Buku Bercerita : Media Sosial Bukan Diary Pribadi



Inget kan kalau dulu, diary itu berusaha untuk disembunyikan. Diberi gembok atau diselipkan antara buku-buku pelajaran. Biar tak dibaca orang lain. Biar apa yang menjadi rahasia kita tetap tersimpan di sana. Kalau sampai dibaca oleh lain bagaimana rasanya? Malu, pastinya. Iya kan?

Namun, setelah luasnya media sosial seperti ini. Semua orang dengan mudah untuk melampiaskan segala emosi di tulisan. Dan dibaca semua orang. Lantas kita dengan entengnya mengatakan bahwa itu hanya di dunia maya. Semua itu hanya tulisan.


Apakah kalian tahu? Tulisan itu juga merupakan ucapan kita yang tertulis. Ingat peribahasa Mulutmu harimaumu? Tulisan juga mampu membuat orang lain bergidik ngeri atau berdecak lidah. Yang membaca pun akan merasakan emosi dari tulisan kita.

Apalagi bila yang membaca merupakan orang yang kita kenal di dunia nyata juga. Apakah kalian juga akan menuliskan segala permasalahan yang harusnya tak perlu diungkapkan ke media?

Setelah kasus temen kemarin, aku pun ikut merenung. Apa yang telah kita ucapkan, tuliskan, lakukan segalanya akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Apakah semua itu kita gunakan untuk menyakiti orang lain atau membantu orang lain? Andalah yang tahu jawabannya.

Aku tak bermaksud menggurui. Hanya saja, ikut prihatin bila ada sahabatku yang terus saja mengeluh di fb. Hingga aku bisa mengetahui segala permasalahan yang terjadi padanya. Kemudian saling berperang di status. Apakah itu baik? Entahlah.

Aku sendiri juga sering mengeluh, sering menuliskan rasa di hatiku di fb. Seperti ini. Namun lagi-lagi aku harus bercermin. Apakah tidak ada perubahan yang lebih baik. Sedangkan kita terus saja berjalan menuju kematian. Memang benar, kematian adalah misteri. Tak ada yang tahu kapan itu terjadi. Tetapi ingat satu hal. Kita sendiri pun dalam antrian itu. Antrian menuju ajal.

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ?
Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin,
akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” -Pramoedya Ananta Toer

Baca dan resapi kata - kata Pram di atas. Bagaimanakah segala tulisan kita ini akan dikenang oleh banyak orang yang membaca. Apakah kita akan mengabadikan hal - hal buruk atau hal- hal baik? Semuanya merupakan pilihan. :)


Comments

  1. iya Vey :) buat kenang2an aja kalau aku juga pernah salah

    ReplyDelete
  2. @okta
    sip ^^

    @Arga
    buat cerminan kita di masa depan mbak, harus lebih baik lagi.. hohoho

    ReplyDelete
  3. kalo kata Mister Hermawan Kartajaya begini "manusia kalo sudah berhadapan dengan jejaring sosial itu lupa diri karena saking menikmatatinya. bahkan mereka lupa kalo itu adalah media publik."

    dari saya sih be wise aja ya mbak Ve, kadang aku juga suka labil soalnya, heheh


    ahiwww template baruuuu....

    ReplyDelete
  4. @Ayu
    huehehe
    begitulah kita. Selalu menikmati kealpaan. Hahaha.

    Ya aku kan juga suka curhat mbak, :P
    saling mengingatkan aja.
    Untuk template. Kemarin keganti, hiksss

    ReplyDelete
  5. setuju media sosial itu bukan tempatnya curhta apa lagi yang lebai2, hehehehehe

    ReplyDelete
  6. @Esti
    aiih kenapa mbak? :P
    Curhat aja.. asal jangan berlebihan :D

    ReplyDelete
  7. Seru ntar kalo dah tua kita baca baca lagi sama istri yang udah tua juga :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.

Popular posts from this blog

Ini Soal Resepsi Pernikahan

Jari, Onyx Asli Bojonegoro