara lain. Dengan berkeluh kesah. Menumpahkan segala rasa amarah, kecewa, dendam, iri, semuanya. Agar air mata ini tak perlu mengalir sia-sia. Selamat hari buku. Maaf aku selalu membuatmu jadi tong sampahku. Menenggelamkan diri dalam cerita cinta. Namun aku belum layak mendapatkannya. ^o^"

Kau selalu saja. Bersembunyi di topeng bahagiamu. Kenapa?

*bersambung


Comments

  1. kok bersambung ?? kaya sinetron, hehhheehhe

    ReplyDelete
  2. @megi
    haha, ide bagus. aku pingin bikin senrton :v

    ReplyDelete

Post a Comment

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.

Popular posts from this blog

Ini Soal Resepsi Pernikahan

Jari, Onyx Asli Bojonegoro