SMS aneh

Pagi ini, aku tak berani meminta uang saku kepada kakak, karena sejak tadi kulihat dia badmood. Ibu pun begitu. Sejak tadi shubuh tak banyak bicara. Hanya menyuruh aku bangun dan mandi. Suara nyanyian kakak pada pagi ini juga lenyap. Dua orang di sini yang paling cerewet hari ini bungkam seribu bahasa. Aku tak mengerti.

"Sin, cepat berangkat. Nanti terlambat." Ibu menegurku. Karena melihat aku makan sangat lama. Sebenarnya sambil makan, aku mengawasi tindakan ibu dan kakak yang aneh. Namun jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Aku bergegas.



Tiba-tiba suara hpku berbunyi dari dalam kamar. Aku memang selalu meletakan hp di kamar kalau aku berangkat sekolah. Aku tidak pernah membawa Hp ke sekolah. Sebab tidak diperbolehkan. Pernah temanku mencoba membawanya, aduh pas paesya dia, kena razia. Dan hpnya di sita, dan harus orangtua yang mengambilnya.

Aku berjalan menuju kamar, ku sampirkan tali tas samping di bahuku. Ada nomer tak dikenal.Kartunya Simpati.
Apa kabar Sinta, sudah bayar spp belom?

Hem, mungkin teman sekelasku kali ya, Aku balas
Hem, Belom. Ini siapa?
setalah memencet tombol send, aku dikejutkan suara kakak yang memanggil.

"Sin, ini ada sms dari temenmu. Lain kali suruh sms ke nomermu sendiri ya!" disodorkannya hpnya ke aku. Kulihat isi smsnya sama dengan sms yang kuterima di hp ku.
Apa kabar Sinta, sudah bayar spp belom?

Aku langsung berpikir, aku pernah sms temen pakai noemer kakak ke siapa aja ya. Memang sih aku sering pake hp kakak untuk sms ke teman-teman. Tetapi siapa ya?

"Sinta, ini ada sms dari temenmu." Ibu memanggil dari kamarnya.

Eh, sms lagi. Jangan-jangan sms yang sama lagi. Aku berlari menuju kamar ibu, tetapi tersandung kaki kakak. Bruk!
"Sintaaa... jangan lari-lari di dalam rumah. Aduuh!"
ukh... sakit... Kakak membantuku berdiri.
"Kamu ini sudah berat. Masa minta gendong." Kakak tersenyum. Kakak tersenyum. Alhamdulillah dia bisa tersenyum sekarang. Tetapi ibu tidak.

"Ini, balesi sendiri Sin, bilang jangan sms ke nomer ibu ya."

Aku mengangguk lemah. Kulihat isi sms yang sama. Aku memeras otak. Aku memang sering pakai hp kakak. Tetapi kalau hp ibu? Kayaknya nggak pernah deh.

Aku melirik kakak dengan penuh tanya.
"Ada apa? Kamu itu hp ibu dipake juga. Padahal kakak udah sering beliin pulsa loh." Kakak menyubit pipiku yang tembem.

"Tapi kak, Sinta nggak pernah pakai hp ibu. Lagian hp ibu kan sering nggak ada pulsanya."

Kakak memandangku dengan heran. Ibu juga.

"Bener begitu Sin?" tanya ibu tidak percaya.

"Beneran ibu. Suer deh! Masa Sinta bohong." Aku mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahku ke depan dada.

"Kalau begitu, coba tanya siapa dia,Sinta. Barangkali kamu yang lupa." Kakak menengahi.

Aku mengirim sms ke nomer itu dengan hp ibu yang kupegang sejak tadi.
Setelah terkirim. Hpku berdering lagi. Tut-Tut. Ada sms masuk. Nomer itu lagi.

Q orang Kompleks Melati? oya kabar adiknya gemana?sehatkan.

Kemudian bertubi-tubi sms dari nomer itu masuk ke hp ku dan isinya seputar kegiatanku kemarin.
Kok gak dijawab sin, ibumu sehat juga kan. mudah begitu. amin.
Adik sudah berangkat sekolah belom?
Kemarin jadi halal-bihalal kemana aja?

"Kakak, Ibuk... ini lo dia sms lagi. Nih baca deh smsnya. Kok tahu kemarin aku habis halal bihalal sih?" Aku menyerahkan hpku ke ibu.
Ibu dan kakak gantian membaca. Dahi mereka mengernyit. Siapa ya? Pasti itu pertanyaan mereka. Sama aku juga.

"Jangan-jangan Pak Tro... Dia kan tahu nomermu Sin..." ibu mulai berspekulasi.
"Gak mungkin Buk, Pak Tro kan gak punya nomer kakak. Lagian apa Pak Tro tahu kalo kemarin Sinta abis halal bihalal?" Kakak membantah.

Ibu kehingan kesabaran.
"Mana hp ibu, Sin. Ibu mau telepon. Siapa sih pagi-pagi kok sudah gangguin orang."
Aku menyerahkan hp ke ibu. Kakak duduk di kursi tamu. Dia sibuk sms itu orang lagi, mungkin.

Terdengar suara ibu yang marah-marah.
"Mboh gak jelas!" Telepon diputus.

"Gimana Bu, siapa dia?" tanyaku penasaran.
"Enggak tahu. Masa jawabannya , ' Masa lupa sih' gitu. Ah gak jelas. Jadi ibu tutup deh."

Kakak berceletuk,"Nih katanya rumahnya menghadap ke barat. Dan di depan rumahnya ada pohon mangga dan sawonya. Rumah siapa itu?"
Aku berpikir. "Kak, itu rumah kita kan? Apa dia juga tahu rumah kita ya?" aku bergidik ngeri. Siapa ya, yang tahu nomer hp kami sekeluarga. Dan tahu rumah kami pula. Dan yang lebih ekstrem, dia tahu semua kegiatanku.

"Aduh, sini hpnya. Mau ibu umpat itu orang."

"Gak perlu Buk. Sudah tadi aku bilang D******. Biar tahu rasa!" Kakakku menyela.

Aku jadi teringat pernah mengalami kejadian seperti ini.
"Hem.. Ibu, Kakak, jangan-jangan yang sms ayah lagi." Aku bersuara pelan.

"Iya ya... ayah kan juga pernah ngelakuin ini."

Kami spontan tertawa terbahak-bahak. Ayah dapat sarapan pagi umpatan sama marah orang. Padahal sebelumnya aku juga mau marah, tanya melulu sih, kayak Dora.

Nomer itu menelpon ke nomer Ibu.
"Rijek aja deh, biar kapok ayahmu itu."

Gantian hp kakak yang bunyi. Ditolak juga. Kali ini giliran nomerku yang ditelepon.
"Sini biar ibu angkat. Kamu cepet berangkat sekolah. Sudah terlambat tuh. Anterin Kak, Sinta."
"Baik Bu," Kakak menjawab singkat, "Hem, Bu Bilang ayah. Kami kangen padanya."
Ibu mengangguk.
 ibu menekankan hp di telinganya.
"Halo Pak T... sedang apa di sana?"

Kulirik dari bari sudut mataku. Ibuku tertawa terpingkal-pingkal. Ah, rupanya benar Ayah.
fufufufufu

Comments

Popular posts from this blog

Ini Soal Resepsi Pernikahan

Lima Wishlist Di Tahun Dua Nol Satu Tujuh