Tuesday, November 6, 2012

Simponi Malakatku yang Baru

Menjadi seorang guru tentunya selalu dihubungkan dengan murid. Dan kalau guru SD pastinya dengan murid SD. Lol


Anak-anak itu istimewa. Kenapa istimewa? siapa coba yang tidak ingin mengalami masa anak-anak? Yah, pasti adalah. Banyak ketika masa kanak-kanak mereka tidak mengalami kebahagian sebagaimana mestinya. Ya ampun, jadi melantur kemana-mana.

Pernah kan ya diminta salaman? tetapi kalau dicium tangan kalian dan didoakan oleh banyak anak-anak, pernah nggak? 
Ya! pengalaman itu aku dapatkan beberapa kali. Dan akan terus terjadi selama beberapa hari ke depan. 

Saya menjadi guru magang di SDN BOGO Bojonegoro.
Tempatnya di desa Bogo Kecamatan Kapas. 


Pada hari pertama aku mulai mengajar. Ada rasa haru biru yang luar biasa. Sampai s sms ke beberapa teman dekat. 
Argghhh~ Anak-anaknya lucu sekali. 

Begitu turun dari sepeda motor, saya telah dikelilingi oleh anak-anak yang meminta salim. Eh? Salim? Dan mereka menyebut salam. “Assalamualaikum, Bu”
Saya menjawab dengan penuh rasa haru,”Wa alaikumussalam Warahmatullahi Wabarokatuh.” Dalam hati saya berdoa, smeoga mereka mendapat kebaikan dan kesuksesan dalam hidup mereka. 

Dan akhirnya panggung menjadi guru saya mulai. Awalnya saya grogi. Iyalah. Menghadapi segitu banyaknya anak-anak. Namun lama kelamaan saya menikmatinya. Bahkan saya sampai lupa waktu mereka pulang.
Beberapa anak yang berkesan di hati saya.

Vega dengan sikap yang super aktifnya selalu jalan-jalan keliling. Dan selalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi kalau saya bertanya atau meminta maju ke depan. 

Dandik sebagai ketua kelas yang lumayan cakap dalam menghadapi keramaian teman-temannya.

Tamam, berpawakan kecil , suaranya juga kecil. Tetapi tidak pernah menolak kalau diminta maju. Namun kecuekannya itu malah bikin gemes.

Seva, wajah anak ini mirip banget sama temanku SD. Gayanya yang cengengesan juga mirip.

Sinta, primadona cewek di kelas Lima ini sedikit malu-malu untuk mengungkap ide-idenya.

Abdul Malik, anak yang badannya paling besar di kelas, justru malah tidak mau jadi pemimpin. Duduknya selalu membungkuk, dan selalu menolak bila saya minta maju ke depan atau menjawab pertanyaan

Ainun, perawakannya kecil,kulitnya sawo gelap. Namun dia memiliki ketertarikan terhadap menulis. Dia suka puisi, menulis karangan. Bahkan waktu saya meminta untuk membuat karangan bebas. Dia mau membuat tentang korupsi. Karena sebelumnya saya membahas korupsi di mapel ips.

Prayoga yang selalu menjadi penyusup di bangku temannya. Tidak mau duduk di bangkunya sendiri.

Azis, anak yang menurut saya paling pintar di antara teman-temannya. Beberapa kali tes yang saya berikan. Baik lisan maupun tertulis. Dia yang nilainya paling bagus.

Menjadi seorang guru SD sangatlah sulit. Terkadang saya selalu berpikir, mau saya doktrin apa mereka? Bagaimana kalau doktrin saya salah dan berdampak negative di kehidupan mereka? Tenu saja saya akan berdosa telah menjdai seorang guru. Saya takut. Apalagi dengan kepolosan mereka.
Namun perlahan saya berusaha menghancurkan ketakutan saya.

saya hanya berusaha memberikan pemahaman hidup yang juga saya pahami. Dan saya memberikan semangat-semangat menulis seperti dunia yang saya geluti saat ini.

Hem... Walaupun begitu, saya yakin seusia mereka, mereka sudah memiliki filter yang bagus. Mereka bisa menilai ini baik atau tidaknya. Mereka juga sudah menemukan cita-cita mereka. dan berani mengungkapkannya. Bahkan dengan gambar.
Sebagian besar cita-cita anak lelaki menjadi pemain sepak bola. Ada pula yang menjadi polisi, pekerja kantoran. Dan yang perempuan menjadi guru. Selalu ya...

Waktu saya tanya, tidak ada yang berminat menjadi wartawan? Dengan serempak mereka menggelengkan kepala. Ah, cita-cita saya waktu SD juga menjadi guru, kemudian saat SMP baru berganti menjadi wartawan atau jurnalis. 

Pada waktu pelajaran Bahasa Indonesia, saya mengambil tema puisi. Saya membacakan puisinya Chairil Anwar. Dan menunjukkan salah satu koleksi buku buku puisi saya. Dan wajah terkagum terpancar dari mereka. Mungkin bagi mereka, buku masih barang yang mahal dan mewah. Dan hanya segelintir orang yang bisa membelinya. Dulu saya juga begitu. 

Saya meminta mereka membuat dan membacakan puisi di depan. Ada beberapa anak lelaki yang membuat puisi tentang ibu. Di mana-mana ibu selalu menjadi topik hangat ya. Cintanya tak pernah habis dimakan usia.

Yang pasti karena sekarang saya menjadi seorang guru. Yang merupakan orang tua kedua mereka. Saya berusaha memberikan yang terbaik yang saya bisa.
Terima kasih untuk karangannya yang bercerita tentang saya. Guru yang cantik, baik, ramah, dan menyenangkan. Hohohoho
Dan Saya juga memberikan dua majalah Atas Angin ke Vega dan Azis, karena mereka berani untuk membacakan puisinya.



Ini hanya segilintir cerita dari Malakatku yang baru. Yang hanya tiga minggu. Tetapi tidak mungkin saya lupakan. 







5 comments:

  1. saya alumni SDN BOGO :)

    ReplyDelete
  2. @Anoymous
    wahhh salam kenal..
    kok pakai anonymous sih? ;)

    ReplyDelete
  3. waw,mengingatkan saya dengan masa masa saya di SD dulu,benar benar mengharu biru :)

    ReplyDelete
  4. hahahay,gag punya semua kog :p

    ReplyDelete
  5. Ini kenapa pada pakai anonymous sih :(
    Masa aku ngobrol dengan tanpa identitas begitu.. huhuhu

    Tapi terima kasih sudah mampir ya ^_^
    semoga bermanfaat :D

    ReplyDelete

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.