CABORU Sebuah catatan pemikiran tentang hidup dan perjalanan seorang perempuan yang suka kelayapan

Friday, October 27, 2017

Menolak Konsep Jodoh Milik tere Liye



Tadi malam, sebuah status Tere Liye dibagikan oleh teman saya. Statusnya tentang jodoh, yang pasti menurut banyak orang bagus sehingga teman saya pun ikut membagikannya.

Tetapi saya tidak setuju.

Carilah jodoh yang sedikit bicaranya, tetapi kongkret perbuatannya. Jika dia memang cinta, dia akan bekerja keras agar bisa segera menikah. Mulai punya pekerjaan yang baik, nyicil rumah, mulai nabung buat masa depan. Bukan cuma asyik dalam hubungan yang enggak jelas, mending tinggalkan, coret, cari yang serius dan kongkret.
 Tere Liye

Bagaimana kalimat yang apik kan untuk diikuti? Tetapi ada hal yang sangat fatal yang seharusnya dipertimbangkan dalam mencari jodoh. Dan itu bukan cuma soal MATERI saja.

Bukan tentang pekerjaan, bukan tentang nyicil rumah, atau menabung untuk masa depan.

Bukaaaan itu.

Hal yang paling dalam mencari jodoh adalah Kelakuan dan Cara Hidup.

Bagaimana mungkin hal itu bisa dilupakan. Yakali kita mau nikah dengan lelaki yang sudah mapan (Ada berapa banyak sih lelaki seperti ini?). Tetapi kelakukannya minus. Dalam artian suka main tangan, suka main perempuan. Serius mau dengan lelaki semacam itu. Kebutuhan akan sandang, pangan, papan terpenuhi tetapi badanmu bonyok tiap hari jadi samsak tinju, atau makan hati karena dia tak pernah di rumah. Karena kerja keras.

Semacam Baharudin dalam Tenggelamnya kapal Vanderwijk.

GUE sih OGAH

Materi bisa diusahakan. Kelakukan dan cara hidup susah diubah. Dan sedikit bicaranya? Serius nih?
Enggak semua perempuan suka dengan lelaki yang pendiam. Untuk menyamakan visi misi hidup kita harus sering bicara. Bicara bagaiamana menjalani hidup.

Sekarang lihat sekeliling kita, berapa banyak lelaki baik yang masih tertatih-tatih mencari pekerjaan, atau memiliki pekerjaan tidak tetap. Jangankan menyicil rumah, makan cukup itu sudah alhamdulillah. Lantas apakah mereka tidak berhak menikah? Atau Mereka harus menunggu sampai memiliki pekerjaan tetap? Yaks, sampai kapan? Sampai mudanya menghilang dan menjadi om-om empatpuluhan?

Tidak semua lelaki seburuntung Om Darwis. Yang karyanya dipajang di semua toko buku dan harganya mehong. Dia tinggal menanti royalti. Eh bukunya sudah tidak dicetak ulang yak? Saya belum baca satupun. Tetapi saya suka sekali menonton Film Hafalan sholat Delisa.

Bukankah itu tidak adil buat mereka. Apakah kalian lupa pada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang menjamin riski tiap-tiap makhluknya. Bahkan ketika menikah, rejeki semakin terbuka lebar. Tidak percayakah pada firman Tuhanmu?

Kemudian masalah rumah dan tetek bengeknya, apakah kita perempuan cuma menanti dan menarget si lelaki? Oh ayolah, barangkali kita juga bisa membantunya.

Karena saya percaya bahwa pernikahan adalah kesepakatan. Bagaimana hidup itu dijalani berdua, asam manisnya hidup ditanggung berdua. Dan segalanya berdua. Bukankah itu indah?

Kembali lagi kepada soal memilih jodoh. Ketika kita menemukan laki-laki yang baik, tetapi belum mapan rejekinya maka dampingilah dia dan yakinkan dia. Bahwa hakikatnya pernikahan tidak akan menutup pintu rejeki, tetapi justru membuka rejeki yang lebih lebar.

