Friday, March 8, 2013

Jonegoro-Jenegoro-Bojonegoro

Hola...
Kali ini aku ingin membahas tentang kota kecilku. Tetapi kali ini lebih spesifik tentang bahasanya ya. Tahu kan, kalau kita punya beragam aneka suku bangsa- bahasa-adat istiadat? (Udah tahu semua ya? :P)

Aku tinggal di kota kecil, bisa dibilang, wilayahnya luas, tapi pusat kotanya kecil. Hehehe.
Nah di sini, aku juga menemukan yang unik, Yang paling kentara yaitu bahasanya.

Aku migrasi dari Tangerang ke Bojonegoro. (Bagian sebelum Bojonegoro di cut saja :P)
Berikut ini kata-kata atau diaeleg yang khas Bojonegoro Banget deh.
"Em/Nem" Yang artinya mu/kamu.
Penggunaan :
"Em" > digunakan untuk kata yang berakhiran huruf konsonan
Contohnya / Tuladha :

 Tasem kok apik, tuku neng endi?"
artinya, Tas mu kok bagus, beli di mana?


"Opo jenenge Facebookem?"
artinya, Apa nama facebookmu?

"Nem" > digunakan untuk kata yang berakhiran huruf vokal (a,i,u,e,o)
Contoh penggunaan
"Bukunem enek piro?"
artinya, bukumu ada berapa?


"Aku nyileh sepadanem sediluk."
artinya, aku pinjem sepedamu sebentar.

Sudah bisa dipastikan kalau orang-orang yang menggunakan kata ini pastilah orang Bojonegoro. ^o^
Tetapi tidak menutup kemungkinan orang lain juga menggunakannya.

"Yunge"
Pernah dengar kata ini sebelumnya? Apa artinya coba? Yup! Artinya Yunge adalah ibu/mother/mami/mama/bunda dll.
Hanya saja untuk generasi sekarang, sangat jarang anak-anak yang memanggil ibunya dengan "Yunge". Sekarang lebih populer memanggil Buk'e/Mama.
Aku sendiri memanggil ibuku dengan "Mama" hehehe.
Tetapi aku dan memanggil nenekku dengan kata "Yunge"
Kok bisa?
Jadi kami (aku dan saudara-saudara) mengikuti ibu dan bapak kami memanggil Nenek dengan panggilan "Yunge".
Seperti kejadian tadi pagi, adikku itu keluar dari kamar mandi. Dan Yunge sedang mencarinya, karena ada sesuatu. Bertanyalah Adikku.
"Nggoleki sopo Yung?"
"Nggoleki Eyik (panggilan adikku. Nama aslinya sih Veri jadi Eyik. :D)."

Dasar ini bocah, dia malah ngeloyor pergi. -____-

Eh tetapi ada temanku dari Kunci (Nama desa ini :D) yang memanggil ibunya dengan sebutan Yung loh! Padahal udah diledek habis-habisan. Tetapi dasarnya sudah kebiasaan ya, jadi gak bisa diubah. 


"Pethil"
Artinya, Ambil.
Di Bojonegoro sendiri, ada beberapa kata yang berarti ambil. Tergantung wilayahnya.
Pethilne/pethilno/Jupukno/Jupukne.

"Jek e Mbak, aku pethilno keropak iku."
"Coba Mbak, ambilkan kotak pensil itu."


Ada dua  yang menjadi sorotan pada kalimat di atas. Pethilno dan keropak. Biasanya orang Surabaya menyebut kotak pensil sebagai tepak. Tetapi Kalau di Bojonegoro namanya Keropak. Dan Pethilno itu ada di daerah kedungadem, Kanor. Artinya "Ambilkan". Pada umumnya di bahasa jawa Jupukno. 


Masih banyak lagi lo, kata-kata khas Bojonegoro. Dan perlu diketahui teman - teman Pembolang, akan ada Kamus Bojonegoro loh...
Ini gambarnya...

Bisa di lihat di http://www.jonegoroan.com/
Bisa bergabung di @jonegoroan
Hanya saja ini kamus ini masih dalam penggarapan jadi belum bisa digunakan. :)

menurut sumber informasi, Mas Dedexz Riva Comotecyn, Proyek ini dibuat bertujuan untuk menduniakan Bojonegoro.  \^o^/
Karena melihat beberapa  mahasiswa Bojonegoro yang kuliah di luar kota, selalu merasa malu dengan logatnya. Maka untuk itulah, dia berinisiatif untuk membuat kamus Bojonegoroan. Agar kelak orang-orang Bojonegoro justru bangga dengan kekhasan dirinya. ^o^

Eh iya, ada nama tempat yang unik di Bojonegoro.
  1. Prapatan Bombok
    Ini prapatan/ Bang Jo di jalan Pangsud (Panglima Sudirman) - Diponegoro -Teuku Umar - AKBP.M.Suroko

    Tetapi banyak juga yang gak tahu nama tempat ini, termasuk yang nulis blog ini. :D
    Dan ada sebuah cerita mengenai tempat ini.
    Saat itu sebut saja Yeni akan bertemu dengan teman lamanya. Dan saat itu dia masih posisi di jalan. Temannya menyebutkan tempat lokasinya. Prapatan Bombok. Yeni pikir prapatan di depannya itu adalah Prapatan Bombok, Sebab ada Mbok-Mbok yang jualan lontong di situ. Ternyata dia salah tempat. :D
  2.  Pasar Krempyeng
    Pasar ini di sebut Krempyeng karena pasar ini hanya sesaat saja.
    Tempatnya di TPK (Tempat Pemotongan Kayu)
      
Yak, segitu dulu postingan kali ini ya. Lain kali bisa dilanjut dengan hal- hal lainnya tentang Bojonegoro.



"Postingan ini diikutsertakan di Aku Cinta Bahasa Daerah Giveaway"







9 comments:

  1. "Yunge" ... itu bahasa bojonegoro apa jepang? :D

    "aku mene nang umahem yoo?" Bener gak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. bahasa Bojonegoro. Kalau jepang "haha" untuk ibu.. :D

      yup, bener banget...
      Hihihihi

      tapi di sini jarang pakai mene, tapi "sesuk" atau "sok"

      Delete
  2. GAnya Niar lagi ini.. Kreatif juga Niar NIngrum buat GA tentang bahasa daerah, dimana-mana jadi bisa belajar bahasa daerah di Indonesia yang seabrek jumlahnya

    Btw, itu baca em/nem nya gimana?dengan 'adem' atau 'ember' ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Iya nih.. BIar kita lebih dekat dengan akar kita ^o^

      Bacanya seperti dalam kata Adem.. :)

      Delete
  3. Jadi pengen belajar bahasa jawa :)
    Niche blog

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mari, aku juga masih belajar. :D
      makasih ^_^
      (tapi blogku masih berantakan loh?) :D

      Delete
  4. Replies
    1. Yang paling jos itu kalau bisa mengaplikasikan dalam kehidupan nyata :P
      terima kasih sudah berkunjung ^_^

      Delete

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.