Cerpen - Mak Tim


Mak Tim
Oleh Vera Astanti

Mak Tim tinggal di sebuah perkampungan yang lumayan padat. Rumahnya masuk ke gang. Di mana sekitar jalan raya di sana, kanan kirinya masih terhampar sawah. Mak Tim sendiri adalah seorang buruh tani. Walaupun begitu, wajahnya masih ayu, kulitnya kuning, badanya pun besar. Tak seperti kebanyakan buruh tani lainnya yang badanya kurus.

Belakang rumah Mak Tim ada sebuah kebun yang penuh dengan tanaman. Mak Tim sendiri suka melihatnya. Tomat, cabai, terong, serai, ada juga buah sawo, mangga, dan pisang. Seringpula Mak Tim suka memetiknya dengan riang.
Suatu malam Mak Tim sedang memintal tampar debog yang diambilnya dari kebun belakang rumahnya.
Terjadi percakapan suami - istri itu.

“Mak, ini gedebog mau diapakan?” Tanya sang suami heran.

“Oh, debog ini mau dibikin dalungan.” Jawab Mak Tim tanpa melihat kea rah suaminya. Pandangannya terpaku pada kulit pohon pisang yang dipintal.

“Lah yang mau beli ini dalungan siapa Mak? Payu po piye?” Tanya suaminya dengan nada menyindir.

“Yo jelas payu lah. Sampean ki kok kamseupay to Kang. Ini dalungan nanti dijual terus dapet duit buat makani perutmu sing wes jemblung.”

Kang Yos yang diolok oleh istrinya itu cuma tertawa terbahak. Kumisnya juga ikut bergetar. Dengan sayang dia mengsuap kumis tebalnya. Mak Tim tidak punya anak.

Mak Tim selain mengambil hasil panen dari kebun belakang, ia juga memunguti gedebog-gedebog yang sudah kering, diangkutnya ke rumah. Kalo yang masih basah ia jemur di halaman depan. Gedebog-gedebog itu disisiri seperti tali baru dijemur. Pekerjaan sampingan Mak Tim adalah membuat dalungan. Yaitu tali tampar yang berasal dari gedebog pisang ini.
Terdengar  suara – suara dari luar rumah yang memanggil namanya.

“Mak Tim! Jual karak nggak?”

Mak Tim yang dipanggil pun bergegas keluar rumah. Dilihatnya seorang perempuan bercapil menuntun sepeda pancal yang boncengannya terdapat dua karung yang mengapitnya.

“Berapa per kg nya Yu Nah?” Tanya Mak Tim ke perempuan itu.

“Jual ke saya aja Mak Tim, mumpung bulan puasa gini mbok beramal ke saya juga.” Pinta Yu Nah dengan wajah memelas. Keringatnya mengalir deras dari dahinya. Hingga berulang kali ia harus mengusapnya dengan lengan baju.

Mak Tim tidak enak hati… karaknya sudah ada yang memesan. Tetapi ia juga kasihan melihat Yu Nah. “Kalo dijual di Yu Nah, saya dapat uang berapa?”

Yu Nah yang wajahnya lusuh penuh keringat, karena mengayuh sepeda ontelnya keliling kampung dari pagi tadi tersenyum riang. Sorot matanya seperti anak kecil yang mendapat mainan. “Saya beli dengan harga seribu lima ratus. Piye?”

“Saya ihat dulu ya Yu Nah,” Mak Tim meninmbang-nimbang pilihannya. Tidak ada selisih harga dari tetangganya yang juga akan membeli karaknya, Haji Amin. Mak Tim tidak mau mengingkari janjinya kepada Haji Amin, namun ia juga tak tega melihat senyum dari Yu Nah hilang. Akhirnya Mak Tim berniat membagi karaknya menjadi dua.

Mak Tim beberjalan masuk rumah. Ia membagi karak yang sudah dia kumpulkan menjadi dua bagian. Masing-masing dimasukkan ke dalam karung kecil. Yang satu untuk Yu Nah. Yang satunya lagi untuk Haji Amin yang sudah meminta karaknya.

Yu Nah segera turun dari sepeda pancal kesayangannya saat melihat Mak Tim keluar rumah dengan menjinjing satu karung kecil yang pastinya berisi karak.

