CABORU Sebuah catatan pemikiran tentang hidup dan perjalanan seorang perempuan yang suka kelayapan

Tuesday, August 28, 2012

NORMAL


"Aku ingin mati saja. bagaimana aku hidup tanpanya?" Ai meratap. kali ini matanya tak lagi mengeluarkan air mata yang mungkin telah kering. karena seringnya ia mengeluarkan beberapa hari ini. ia melempariku dengan sisir yang digenggamnya.
"Sial, kenapa kau diam saja. Aku ingin mati. cepat buat aku mati."

aku sama sekali tidak tertarik dengan khayalan bodohnya tentang ingin mati. Jadi aku diam saja. mengabaikannya. Lantas ia keluar kamar. dan begitu kembali, aku terkejut melihatnya menggenggam pisau.

"Begini lebih baik kan, aku akan mati dengan menusukkannya ke perutku. Atau mengiris nadiku sendiri, bagaimana, aku akan mati bukan?" dia menatap seolah aku harus memberika tangga penyelamat. dia mengeharapkanku untuk mencegah, mungkin. karena aku tak menanggapi segala tangisnya.

Aku beranjak dari dudukku. dan mendekatinya. tubuhnya menegang. mungkinkah ia ingin aku memeluknya. aku tersenyum geli. aku mengambil pisau itu dari tangannya dan menggores tangannya dengan pisau itu.
dia menjerit.
"Ahh... apa-apaan kau, kau ingin membunuhku?" dia tersentak mundur. darah mulai mentes dari tangannya. dia menatapku seolah aku gila.

"Bukankah itu yang kau inginkan? mati?" jawabku pendek.
BERSAMBUNG

Sunday, August 12, 2012

MEMBURU MOONLIGHT

minggu, 12 Oktober 2012



aku kasihan sama nih blog, gak pernah di isi :D
aku mau bikin cuplikan ah, daripada bengong.

"Aku ingin menjatuhkanmu dalam jurang, di mana tak ada satupun yang akan menolongmu. Dan dalam kesendirian dan keputusasaan kau akan mati secara perlahan." ditatapnya gadis berkulit sawo matang, memakai baju lusuh dengan penuh kebencian.

"Tidak, kakak. Aku tidak akan mati. Kau bisa saja membuangku ke dasar lautan terdalam sekalipun. Tetapi aku tidak akan mati. Karena hidupku tidak pernah bisa berada di tanganmu, kakak. Tidak akan pernah bisa." gadis itu membalas tatapannya dengan penuh senyum. Tanpa ada rasa amarah.


Sang kakak yang ditatapnya itu mulai kesal. Sangat kesal. Ia tidak menyangka dia harus berhadapan dengan gadis lemah ini. Kenapa gadis ini harus hidup. Kenapa beberapa kali percobaan pembunuhan yang dilakukannya tak mampu juga menghilangkan nyawa gadis ini.

"Dengar Kak, kalau hanya untuk menguasai seluruh tanah ini. Kau tak perlu membunuhku. Lagipula aku sudah bosan berada di sini. Buang aku ke negeri seberang. Dan kau akan menjadi raja tunggal." Gadis itu mulai berdiri. ditepisnya debu yang menempel di bajunya.

"Kau ingin mempermainkanku bukan?Mana mungkin kau lepaskan tahta ini hanya untuk memenuhi ide konyolmu membuat sebuah negera damai. Dengar, tak ada negera yang damai. yang ada adalah para penguasa saling berebut. Seperti kai dan aku."

"Itu kan kalau kau. bukan yang lain." sang gadis membantahnya dengan keras.

"Kau beruntung, aku selalu jujur kalau aku ingin menyingkarkanmu. Tetapi apa persyaratanmu supaya kau keluar dari negeri ini. Kau bukanlah anak bodoh yang akan meninggalkan negara ini dengan tangan hampa."
tangannya lelaki ini dijejalkan ke dalam saku. ia menggeram.

"Persyaratanku..." gadis itu menatap lelaki yang dipanggilnya kakak dengan tajam. sudut bibirnya membentuk garis senyum. Lalu dengan perlahan ia mendekati lelaki itu. dia membisikan persyaratannya....


*bersambung. belom nemu ide baru :D :D :D

MEMBURU MOONLIGHT