Tulip Di ambang kematian

Rasmita duduk di serambi depan kamar bertuliskan Anggrek. Dihisapnya rokok dalam-dalam kemudian mengepulah asap dari bibir merahnya.  Kedua matanya terpejam. Seolah dia mengabadikan moment terakhirnya bersama tembakau itu.

Sedang aku duduk di sampingnya, mengibas-kibaskan asap rokoknya dari wajahku. Lantas dia tertawa.

“Minggir sana, kalau tak mau tercemar rokokku.” Perintahnya dengan sedikit mengejek.


Banyak orang bilang dia adalah kembaranku. Aku tidak tahu apa yang mirip dari kami. Kecuali penampakan hidung mancung.

Kuambil kipas lipat dari tas tanganku kemudian kukipasi udara di depan mukaku. Berharap dia segera membuang rokoknya dengan sindiranku itu. Sepertinya dia tak peduli. Dia masih asyik menghisap rokoknya.

“Ini tembakau terbaik, kau tahu?” jelasnya dengan nada nyinyir.

Sekarang aku yang tak perduli. Bagiku rokok adalah musuh utamaku. Entah karena pengasuhan ayah yang jauh dari rokok atau memang aku tidak kuat dengan asap rokok. Yang jelas aku benci dengan benda itu.

“Bagaimana kabar ayahmu? Apa kau diajari supaya tidak menjadi wanita sepertiku?” dinaikannya kedua alisnya saat menatapku.

Aku bungkam.

Banyak hal yang ingin kutanyakan kepada wanita yang telah mengandung dan melahirkanku ini. Namun sepertinya semuanya menguap begitu saja. Aku hanya ingin bertemu dengannya. Melihat paras ayu itu untuk terakhir kalinya. Aku tak mengatakan padanya.


“Tidak. Ayah tak pernah berbicara tentang keburukanmu. Ayah selalu bilang, kau adalah ibu yang baik. Ayahlah yang salah karena tak bisa membawamu ke jalan yang lurus.” Kataku tegas. Setegas hujaman tatapanku padanya.

Ia terdiam. Kemudian tertawa terbahak. Aku merasa dia sudah tidak waras.
“Baguslah. Seperti apapun keadaanku. Dalam darahmu mengalir separuh hidupku. Kau harus tahu itu.”
Aku tidak berniat membantah. pelan-pelan kudengar laguIwan fals
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan Walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah

Aku tertawa lirih mendengar lirik lagu itu. Kontras sekali dengan keadaanku. Barangkali harfiah dari kata ibu bagiku sudah berbeda. Ibuku, saat ini sedang di rumah, mengkhawatirkanku. Aku merasa perempuan ini akan hidup lebih lama. Vonis yang dideritanya, Kanker paru-paru stadium empat tak membuatnya sedih atau putus asa. Terbukti dia masih bercinta dengan tembakau hisap itu.Kamar ini makin pucat saja, pikirku.

Comments

Popular posts from this blog

Ini Soal Resepsi Pernikahan

Lima Wishlist Di Tahun Dua Nol Satu Tujuh