Toh sebagai perempuan dengan tingkat pendidikan yang tinggi seperti sekarang ini, saya rasa tidak ada yang berdiam saja di rumah. Tetapi mereka juga bekerja, dan tentu akan membantu keuangan rumah tangga. Tidak selalu beban rumah tangga hanya dipikul lelaki. Perempuan juga tentu bisa membantu. Lelaki dan perempuan saling melengkapi.

Sebab mencari lelaki yang baik akhlaknya dan siap diajak berumah tangga, jauh lebih sulit dibanding lelaki yang terus berjanji menikahimu ketika dia mapan.

Siap menunggu sampai dia mapan? Atau kalian memilih hidup bersama meski harus berjuang dari nol.

Its all about your choice. 

Monday, September 18, 2017

Anak Sering Diare, Waspadai Malnutrisi dan IQ Rendah

Penyakit diare atau sering dikenal dengan mencret ini memang pernah dialami oleh hampir semua orang. Bener kan? Sekarang siapa sih yang belum pernah kena sakit perut mules kemudian beberapa kali dalam sehari harus ke wc menunaikan hajat. Manalagi kotoran yang keluar itu lembek atau cair.

Masih belum jelas? Kesini aja.

Bagi orang dewasa sih, mungkin bisa makan daun jambu, atau langsung minum obat warung.  Tetapi bagaimana dengan anak-anak? Gak bisa sembarangan kan?



Wednesday, September 13, 2017

Menumpas Pemberontakan Sama Dengan Banyak Nyawa Hilang


Belasan tahun silam, pada sebuah dialog yang terdengar.

"Kenapa pemerintah melepaskan timor-timor? Tidakkah mereka lupa bahwa banyak prajurit yang tewas. Bahkan yang hidup pun banyak anggota tubuhnya yang hilang."

Sedangkan gadis belia itu menguping pembicaraan itu pun ikut bertanya-tanya kenapa. Tetapi pertanyaan itu segera hilang dari benaknya terganti dengan tugas-tugas sekolah.

Beberapa tahun lalu, pada sebuah catatan transkip wawancara dengan Reza Rahadian yang dimuat di Film Indonesia. Bj Habibie ditanyai oleh Reza mengenai lepasnya timor-timor dari pelukan Indoensia.

“I have the best reason that you cannot imagine. That's the best decision at that time, the only decision I could take. Otherwise, this nation now, done.” 


Pengibaran bendera merah putih di Wonocolo, Bojonegoro pada 17 Agustus 2016


Sebagai salah satu anak muda yang hidup jauh dari hiruk pikuk perang bom, dan kekacaukan atau tindakan kriminal lainnya. Hidup di dalam kondisi yang nyaman, dan damai. Tentunya beranggapan bahwa NKRI adalah harga mati. Cerita sejarah yang dijejalkan ke dalam benakku sejak dulu adalah mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih dengan air mata dan darah.

Semuanya yang dilakukan negara adalah mempertahankan wilayah, dengan menumpas segala macam pemberontakan. 

Menumpas pemberontakan...

Sebuah kalimat yang apik, meski tidak sesederhana itu, Banyak yang dikorbankan dalam kegiatan itu. Tidak hanya prajurit kita yang tewas. Tetapi manusia-manusia yang menginginkan kemerdekaan atas negerinya dan tentu saja warga sipil yang cinta damai juga menjadi korban atas pertumpahan darah itu.

Kita mengutuk sebuah genosida, pembunuhan masal, kekerasan seksual serta tindakan lainnya. Sebuah perang yang terjadi tidak hanya melibatkan satu pihak. Tetapi dua belah pihak, dan semuanya juga terdapat korban.