“Sini Mak, tak bantuin.” Yu Nah mengambil alih karung yang di bawa Mak Tim. Dengan entengnya Yu Nah menimbangnya dulu di timbangan. Yu Nah yang menaikkan ke atas seyang berisi timbangan di belakangnya. Dapat tiga kilo Mak, apa nggak ada lagi Mak?”

Yu Nah berharap dia bias mendapat lebih, karena kebanyakn orang-orang di sekitar sini sudah menjual karaknya ke Haji Amin. Toko sembako dan dia tak berani membeli dari harga sewu mangatus. Membeli di atas pasaran. Karena dia gak mau berbuat yang merugikan pedangang lain.

Diberinya Mak Tim uang seribuan empat dan satu koin lima ratus. Mak Tim menerimanya dengan senyum.“Sepurane ya Yu Nah, Cuma ada segitu. Sekarang saya Cuma masak nasi sedikit. Maklumkan pada puasa.”

“Iya Gak apa-apa Mak. ini saja saya sudah eterima kasih. Sya sudah Mak, saya mau lanjut jalan lagi. Semoga mendapat karak dari yang lainnya.” Yu Nah menerima dengan senyum lebar. Dia bersyukur masih bisa mendapat rejeki walaupun sedikit.

“Iya Yu Nah, rejeki sudah ada yang ngatur kok, makaih ya Yu..”

“Iya Mak, saya permisi dulu.”

Mak tim menganggukan kepala,“Monggo Yu,”

Yu Nah meulai mengayuh sepedanya, suaranya terus berteriak Karak! Karak!Karak tanpa kenal lelah.

Mak Tim kemabali ke rutinitasnya , memintal gedebog pisang. Mak Tim sedang berbelanja di warung menukar Karak Di Haji Amin. Beberapa ibu-ibu terus meinggir member jalan kepada Mak Tim..

“Eh, ibu-ibu tahu nggak, Mbak Rom selalu kehilangan buah-buahan di kebonnya. Katanyanya Mba Rom, buah yang sudah mau panen selalu saja hilang. Kalo pas kecil-kecil kan gak ada yang nyolong.”

“Kalong paling Bu,” sahut ibu yang lain.

 “Lah nek Klong paling satu dua biji Bu, dan selalu tersisisa di pohonnya. Ini semuanya digondol tuh maling.”

“Pinter nu ya, malingnya , sebelum diunduh yang punya, dia duluan yang ngembat.”

Mak Tim tersulut emosinya, “ Ibu-ibu nuduh saya yang mencuri ya?”

Kerumunan ibu-ibu terhenyak, tidak menyangka Mak Tim membentak mereka.

“Lho siapa yang menuduh Mak Tim…” bela mereka.

“Halah, kebunnya Mbak Rom kan juga di belakang rumahku. Aku iso tuku dewe.”

Mak Tim meninggalakan ibu-ibu itu. Dia langsung pulang.

***

Mak Tim seolah mendengar suara-suara yang tiap kali tanaman itu siap panen memanggilnya untuk memetiknya.

“Mak Tim, ayo panen kami. Kami sudah matang nih.”

Suara-suara itu terus bergema di kepalanya. Tidurnya tak pernah nyenyak. Di saat matahari masih malu-malu muncul ke panggung langit. Mak Tim sudah beranjak dari tidurnya menuju kebun belakang. Kebun yang bukan miliknya itu. Dengan sigap dia tahu buah tomat itu sudah layak panen. Dia memetiknya tanpa menyisakan satu buah pun.

“Mak, lha ini tomat dari mana? Kok akeh men…” Kang Yos mencomot dan memakannya.

Mak Tim tergagap menjawab.”Itu dikasih tetangga sebelah.”

“Dikasih Mbak Rom maksudnya?”

“Iya dikasih Mbak Rom.” Jawab Mak Tim lirih.




----
makani perutmu sing wes jemblung.” = kasih makan perut yang gendut
karak = nasi aking
kok akeh men = kok banyak sekali


Dimuat di Radar Edisi 9 September 2012

Comments

Post a Comment

Mohon tidak meninggalkan link di dalam komentar. terimakasih.

Popular posts from this blog

Ini Soal Resepsi Pernikahan

Lima Wishlist Di Tahun Dua Nol Satu Tujuh