Monday, October 15, 2012

Tiar dan Hujan

Tiar limbung. Pikirannya kacau. Tubuhnya terhuyung ke sana kemari. Kedua tangannya mencoba mencari pijakan. Serasa lantainya di hadapannya bergoyah. Tubuhnya penuh luka lebam Orang-orang berusaha menghindarinya. Menatapnya penuh rasa jijik. Seolah dia memiliki penyakit.

Dan akhirnya dia terjatuh di trotoar di jalan Pattimura itu.
Mendung membawaku ke hadapannya. Melihat semua kenangan yang aku intip dari balik awan tentang dirinya. Tiar. Sebuah nama dari kota tetangga.

Tubuhnya basah olehku. Tetapi dia tidak juga bangun. Aku khawatir. Tetapi aku juga tidak bisa membantunya.



***

Hujan, kemarilah
kan kupeluk dirimu sampai membeku

Tiar selalu menantiku datang. Aku tak pernah tahu kenapa begitu. Di saat sudah penat sehabis menyusuri beberapa daerah. Kudengar rintihannya kepadaku. Awalnya aku mengabaikannya. Namun semakin lama rintihan itu semakin memilukan. Menggedor dinding nuraniku. Kenapa? Kenapa harus sampai seperti itu? siapalah aku?

Aku kayuh tubuhku menumpang pada awan yang singgah di tempatku. Aku mengawasinya dari kejuahan. Tiar bersama adiknya kecilnya. Bajunya compang-camping seolah sehabis bergelut dengan dunia yang kejam.
Tiar berteriak memanggilku. Dengan tangan mungilnya dia menengadah ke langit. Memintaku membalutnya dengan deras. Tapi aku masih enggan.
Adik kecilnya itu seolah tahu aku ragu. Dia juga ikut memanggilku. Berusaha meyakinkanku, bahwa mereka benar-benar membutuhkan kehadiranku. Ah...

Seorang perempuan keluar dari rumah. Wajahnya aslinya tertutup rapat oleh beraneka kosmetik. Senyumnya terlihat tegar. Namun sorot matanya menyimpan kesedihan. Perempuan itu menggandeng adik Tiar dan setengah menyeret menuju mobil di depan rumah yang hampir ambruk itu. Tiar segera bangkit dan menangkap kaki ibunya.
Tiar memohon dan terus memohon agar jangan membawa adiknya. Meminta agar wanita itu tidak meninggalkannya. Hujan akan turun katanya. Segera.

Permepuan itu mengeraskan rahangnya. Menahan seluruh air matanya. Aku membisu mendengar perkatannya.
"Carilah hujan dan bawakan padaku. Setelah itu kau bisa mencariku. Tetapi hujan tak akan datang. Hujan tak pernah datang."

Adik kecil Tiar berteriak memanggil nama Tiar. Tiar berusaha menghadang laju perempuan itu. Tetapi seprang lelaki bertubuh gempal keluar dari mobil itu. Dia mencengkaram lengan kecil Tiar dan melemparkan Tiar hingga tersungkur.
Perempuan itu tak berpaling sedikitpun. Dia terus berjalan menuju mobil. Adik Tiar menjerit sekuat yang dia bisa. Tetapi tak ada yang berubah.

Perempuan, adik Tiar dan lelaki gempal itu pergi dengan mobil itu. Tiar masuk ke rumahnya. Dia mengayuh sepeda kecilnya mengejar laju mobil itu.

Tiar terus menggenjot pedal itu tanpa lelah. Tidak peduli apa-apa lagi. Dan ketika ada mobil dari arah berlawanan menikung tajam. Tiar pun terpental bersama sepedanya.

Tiar...Tiar...Tiar...
Aku memanggil namanya di dalam kepalaku. Memanggilnya pilu.
Sekejap tangannya bergerak. Tiar pun berusaha berdiri. Dengan tubuh seperti itu, aku yakin beberapa tulangnya patah. Dia tetap berjalan.

Dan akhirnya ia pun bertemu denganku. Di sini, di perbatasan kota.

6 comments:

  1. wowowowooooo... hiksss... ending yg mengharukan... ^_^

    ReplyDelete
  2. mahasiswa UT juga ea ?
    sippp... kreatif bangetttt... empat jempol buat kamu, oh ya jangan lupa mampir di blok saya ya...
    www.adgina.com
    www.softcreeks.com
    www.decorationideas.info

    ReplyDelete
  3. bagus blognya, bagus tulisannya :D
    kapan-kapan mampir ke blog saya juga ya, :)
    ini -->> afiifahizzah.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. yuhu~
      makasih ya...
      oke, kapan2 mampir ke blog mba...

      Delete

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.