Apalagi kalau ternyata banyak korban-korban yang bergelimpungan itu hanyalah warga-warga sipil yang cinta damai. Seorang ibu yang kehilangan suami, anak. Seorang anak yang kehilangan kedua orangtuanya, seorang adik yang menanti kehadiran kakaknya dan tak pernah datang.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan seorang ayah yang harus melihat kepala putri tunggalnya ditancapkan di pagar rumahnya. (Saksi mata : kepala di pagar Da Silva, Seno Gumira Ajidarma)

Seno, penulis yang juga wartawan ini mengabadikan momen-momen ketakutan, kekejaman situasi  mencekam dalam Insiden Dili tahun 1991. Jika jurnalisme dibungkam maka sastra harus bicara, menurutnya. Iya, melalui cerpen-cerpen Seno, kita akan berpikir, ungkapan manis 'menumpas pemberontakan' tidaklah selalu penuh rasa bangga. Dan kita pun akan mempertanyakan sisi kemanusian. Pancasila kedua, kemanusian yang adil dan beradap.

Ada banyak sejarah kelam di negeri kita. Dan seringkali informasi itu lenyap karena media tidak memberitakan, atau kita yang terlalu nyaman dengan hidup kita dan tidak peduli dengan apa yang terjadi di wilayah lain di mana ketidakadilan dan kekejaman sangat kental terjadi.



Tuesday, September 5, 2017

Pencarian Yang Belum Ketemu Jawaban


Saat ini bukanlah hari yang baik untuk menerka jawaban yang tepat. Meski banyak pilihan yang terhampar itu ada. Menjadi tetap seperti ini atau mencoba peluang baru. Aku masih saja belum bisa memutuskan.

Langkahku bukan terhenti, melainkan tersandung dengan hal-hal yang kecil. Tetapi cukup membuatku jatuh dan susah untuk bangkit. Katakata pun menjadi membeku seperti hidup yang tak pernah adil. Yeah tak pernah adil.

Aku bingung untuk hal-hal yang akan kulakukan. Dan aku juga bingung bagaimana harus bergerak. Tetap di tempat atau bagaimana. Sungguh bingung.

Wednesday, May 24, 2017

Tidak Ada Yang Sempurna, Terutama Dibatasi Kuota




Dalam sebuah ruang, selalu ada namanya ukuran. Entah itu panjang, lebar maupun tinggi. Bahkan termasuk di dalamnya sebuah ruang yang dinamakan hati. Segumpal darah yang ada di dalam tubuhmu. Yang letaknya seringkali selalu disebutkan di tengah dada, padahal yang sebetulnya ada di sebelah kanan bawah dada. 

Wednesday, April 19, 2017

Lelaki No Future, Katanya



Siapa sih yang bisa menilai kualitas hidup seseorang?
Kau? Atau kita semua bisa melakukannya?

Aku bahkan tidak yakin aku bisa menilai hidupku sendiri dengan sangat baik. Katakanlah nilaiku baru 6, karena semua yang aku lakukan sama sekali belum maksimal. Lantas kenapa aku berusaha untuk menilai kualitas hidup seseorang hanya karena mereka berbeda dengan orang normal lainnya?

Lelaki no future (Baca : lelaki no futur) adalah istilah yang digunakan oleh beberapa teman lelakiku. Lelaki no future : lelaki tanpa masa depan. Karena pekerjaan mereka hanya bolak balik nongkrong di warung kopi.



Sunday, March 12, 2017

Menjadi Biasa Itu Gampang, Menjadi Berbeda Itu Menyenangkan

Tulisan ini adalah penyempurnaan status saya tempo hari ketika menanggapi sebuah curhatan seorang kawan tentang Guru yang juga pendongeng.

Sekilas informasi saja, kawanku ini memang seorang guru honorer di SD di Bojonegoro. Dan dia memiliki hobi mendongeng, bahkan dia memiliki boneka pribadi, namanya Dido. yang diperlakukannya dengan penuh kasih sayang.
 
Kemudian di statusnya itu dia menjelaskan bahwa dia memang guru, dan mendongeng adalah pasionnya. Sebab banyak pertanyaan yang ditujukan padanya, apakah dia mau jadi Guru atau menjadi pendongeng?