NORMAL


"Aku ingin mati saja. bagaimana aku hidup tanpanya?" Ai meratap. kali ini matanya tak lagi mengeluarkan air mata yang mungkin telah kering. karena seringnya ia mengeluarkan beberapa hari ini. ia melempariku dengan sisir yang digenggamnya.
"Sial, kenapa kau diam saja. Aku ingin mati. cepat buat aku mati."

aku sama sekali tidak tertarik dengan khayalan bodohnya tentang ingin mati. Jadi aku diam saja. mengabaikannya. Lantas ia keluar kamar. dan begitu kembali, aku terkejut melihatnya menggenggam pisau.

"Begini lebih baik kan, aku akan mati dengan menusukkannya ke perutku. Atau mengiris nadiku sendiri, bagaimana, aku akan mati bukan?" dia menatap seolah aku harus memberika tangga penyelamat. dia mengeharapkanku untuk mencegah, mungkin. karena aku tak menanggapi segala tangisnya.

Aku beranjak dari dudukku. dan mendekatinya. tubuhnya menegang. mungkinkah ia ingin aku memeluknya. aku tersenyum geli. aku mengambil pisau itu dari tangannya dan menggores tangannya dengan pisau itu.
dia menjerit.
"Ahh... apa-apaan kau, kau ingin membunuhku?" dia tersentak mundur. darah mulai mentes dari tangannya. dia menatapku seolah aku gila.

"Bukankah itu yang kau inginkan? mati?" jawabku pendek.
BERSAMBUNG

Comments

Popular posts from this blog

Ini Soal Resepsi Pernikahan

Lima Wishlist Di Tahun Dua Nol Satu Tujuh